8 Tanda Lawan Bicara Ingin Mendapat Kesempatan untuk Berpendapat, Perhatikan Gesturnya Sebelum Dicap Egois

Kenali 8 tanda lawan bicara ingin berpendapat agar kamu belajar mendengarkan dan memberi kesempatan kepada orang lain.

Diterbitkan 12 Oktober 2026, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lawan bicara perlu mendapat kesempatan untuk menyampaikan pendapat, meski kita merasa memiliki banyak hal untuk dibicarakan. Terus berbicara tanpa memberi orang lain kesempatan, bisa membuat percakapan berjalan satu arah. Karena itu, belajar mendengarkan menjadi bagian penting dalam komunikasi agar setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pikiran.

Penelitian Kobin H. Kendrick, Judith Holler, dan Stephen C. Levinson berjudul Turn-taking in human face-to-face interaction is multimodal: gaze direction and manual gestures aid the coordination of turn transitions yang terbit di jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society B pada 2023 membahas peran arah pandangan dan gerakan tangan dalam pergantian giliran bicara.

Temuan tersebut kemudian menunjukkan bahwa komunikasi tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga melibatkan isyarat tubuh sebagai tanda pergantian siapa yang menyampaikan gagasan. Artinya, sudah sangat jelas bahwa sebaiknya percakapan memang dilakukan dua arah. Untuk itu, supaya kita tidak dicap egois, berikut Liputan6.com hadirkan 8 tanda yang bisa diperhatikan agar percakapan berlangsung dengan saling menghargai, Senin (12/10).

1. Mengangkat Tangan 

Mengangkat tangan ketika orang lain berbicara bisa menjadi cara seseorang meminta giliran. Gerakan ini sering muncul dalam diskusi kelompok ketika seseorang ingin menanggapi pembahasan tanpa langsung memotong kalimat pembicara.

Jika melihat gestur tersebut, jangan buru-buru mengabaikannya demi melanjutkan penjelasan sendiri. Beri kesempatan kepada orang itu untuk menyampaikan maksudnya setelah pembicaraan selesai.

Kebiasaan memberi giliran membantu setiap peserta terlibat dalam percakapan. Kita juga bisa bertanya, "Ada yang ingin kamu sampaikan?" agar orang lain mengetahui bahwa pendapatnya mendapat ruang.

2. Membuka Mulut Seolah Hendak Berbicara

Seseorang yang beberapa kali membuka mulut sebelum kembali diam mungkin sedang mencari waktu untuk menyampaikan tanggapan. Ia bisa saja menunggu sampai pembicara menyelesaikan kalimatnya agar tidak memotong pembicaraan.

Jika gerakan ini muncul berulang kali, cobalah berhenti sejenak dan perhatikan apakah ia ingin mengambil giliran. Jangan terus berbicara hanya karena merasa pembahasan belum selesai.

Kita bisa menyelesaikan satu gagasan, kemudian memberi jeda kepada orang lain. Cara ini membantu percakapan berjalan bergantian tanpa membuat seseorang harus berebut kesempatan berbicara.

3. Mengarahkan Pandangan kepada Pembicara

Arah pandangan dapat menjadi bagian dari cara seseorang mengikuti dan mengatur pergantian giliran bicara. Ketika pembicaraan mendekati akhir, seseorang mungkin memandang pembicara untuk menunjukkan bahwa ia ingin menanggapi.

Namun, kontak mata tidak selalu berarti seseorang ingin berbicara. Karena itu, perhatikan pula gerakan tangan, ucapan, dan jeda yang muncul selama percakapan berlangsung.

Jika seseorang terlihat hendak menanggapi, beri kesempatan kepadanya setelah kita selesai berbicara. Mendengarkan respons orang lain membantu kita memahami sudut pandang yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya.

4. Menggerakkan Tangan untuk Memberi Isyarat

Gerakan tangan seperti mengangkat telapak tangan atau menggerakkan jari bisa menjadi isyarat bahwa seseorang ingin menyampaikan sesuatu. Gerakan tersebut dapat muncul ketika ia menunggu pembicara menyelesaikan kalimat.

Daripada menganggapnya sebagai upaya mengambil alih pembicaraan, perhatikan situasinya. Ia mungkin ingin mengajukan pertanyaan atau menambahkan informasi yang berkaitan dengan topik.

Kita bisa merespons dengan memberi jeda dan mempersilakannya berbicara. Dengan begitu, percakapan tidak hanya berisi pendapat dari satu orang, tetapi juga memberi kesempatan kepada peserta lain untuk berpartisipasi.

