Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan menaruh handuk di atas kasur, menggantungnya di pintu, atau membiarkannya tergeletak di kursi sering dianggap sebagai persoalan rumah tangga biasa. Namun, kebiasaan tersebut juga bisa menjadi bahan untuk memahami cara seseorang mengatur rutinitas, menyelesaikan pekerjaan, dan menentukan hal yang perlu didahulukan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi sebagian orang, merapikan handuk setelah mandi merupakan bagian dari rutinitas yang tidak perlu dipikirkan. Bagi yang lain, pekerjaan itu justru sering tertunda karena ada kegiatan lain yang dianggap lebih mendesak. Perbedaan kebiasaan ini dapat menunjukkan cara seseorang mengelola waktu, membentuk rutinitas, dan menghadapi pekerjaan rumah yang dilakukan berulang kali.
Berikut ini adalah beberapa kepribadian orang yang suka menaruh handuk sembarangan yang perlu Anda pahami, dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, Minggu (11/10/2026). Meski perilaku tersebut tidak cukup untuk menentukan karakter seseorang, ada beberapa pola yang bisa diamati, mulai dari cara mengatur prioritas hingga kebiasaan menyelesaikan pekerjaan kecil.
Advertisement
1. Cenderung Menunda Pekerjaan Kecil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370792/original/056337900_1791692713-253527.jpg)
Orang yang sering membiarkan handuk tergeletak di tempat yang tidak semestinya mungkin terbiasa menunda pekerjaan yang dianggap tidak mendesak. Setelah mandi, misalnya, ia memilih melanjutkan kegiatan lain dan berencana merapikan handuk beberapa saat kemudian. Namun, rencana tersebut terkadang terlupakan hingga waktu berikutnya.
Kebiasaan ini tidak selalu berarti seseorang enggan melakukan pekerjaan rumah. Ia mungkin hanya menempatkan tugas kecil di urutan terakhir karena merasa masih ada hal lain yang perlu diselesaikan. Merapikan handuk akhirnya menjadi pekerjaan yang terus bergeser dalam daftar kegiatan hariannya.
Jika pola tersebut terjadi berulang kali, persoalannya bisa berkaitan dengan cara seseorang mengelola tugas. Pekerjaan yang membutuhkan waktu singkat tetap memerlukan perhatian agar selesai. Membiasakan diri mengembalikan handuk ke tempatnya setelah digunakan dapat menjadi langkah untuk mengurangi kebiasaan menunda.
Advertisement
2. Lebih Mengutamakan Kegiatan yang Sedang Dikerjakan
Sebagian orang menaruh handuk sembarangan karena perhatian mereka langsung beralih ke kegiatan berikutnya. Setelah mandi, mereka mungkin segera bersiap berangkat, memeriksa pesan di ponsel, atau menyiapkan kebutuhan pekerjaan. Handuk yang belum dirapikan pun tertinggal dari perhatian.
Pola ini dapat menunjukkan bahwa seseorang cenderung memusatkan perhatian pada kegiatan yang sedang dianggap perlu diselesaikan. Ia mungkin tidak bermaksud mengabaikan kerapian rumah, tetapi pikirannya sudah beralih ke urusan lain sebelum sempat menyelesaikan rutinitas sebelumnya.
Meski demikian, kebiasaan tersebut perlu dilihat bersama perilaku lainnya. Seseorang yang meninggalkan handuk karena harus segera berangkat tentu berbeda dari orang yang terus mengabaikan pekerjaan rumah. Frekuensi kejadian, alasan di baliknya, dan kebiasaan menyelesaikan tugas lain dapat membantu memberikan gambaran yang lebih utuh.
3. Belum Memiliki Rutinitas yang Teratur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370793/original/081575100_1791692713-vitaly-gariev-2NcTLdFHpH8-unsplash.jpg)
Rutinitas membantu seseorang menyelesaikan pekerjaan tanpa harus terus mengingat setiap langkah. Ketika kebiasaan setelah mandi belum terbentuk, seseorang mungkin melakukan setiap kegiatan secara terpisah. Ia selesai mandi, mengambil pakaian, lalu meninggalkan handuk tanpa memikirkan tempat penyimpanannya.
Orang dengan pola seperti ini belum tentu mengalami masalah dalam mengatur seluruh kehidupannya. Bisa jadi, ia sudah memiliki jadwal untuk bekerja atau belajar, tetapi belum memasukkan pekerjaan rumah tertentu ke dalam rutinitas. Akibatnya, tugas seperti menggantung dan mengeringkan handuk mudah terlewat.
