Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah Anda berada di tengah rapat kerja dan mendengar rekan sejawat menyampaikan data yang salah? Situasi semacam ini kerap menimbulkan dilema tersendiri. Di satu sisi, membiarkan kekeliruan menyebar dapat berdampak buruk pada hasil keputusan atau jalannya proyek. Di sisi lain, menegurnya secara langsung di depan umum berisiko merusak hubungan profesional serta mempermalukan orang tersebut.
Sensasi canggung saat hendak mengoreksi orang lain sebenarnya sangat manusiawi. Menurut Christine Harris dalam risetnya di American Scientist, rasa malu muncul dari social evaluation model, yaitu ketika seseorang merasa citra sosialnya terancam dan takut dihakimi secara negatif oleh orang lain. Bagi beberapa individu dengan harga diri yang rentan, teguran terbuka dapat memicu respons defensif yang justru menutup pintu komunikasi.
Kendati demikian, mengoreksi kekeliruan tidak harus berujung pada perselisihan atau rasa malu. Melalui pendekatan yang tepat dan berempati, Anda tetap dapat meluruskan fakta sekaligus menjaga harga diri rekan bicara Anda. Berikut adalah kumpulan cara mengoreksi informasi yang keliru tanpa mempermalukan orang lain yang dapat Anda terapkan dalam kehidupan profesional sehari-hari, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (12/10/2026).
Advertisement
1. Evaluasi Urgensi dan Dampak Kesalahan Sebelum Bertindak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5242716/original/083013200_1749039643-Sebagai_pemimpin-min__1_.jpg)
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menimbang apakah kesalahan tersebut benar-benar penting untuk dikoreksi saat itu juga. Menurut psikolog organisasi Karen Kwong dari Ren Organisational Consulting, sebelum meluruskan kekeliruan, Anda perlu memastikan fakta yang Anda miliki 100% akurat dan menyaring keterlibatan ego pribadi. Jika kekeliruan tersebut hanya masalah kecil yang tidak memengaruhi hasil akhir, seperti sedikit pergeseran angka yang tidak mengubah kesimpulan utama, terkadang membiarkannya berlalu adalah pilihan yang lebih bijak.
Namun, apabila kekeliruan data tersebut berpotensi memicu keputusan bisnis yang fatal atau merugikan pihak lain, maka tindakan korektif wajib dilakukan. Penilaian yang rasional membantu Anda fokus pada penyelesaian masalah, bukan sekadar menunjukkan bahwa Anda paling tahu di antara rekan-rekan yang lain.
Advertisement
2. Cari Waktu dan Tempat yang Privat untuk Berbicara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4448322/original/057290200_1685512127-team-having-discussion-boardroom_1_.jpg)
Rasa malu yang dialami seseorang sebagian besar dipicu oleh keberadaan penonton di sekitarnya. Oleh karena itu, hindari menegur kesalahan seseorang di depan audiens rapat atau forum publik jika tidak sangat mendesak. Mengajak rekan Anda berbicara secara empat mata (one-on-one) merupakan norma komunikasi yang jauh lebih menghargai martabat lawan bicara.
Kendati demikian, gunakan pertimbangan pragmatis Anda dalam situasi tertentu. Apabila rekan Anda akan menyampaikan data salah tersebut ke hadapan jajaran pimpinan tertinggi beberapa menit lagi, memberikan koreksi singkat secara personal sebelum rapat dimulai merupakan bentuk ikhtiar menyelamatkannya dari kecanggungan yang lebih besar.
3. Ajukan Pertanyaan Klarifikasi dengan Metode Sokratik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4713851/original/038507400_1705039437-pexels-rebrand-cities-1367276.jpg)
Alih-alih langsung menghakimi dengan kata "salah", mulailah percakapan menggunakan pertanyaan terbuka yang konstruktif. Pendekatan yang menyerupai metode Sokratik ini memberi kesempatan bagi lawan bicara untuk menjelaskan jalan pikiran mereka. Pertanyaan seperti, "Bisa bantu saya memahami bagaimana perhitungan angka ini diperoleh?" membuka ruang diskusi yang dinamis tanpa memberikan tekanan psikologis.
Teknik ini juga berfungsi sebagai mekanisme perlindungan bagi Anda sendiri untuk memvalidasi kebenaran fakta sebelum bertindak. Selain itu, fenomena psikologis false memories menunjukkan bahwa ingatan manusia dapat terdistorsi seiring berjalannya waktu. Dengan bertanya, Anda memfasilitasi lawan bicara untuk menyadari dan mengoreksi kekeliruannya sendiri tanpa merasa diserang.
Advertisement
4. Tunjukkan Bukti Konkret, Bukan Sekadar Opini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3205516/original/069042400_1597136364-photo-1552581234-26160f608093.jpg)
Mengoreksi argumen seseorang tanpa didukung data yang sahih hanya akan berujung pada perdebatan persepsi yang tidak produktif. Berdasarkan studi komunikasi organisasi, explicit negation atau penyampaian bukti nyata yang membatalkan klaim keliru merupakan metode paling efektif untuk meluruskan informasi yang salah.
