Liputan6.com, Jakarta Mitos yang beredar di masyarakat seringkali menyebutkan bahwa cicak sangat beracun dan dapat menyebabkan bahaya serius, bahkan kematian, jika bersentuhan dengan makanan. Klaim bahwa kulit cicak lebih berbahaya dari bisa ular pun kerap terdengar dan menimbulkan kekhawatiran.
Secara ilmiah, cicak (gecko) tidak menghasilkan atau menyuntikkan racun yang berbahaya bagi manusia. Kekhawatiran utama terkait keberadaan cicak di sekitar makanan atau di dalam rumah bukanlah karena racun yang mereka hasilkan, melainkan dari potensi penyebaran bakteri dan patogen.
Liputan6Â akan mengupas tuntas fakta ilmiah di balik mitos tersebut, menjelaskan bahaya sebenarnya yang ditimbulkan cicak, serta memberikan panduan lengkap mengenai pencegahan dan penanganan kontaminasi makanan. Simak ulasan lengkapnya sebagai berikut, Selasa (25/11/2025).
Advertisement
Mitos dan Fakta Ilmiah tentang Racun Cicak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4667291/original/060510700_1701233203-freak-tailed-maltese-wall-lizard.jpg)
Cicak rumah (Hemidactylus frenatus) dan jenis cicak umum lainnya yang sering kita jumpai tidak memiliki kelenjar racun atau bisa (venom) yang dapat membahayakan manusia. Mereka juga tidak menghasilkan zat beracun (poisonous) pada kulit atau tubuh mereka yang dapat menyebabkan keracunan jika disentuh.
Di dunia, hanya ada beberapa spesies kadal yang diketahui berbisa, seperti Gila Monster dan Mexican Beaded Lizard, yang tidak umum ditemukan di lingkungan rumah tangga Indonesia. Gigitan cicak, meskipun mungkin terjadi jika merasa terancam, umumnya tidak beracun dan tidak cukup kuat untuk menembus kulit manusia secara signifikan.
Penelitian dan ahli biologi secara konsisten menegaskan bahwa cicak tidak agresif terhadap manusia dan tidak berbisa. Mitos tentang kulit cicak yang lebih berbahaya dari bisa ular adalah informasi yang keliru. Fokus perhatian seharusnya dialihkan pada aspek kebersihan dan potensi penyebaran penyakit.
Advertisement
Bahaya Sebenarnya, Pembawa Bakteri dan Patogen
Meskipun tidak beracun, cicak dapat menjadi pembawa dan penyebar berbagai bakteri serta parasit berbahaya. Bakteri yang paling sering dikaitkan dengan cicak adalah Salmonella dan Escherichia coli (E. coli). Bakteri Salmonella umumnya ditemukan di usus, mulut, dan kotoran cicak, serta pada sebagian besar hewan reptil.
Penelitian telah mengkonfirmasi keberadaan Salmonella pada permukaan tubuh cicak. Kotoran cicak juga dapat mengandung bakteri E. coli dan berbagai jenis bakteri lainnya yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Selain itu, cicak juga berpotensi membawa parasit tertentu yang dapat menular ke manusia, menambah daftar risiko non-racun yang perlu diwaspadai.
Kebiasaan cicak membuang kotoran sembarangan, seringkali di area yang tidak terduga seperti langit-langit, dinding, atau rak tinggi, menjadi sumber kontaminasi utama. Kotoran ini, meskipun kecil, dapat jatuh dan mencemari makanan, peralatan makan, atau permukaan dapur. Jika tidak dibersihkan, bakteri dapat menyebar ke peralatan makan maupun bahan makanan, menciptakan lingkungan yang tidak higienis.
Risiko Kesehatan Akibat Kontaminasi Makanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5284040/original/035626900_1752573544-rrrc.jpg)
Jika cicak menyentuh makanan atau kotorannya jatuh ke makanan, risiko kontaminasi bakteri sangat tinggi. Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk keracunan makanan, diare, demam, mual, muntah, dan kram perut. Infeksi ini bisa menjadi serius, terutama bagi anak-anak di bawah 5 tahun, lansia, atau individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Bahkan jika makanan yang terkontaminasi dipanaskan kembali, toksin yang dihasilkan oleh bakteri mungkin tetap bertahan dan berpotensi berbahaya. Kontak tidak langsung, seperti menyentuh area dapur yang pernah dilewati cicak tanpa mencuci tangan, juga dapat memicu penularan bakteri. Potensi penyebaran penyakit melalui air liur cicak juga ada, di mana bekas cicak menjilat sisa makanan atau minuman dapat meningkatkan risiko kontaminasi.