Membentuk urutan kegiatan yang sama setiap hari dapat membantu mengubah pola tersebut. Setelah mandi, seseorang dapat membiasakan diri memeras handuk sesuai kebutuhan, menggantungnya di tempat yang memiliki sirkulasi udara, lalu melanjutkan kegiatan lain. Pengulangan membantu menjadikan langkah itu bagian dari rutinitas.
Advertisement
4. Kurang Memperhatikan Dampak Kebiasaan terhadap Orang Lain
Kebiasaan menaruh handuk sembarangan juga dapat menimbulkan persoalan ketika seseorang tinggal bersama keluarga, pasangan, atau teman sekamar. Handuk yang diletakkan di kasur, kursi, atau lantai bisa mengganggu penggunaan ruang bersama. Jika kejadian ini terus berulang, penghuni rumah lain mungkin harus membereskannya.
Dalam situasi tersebut, hal yang perlu diperhatikan bukan hanya letak handuk, melainkan cara seseorang mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Apabila ia sudah mengetahui bahwa kebiasaannya mengganggu penghuni rumah tetapi tidak berusaha memperbaikinya, perilaku itu dapat menunjukkan kurangnya perhatian terhadap pembagian tanggung jawab.
Namun, satu kejadian tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang tidak peduli terhadap orang lain. Penilaian perlu mempertimbangkan bagaimana ia merespons ketika diingatkan, apakah ia bersedia memperbaiki kebiasaan, dan apakah ia turut mengerjakan tugas rumah lainnya.
5. Menganggap Pekerjaan Rumah Bisa Dilakukan Nanti
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370794/original/095755200_1791692713-2149132976.jpg)
Ada orang yang tidak langsung merapikan handuk karena menganggap pekerjaan tersebut dapat diselesaikan kapan saja. Selama belum ada kebutuhan untuk menggunakan tempat yang sama, ia mungkin tidak merasa perlu segera memindahkan handuk. Cara berpikir ini membuat pekerjaan rumah tertentu terus tertunda.
Kebiasaan tersebut berkaitan dengan cara seseorang menentukan batas waktu untuk menyelesaikan tugas. Pekerjaan yang tidak memiliki tenggat sering ditempatkan di belakang kegiatan lain. Padahal, jika banyak tugas kecil ditunda bersamaan, pekerjaan rumah dapat menumpuk dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dibereskan.
Salah satu cara mengatasinya ialah menentukan waktu penyelesaian untuk setiap kegiatan, termasuk pekerjaan rumah yang hanya membutuhkan beberapa menit. Handuk dapat langsung digantung setelah digunakan, sedangkan pakaian kotor dimasukkan ke keranjang. Dengan begitu, tugas tidak perlu menunggu sampai seseorang memiliki waktu luang.
Advertisement
6. Terbiasa Mengandalkan Orang Lain untuk Merapikan Barang
Dalam rumah yang dihuni beberapa orang, kebiasaan meninggalkan handuk bisa terbentuk ketika ada anggota keluarga yang selalu membereskan barang-barang setelah digunakan. Tanpa disadari, seseorang mungkin terbiasa mengandalkan bantuan tersebut dan tidak lagi memikirkan langkah yang perlu dilakukan setelah mandi.
Jika berlangsung lama, pola ini dapat memengaruhi pembagian pekerjaan rumah. Orang yang meninggalkan handuk merasa urusannya sudah selesai, sedangkan orang lain harus memindahkan atau menggantungnya. Ketimpangan tersebut dapat menimbulkan rasa tidak puas apabila tidak dibicarakan bersama.
Meski begitu, kebiasaan mengandalkan orang lain tidak bisa disimpulkan hanya dari letak handuk. Perlu dilihat apakah orang tersebut juga menghindari tugas lain atau justru mengambil tanggung jawab berbeda di rumah. Pembagian pekerjaan yang disepakati bersama dapat membantu setiap penghuni memahami tugas masing-masing.
7. Belum Menyadari Pentingnya Menjaga Kebersihan Handuk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370795/original/008665200_1791692714-2148223773.jpg)
Sebagian orang mungkin lebih memperhatikan penggunaan handuk daripada cara menyimpannya setelah mandi. Mereka merasa tugas selesai ketika tubuh sudah kering, lalu meletakkan handuk di tempat terdekat. Kebiasaan ini dapat terjadi karena belum terbentuk pemahaman mengenai hubungan antara cara penyimpanan dan kebersihan handuk.
