Ciri Orang yang Suka Baca Chat dari Layar Notifikasi Menurut Psikologi

Ciri orang yang suka baca chat dari layar notifikasi menurut psikologi: dari tekanan membalas, tanda terbaca, hingga FoMO, lengkap dengan temuan riset dan tips

Diterbitkan 12 Oktober 2026, 11:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 80 persen peserta riset Martin Pielot dan Luz Rello setuju bahwa mereka diharapkan membalas pesan tepat waktu. Tekanan semacam itu menjadi salah satu penjelasan psikologi kenapa sebagian orang lebih suka membaca chat langsung dari layar notifikasi, tanpa membuka obrolannya.

Kamu mungkin juga begitu. Pesan masuk, cuplikannya muncul di layar kunci, dibaca sekilas, lalu ponsel diletakkan lagi. Kebiasaan sekecil ini ternyata punya banyak lapisan, dan panggungnya luas: DataReportal mencatat 230 juta pengguna internet di Indonesia, atau 80,5 persen penduduk, pada akhir 2025. Angka dari Pielot dan Rello tadi, seperti dikutip dari laman arXiv pada Senin (12/10/2026), berasal dari studi yang meminta peserta menjalani 24 jam tanpa notifikasi.

Satu catatan dulu. Ciri-ciri di bawah ini tidak bersumber dari satu studi khusus tentang kebiasaan mengintip pratinjau notifikasi, melainkan disusun dari riset soal notifikasi, tanda terbaca, dan fear of missing out (FoMO). Anggap saja sebagai kecenderungan umum, bukan penilaian kepribadian.

6 Ciri Orang yang Suka Baca Chat dari Layar Notifikasi

1. Penasaran isi pesan, tapi belum siap membalas

Layar notifikasi itu seperti jendela kecil: isi pesan kelihatan, tapi kita belum harus masuk ke dalam obrolan. Buat orang yang merasa pesan yang sudah dibuka wajib langsung dijawab, cara ini terasa jauh lebih ringan. Dalam riset Pielot dan Rello terhadap 30 sukarelawan berusia 19 sampai 56 tahun, 80 persen setuju bahwa mereka diharapkan membalas tepat waktu. Sekitar sepertiga wawancara bahkan menyebut ekspektasi sosial sebagai kekhawatiran utama. Dengan membaca dulu, ada waktu untuk memutuskan kapan dan bagaimana menjawab.

2. Peka dengan tanda terbaca

Pernah gelisah menunggu balasan padahal pesanmu sudah dibaca? Kamu tidak sendirian. Studi Shogo Kato dan rekan terhadap 213 mahasiswi di Jepang menemukan bahwa emosi negatif muncul lebih cepat ketika menunggu balasan atas pesan yang sudah terbaca dibandingkan pesan yang belum. Kajian James Lynden dan Teis Rasmussen juga mengaitkan fitur tanda terbaca dengan kecemasan, strategi menghindar, dan kebiasaan lebih sering mengecek aplikasi. Wajar kalau sebagian orang memilih berhati-hati agar pesan tidak tampak sudah dilihat sebelum ia siap menjawab.

3. Takut ketinggalan kabar

Andrew Przybylski dan koleganya mendefinisikan FoMO sebagai kekhawatiran bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman berharga tanpa kehadiran kita, lalu muncul dorongan untuk selalu tahu apa yang sedang terjadi. Dalam penelitian pada 2.079 orang dewasa di Inggris, FoMO berkaitan dengan keterlibatan yang lebih tinggi di media sosial. Layar notifikasi jadi jalan pintas: tetap terhubung tanpa harus ikut terlibat penuh di setiap percakapan.

4. Sering melirik ponsel saat menunggu pesan

Pada studi Pielot dan Rello, 40 persen peserta mengaku sering memeriksa ponsel ketika mengantisipasi pesan dari orang lain. Ketika notifikasi dimatikan selama 24 jam, 12 dari 30 peserta justru mengecek perangkat lebih sering dari biasanya, dan 9 orang mengaku cemas melewatkan informasi penting atau mendesak. Artinya, notifikasi bisa berfungsi bukan hanya sebagai pemberitahuan, tapi juga penenang rasa khawatir.

5. Gampang teralihkan oleh notifikasi

Notifikasi mengganggu perhatian bahkan saat tidak dibuka. Cary Stothart dan tim dari Florida State University meminta 166 mahasiswa mengerjakan tugas perhatian berkelanjutan. Peserta yang ponselnya menerima panggilan atau pesan lebih banyak membuat kesalahan, dan peluang salah bagi yang menerima pesan disebut tiga kali lipat dibanding yang tidak. Pada eksperimen dua minggu terhadap 221 mahasiswa, Kostadin Kushlev dan tim menemukan gejala kurang fokus dan hiperaktif lebih tinggi di minggu ketika notifikasi dinyalakan.