5. Mencondongkan Tubuh ke Arah Pembicara

Perubahan posisi tubuh, seperti mencondongkan badan ke depan, bisa muncul ketika seseorang mengikuti pembicaraan atau bersiap memberikan tanggapan. Namun, gerakan tersebut tidak bisa digunakan sendirian untuk memastikan maksud seseorang.

Perhatikan apakah ia juga mengarahkan pandangan, menggerakkan tangan, atau mencoba berbicara ketika ada jeda. Rangkaian isyarat tersebut dapat membantu kita memahami situasi percakapan.

Jika seseorang terlihat ingin menanggapi, jangan langsung melanjutkan pembicaraan tanpa jeda. Beri ruang kepadanya untuk berbicara agar komunikasi berlangsung dengan melibatkan kedua pihak.

6. Memberikan Respons Singkat

Ucapan seperti "iya", "sebentar", atau "saya ingin menambahkan" dapat menunjukkan bahwa seseorang hendak menyampaikan tanggapan. Respons tersebut bisa menjadi cara untuk meminta giliran tanpa langsung mengambil alih pembicaraan.

Dengarkan maksud ucapannya sebelum menyimpulkan bahwa ia ingin mendominasi percakapan. Bisa jadi, ia hendak bertanya atau menjelaskan bagian yang belum sempat dibahas.

Kita juga perlu membiasakan diri melakukan hal serupa dengan cara yang tidak memotong kalimat orang lain. Sampaikan keinginan berbicara dengan sopan, lalu tunggu sampai tersedia kesempatan untuk menanggapi.

7. Beberapa Kali Mencoba Masuk ke Percakapan

Seseorang yang berulang kali mencoba berbicara lalu kembali diam mungkin belum menemukan kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Situasi ini bisa terjadi ketika satu orang terus berbicara tanpa memberi jeda.

Sebelum menilainya sebagai orang yang egois, perhatikan apakah ia berusaha menanggapi topik yang sedang dibahas. Jangan langsung menganggap setiap upaya menyela sebagai keinginan untuk menguasai percakapan.

Kita bisa menghentikan penjelasan sejenak dan bertanya, "Tadi kamu ingin mengatakan sesuatu?" Pertanyaan ini memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan maksudnya tanpa harus berebut giliran.

8. Kembali Mengangkat Poin yang Belum Dibahas

Seseorang mungkin kembali menyebut pertanyaan atau pendapat yang sebelumnya belum sempat disampaikan. Hal ini dapat terjadi ketika pembicaraan beralih ke topik lain sebelum ia memperoleh kesempatan berbicara.

Jika ia mengingatkan kembali hal tersebut, cobalah mendengarkan sebelum melanjutkan pembahasan. Bisa jadi, ia ingin memastikan bahwa pertanyaan atau penjelasannya mendapat tanggapan.

Percakapan yang melibatkan banyak orang membutuhkan kesediaan untuk berbicara sekaligus mendengarkan. Jangan memusatkan perhatian pada pendapat sendiri hingga mengabaikan kesempatan orang lain. Memberi giliran bukan berarti harus menyetujui semua pendapat, melainkan menghargai hak setiap orang untuk menyampaikan pikirannya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tanda Lawan Bicara Ingin Mendapat Kesempatan untuk Berpendapat

1. Apa tanda seseorang ingin menyampaikan pendapat?

Tandanya bisa berupa mengangkat tangan, mengarahkan pandangan kepada pembicara, memberi isyarat dengan tangan, atau mencoba berbicara ketika ada jeda.

2. Mengapa kita perlu memberi kesempatan orang lain berbicara?

Memberi giliran membantu setiap orang menyampaikan pikiran, mengajukan pertanyaan, dan menanggapi pembahasan tanpa harus berebut kesempatan.

3. Apakah menyela pembicaraan berarti egois?

Tidak selalu. Seseorang bisa menyela untuk bertanya, melengkapi kalimat, atau menanggapi informasi. Tujuan dan konteks percakapan perlu diperhatikan.

4. Bagaimana cara menghentikan kebiasaan mendominasi percakapan?

Biasakan menyelesaikan satu gagasan, memberi jeda, mendengarkan tanggapan, dan mengajukan pertanyaan kepada orang lain.

5. Bagaimana cara menghargai pendapat orang lain?

Dengarkan sampai selesai, hindari memotong kalimat, ajukan pertanyaan jika belum memahami maksudnya, dan tanggapi pendapat tanpa merendahkan orang yang menyampaikannya.