Handuk yang dibiarkan menumpuk, terlipat dalam keadaan basah, atau tergeletak di tempat yang tidak memiliki sirkulasi udara dapat lebih lama mengering. Kondisi lembap juga dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme dan memunculkan bau. Oleh sebab itu, handuk perlu digantung agar udara dapat mengalir di antara permukaannya.
Perubahan kebiasaan dapat dimulai dengan menyediakan gantungan handuk di dekat kamar mandi. Letaknya perlu mudah dijangkau dan memungkinkan handuk mengering setelah digunakan. Langkah sederhana ini membantu seseorang menjaga kebersihan perlengkapan mandi tanpa harus menambah banyak pekerjaan ke dalam rutinitas harian.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Ciri Kepribadian Orang yang Suka Menaruh Handuk Sembarangan
1. Apa arti kebiasaan menaruh handuk sembarangan?
Kebiasaan menaruh handuk sembarangan dapat berkaitan dengan rutinitas yang belum terbentuk, kebiasaan menunda pekerjaan, atau perhatian yang beralih ke kegiatan lain. Namun, perilaku tersebut tidak dapat digunakan untuk menentukan kepribadian seseorang secara keseluruhan tanpa mempertimbangkan konteksnya.
2. Apakah orang yang suka menaruh handuk sembarangan berarti malas?
Tidak selalu. Seseorang mungkin sedang terburu-buru, lupa, atau belum membentuk rutinitas untuk merapikan barang setelah digunakan. Untuk memahami penyebabnya, perhatikan apakah ia juga sering menunda tugas lain dan bagaimana ia menyelesaikan tanggung jawab sehari-hari.
3. Mengapa seseorang sering lupa menggantung handuk setelah mandi?
Seseorang bisa lupa menggantung handuk karena langsung beralih ke kegiatan lain, tidak memiliki tempat penyimpanan yang mudah dijangkau, atau belum menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari rutinitas. Membuat urutan kegiatan setelah mandi dapat membantu mengurangi kebiasaan ini.
4. Bagaimana cara mengatasi kebiasaan menaruh handuk sembarangan?
Sediakan gantungan handuk di dekat kamar mandi, lalu biasakan menggantungnya segera setelah digunakan. Hindari menaruh handuk basah di kasur, kursi, atau lantai. Jika tinggal bersama orang lain, sepakati tempat penyimpanan dan pembagian tugas agar kebiasaan tersebut tidak membebani satu pihak.
5. Apakah kebiasaan menaruh handuk sembarangan bisa menunjukkan karakter seseorang?
Kebiasaan tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai rutinitas dan cara seseorang menangani pekerjaan rumah. Namun, satu perilaku tidak cukup untuk menilai karakter seseorang. Penilaian yang lebih tepat perlu mempertimbangkan pola perilaku dalam berbagai situasi, alasan di balik tindakan, dan kesediaannya memperbaiki kebiasaan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2844337/original/009156800_1562219838-20190704-Ma_ruf-Amin-Temui-Jusuf-Kalla-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5341096/original/044527500_1757304695-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__63_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291533/original/094652600_1783567822-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T102907.971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367882/original/087695700_1791366119-Screenshot_2026-10-07_164139.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370791/original/041801500_1791692713-aba1f281-b052-46db-b221-990f61fe8edb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243581/original/080215700_1749108542-side-view-businesswoman-outdoors-city-with-copy-space.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355794/original/008600000_1790142078-01M34APTST68DGY068JSQ1K05S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358153/original/062504800_1790324456-01M3B1JTDTZJ563VW9AYZD409T.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367282/original/036075500_1791342043-Gemini_Generated_Image_5spp355spp355spp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4936366/original/066612700_1725438341-pexels-charlotte-may-5966011.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355787/original/021916700_1790142057-01M34AVCAA3EADSK3NRPHMXQJN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370257/original/019610400_1791603649-8d31d140-1b0b-4b04-87a3-d0301c173b71.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361685/original/027421700_1790744295-pexels-rakhmatsuwandi-36982111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356326/original/036230100_1790159453-01M36SM96E0FGFQEVPV3RYGJB3.jpg)