Bila Anda perlu membetulkan laporan data rekan kerja, tunjukkan dokumen sumber asli atau kalkulasi matematikanya secara transparan. Ketika bukti objektif dipaparkan secara tenang, fokus pembicaraan akan beralih dari perselisihan antar-personal menuju pemecahan masalah berbasis fakta.
5. Gunakan Teknik Komunikasi Sederhana seperti 'Sandwich Method'
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3205517/original/072496400_1597136364-photo-1558403194-611308249627.jpg)
Cara menyampaikan pesan sering kali lebih menentukan dibandingkan isi pesan itu sendiri. Untuk memperhalus penyampaian pesan korektif, Anda dapat menerapkan sandwich technique, yakni mengapit inti koreksi di antara dua pernyataan positif. Awali dengan apresiasi atas usaha mereka, sampaikan koreksi secara diplomatis di tengah, lalu tutup kembali dengan dorongan atau pujian yang tulus.
Selain itu, penting untuk memperhatikan kepekaan budaya dalam tim, terutama pada lingkungan kerja global. Gaya penyampaian yang mengedepankan sikap suportif dan tidak otoriter akan meminimalkan gesekan emosional serta menjaga iklim kerja tetap kondusif.
Advertisement
6. Berikan Penawaran Bantuan untuk Memperbaiki Keadaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4877927/original/062082100_1719560550-fotor-ai-20240628144136.jpg)
Menunjukkan kesalahan orang lain lalu meninggalkan mereka begitu saja dapat merusak hubungan kerja sama secara signifikan. Sebuah studi menunjukkan bahwa semakin yakin seseorang akan kebenaran pendapatnya, semakin besar kecenderungannya untuk bersikap kompetitif ketimbang kooperatif dalam menangani konflik.
Agar tidak terkesan dominan atau kompetitif, tawarkan diri Anda untuk membantu memperbaiki kesalahan tersebut bersama-sama. Tindakan nyata ini mengalihkan iklim interaksi dari persaingan menjadi kolaborasi tim yang solid, sehingga rekan kerja Anda merasa didukung dan dihargai.
7. Tetap Terbuka terhadap Koreksi dari Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3390735/original/005844100_1614674844-photo-1568992688065-536aad8a12f6.jpg)
Proses komunikasi yang sehat harus berjalan dua arah secara seimbang. Jika Anda mengharapkan orang lain dapat menerima kritik dengan lapang dada, Anda pun harus siap menerima koreksi atas kekeliruan diri sendiri. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, dan menyadari keterbatasan diri merupakan ciri profesionalisme yang tinggi.
Saat seseorang menunjukkan kesalahan Anda, singkirkan kebiasaan bersikap defensif dan sampaikan rasa terima kasih atas masukan tersebut. Menjadikan koreksi sebagai umpan balik yang konstruktif akan membentuk budaya organisasi yang matang, transparan, dan saling mendukung.
Advertisement
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Seputar Cara Mengoreksi Informasi yang Keliru
Q:Â Mengapa penting menerapkan cara mengoreksi informasi yang keliru tanpa mempermalukan orang lain?
A: Menerapkan cara mengoreksi yang diplomatis penting untuk menjaga kesehatan mental dan rasa aman psikologis (psychological safety) di lingkungan kerja. Cara ini mencegah timbulnya sikap defensif, memperkuat kolaborasi, dan memastikan fakta akurat tetap tersampaikan tanpa merusak hubungan interpersonal.
Q:Â Kapan waktu terbaik untuk menegur kekeliruan seseorang di depan umum?
A: Peneguran di depan umum sebaiknya dihindari. Namun, jika informasi keliru tersebut berdampak langsung pada keselamatan atau dapat menyesatkan keputusan penting saat itu juga, koreksi singkat dan santun dapat dilakukan secara bijak tanpa intonasi menyalahkan.
Q:Â Bagaimana jika orang yang dikoreksi tetap bersikap defensif meski sudah disampaikan dengan sopan?
A: Jika lawan bicara tetap defensif, tetaplah tenang dan berfokus pada bukti fakta (explicit negation), bukan pada perdebatan emosi. Berikan waktu bagi mereka untuk mencerna informasi tersebut secara mandiri dan hindari memaksakan kehendak saat situasi sedang memanas.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371326/original/098310100_1791783590-cek_fakta_bonus_timnas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371262/original/060653500_1791780398-Your_paragraph_text__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371204/original/095998100_1791775708-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-12T102632.397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296249/original/006576900_1784009127-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T124739.847.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364991/original/043840000_1791090966-21523.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346092/original/000869600_1789109832-freestocks-mw6Onwg4frY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940763/original/078857600_1725937260-Ilustrasi_ngobrol__bicara__komunikasi__menyapa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4609674/original/098613000_1697188618-tim-gouw-bwki71ap-y8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4217740/original/028298600_1667819567-pexels-andrea-piacquadio-3765126_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307177/original/089506700_1784964002-2148861201.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370791/original/041801500_1791692713-aba1f281-b052-46db-b221-990f61fe8edb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356318/original/076288300_1790159443-01M36SJK5DK4H7M2Q8EPZJ877Q.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4300399/original/029813900_1674523456-medium-shot-teen-holding-smartphone_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243581/original/080215700_1749108542-side-view-businesswoman-outdoors-city-with-copy-space.jpg)