6. Menganggap chat itu penting, jadi perlu disaring

Dalam riset Pielot dan Rello, aplikasi pesan menjadi sumber notifikasi terbesar dan dianggap peserta paling penting untuk dipertahankan. Pesan yang terlewat pun tercatat memicu konflik dengan teman dan pasangan. Jadi membaca dari layar notifikasi bisa menjadi cara menyaring: mana yang perlu dijawab sekarang, mana yang boleh menunggu.

Ringkasan Ciri dan Dasar Risetnya

CIRI PENJELASAN PSIKOLOGI DASAR RISET
 
Penasaran tapi belum siap membalas Tekanan ekspektasi membalas tepat waktu Pielot dan Rello (2017): 80 persen dari 30 peserta merasa diharapkan membalas tepat waktu
Peka dengan tanda terbaca Menunggu balasan terasa lebih negatif setelah pesan terbaca Kato dkk. (2018): 213 mahasiswi Jepang
Takut ketinggalan kabar Fear of missing out (FoMO) Przybylski dkk. (2013): 2.079 orang dewasa di Inggris
Sering melirik ponsel saat menunggu pesan Antisipasi dan kecemasan melewatkan informasi Pielot dan Rello (2017): 40 persen sering mengecek; 12 dari 30 lebih sering mengecek tanpa notifikasi
Gampang teralihkan notifikasi Gangguan perhatian dari pemberitahuan Stothart dkk. (2015): 166 mahasiswa; Kushlev dkk. (2016): 221 mahasiswa
Menyaring chat yang penting Pesan dinilai bernilai tinggi secara sosial Pielot dan Rello (2017): aplikasi pesan dianggap notifikasi terpenting

Apakah Kebiasaan Ini Perlu Dikhawatirkan?

Santai dulu, tidak otomatis. Membaca pratinjau notifikasi bukan diagnosis, dan para peneliti notifikasi pun berhati-hati soal ini. Tim Kushlev menegaskan bahwa temuan mereka tidak berarti ponsel menyebabkan ADHD, karena ADHD punya penyebab biologis dan lingkungan yang kompleks.

Yang layak diperhatikan adalah dampaknya. Kalau kebiasaan memeriksa layar mulai mengganggu fokus kerja, tidur, atau hubungan dengan orang terdekat, mungkin sudah waktunya mengatur ulang pola pakai ponsel. Sebagai gambaran, setelah 24 jam tanpa notifikasi, 22 dari 30 peserta Pielot dan Rello berniat mematikan sebagian notifikasi atau lebih sering memakai mode jangan ganggu. Dua tahun kemudian, 13 dari 22 orang itu benar-benar melakukannya.

Pertanyaan Seputar Kebiasaan Membaca Chat dari Notifikasi

- Apakah membaca chat dari notifikasi menandakan kepribadian tertentu?

Riset tentang notifikasi lebih banyak membahas dampaknya pada perhatian dan perasaan, bukan jenis kepribadian. Jadi kebiasaan ini lebih pas dipahami sebagai kecenderungan perilaku yang dipengaruhi tekanan membalas, rasa takut ketinggalan kabar, dan cara seseorang mengatur waktunya.

- Apa itu FoMO dan apa hubungannya dengan notifikasi?

FoMO adalah kekhawatiran bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman berharga tanpa kita, menurut definisi Przybylski dan koleganya pada 2013. Dalam penelitian pada 2.079 orang dewasa di Inggris, FoMO berkaitan dengan keterlibatan yang lebih tinggi di media sosial. Notifikasi menjadi pintu cepat untuk memastikan tidak ada kabar yang terlewat.

- Apakah notifikasi tetap mengganggu fokus kalau tidak dibuka?

Ya. Dalam studi Stothart dan rekan pada 166 mahasiswa, peserta yang ponselnya menerima pesan lebih banyak salah dalam tugas perhatian walaupun tidak mengecek atau membalas, dengan peluang salah tiga kali lipat dibanding yang tidak menerima pesan.

- Apakah mematikan notifikasi bikin cemas?

Bagi sebagian orang, ya. Pada studi Pielot dan Rello, 9 dari 30 peserta cemas melewatkan informasi penting atau mendesak saat notifikasi dimatikan selama 24 jam. Meski begitu, 22 dari 30 peserta kemudian berniat mematikan sebagian notifikasi, dan 13 dari mereka masih menjalankannya dua tahun berselang.

- Kenapa menunggu balasan pesan yang sudah terbaca terasa lebih menyebalkan?

Studi Kato dan rekan pada 213 mahasiswi di Jepang menemukan emosi negatif muncul dalam waktu yang secara signifikan lebih singkat ketika pesan sudah terbaca dibanding belum terbaca. Tanda terbaca bisa memberi kesan bahwa penerima sudah tahu isi pesan, sehingga balasan yang telat lebih mudah dimaknai sebagai diabaikan.

Temuan di atas berupa kecenderungan umum dari riset pada kelompok tertentu, bukan diagnosis. Kalau kebiasaan memeriksa ponsel sudah mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan jiwa.