Selain masalah pencernaan, ada juga laporan yang menyebutkan bahwa sisa air liur cicak yang terhirup dapat menyebabkan infeksi pada paru-paru dan gangguan pernapasan, seperti kesulitan bernapas atau napas pendek. Oleh karena itu, penting untuk selalu menjaga kebersihan dan berhati-hati terhadap makanan yang mungkin telah terkontaminasi.
Advertisement
Langkah Pencegahan dan Penanganan Kontaminasi Cicak
Apabila makanan tidak sengaja tersentuh cicak atau terkontaminasi kotorannya, sangat disarankan untuk segera membuang makanan tersebut. Meskipun cicak tidak beracun, risiko kontaminasi bakteri patogen terlalu tinggi untuk diabaikan, dan pemanasan tidak selalu menghilangkan semua toksin berbahaya.
Untuk mencegah kontaminasi dan menjaga kebersihan lingkungan, beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan:
- Menutup Makanan: Selalu simpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup atau di lemari untuk mencegah cicak atau hama lain mengkontaminasinya.
- Menjaga Kebersihan Dapur: Pastikan area dapur dan ruang makan selalu bersih. Bersihkan sisa makanan dan tumpahan dengan segera, serta hindari adanya remah atau genangan air yang menarik cicak.
- Mengurangi Serangga: Cicak tertarik pada serangga sebagai sumber makanan. Dengan mengurangi populasi serangga (lalat, semut, nyamuk) di rumah, Anda juga akan mengurangi daya tarik rumah bagi cicak.
- Menutup Celah dan Akses: Tutup semua celah atau lubang yang bisa menjadi jalur masuk atau tempat persembunyian cicak di dinding, plafon, atau sekitar pipa.
- Mencuci Tangan: Selalu cuci tangan setelah membersihkan kotoran cicak atau menyentuh area yang sering dilalui cicak untuk mencegah penyebaran bakteri.
- Penanganan Kotoran Cicak: Kotoran cicak yang dibiarkan menumpuk dapat menjadi sumber penyakit berkelanjutan. Bakteri di dalamnya dapat berkembang biak dan menyebar melalui udara, debu, atau kontak, sehingga harus segera dibersihkan.
Meskipun cicak dapat membantu mengendalikan serangga di rumah, penting untuk memprioritaskan kebersihan dan keamanan makanan untuk melindungi kesehatan keluarga. Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan ini, risiko kontaminasi dapat diminimalisir secara signifikan.
People Also Ask
1. Apakah cicak beracun jika tidak sengaja menyentuh makanan?
Jawaban: Cicak tidak beracun dalam artian menghasilkan atau menyuntikkan racun. Namun, mereka dapat membawa bakteri berbahaya seperti Salmonella dan E. coli yang bisa mencemari makanan.
2. Apa bahaya sebenarnya jika cicak menyentuh makanan?
Jawaban: Bahaya utamanya adalah kontaminasi bakteri dari tubuh atau kotoran cicak. Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan keracunan makanan, diare, mual, dan masalah pencernaan lainnya.
3. Apa yang harus dilakukan jika makanan terkontaminasi cicak?
Jawaban: Jika makanan atau minuman terkena cicak atau kotorannya, sangat disarankan untuk segera membuang makanan tersebut untuk menghindari risiko kesehatan.
4. Bagaimana cara mencegah cicak mengkontaminasi makanan di rumah?
Jawaban: Untuk mencegah kontaminasi, simpan makanan dalam wadah tertutup, jaga kebersihan dapur, kurangi populasi serangga, tutup celah di rumah, dan selalu cuci tangan setelah membersihkan area yang dilewati cicak.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3835760/original/050425800_1640739830-IMG-20211228-WA0174.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5344257/original/055252700_1757482470-WhatsApp_Image_2025-09-10_at_11.23.02.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287484/original/056615100_1783229292-bansos_pkh_bpnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287416/original/074940600_1783225116-cek_fakta_sandiaga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2593228/original/008517700_1546693457-20180105-Cicak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257144/original/052940400_1781226984-javier-aguirre.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258343/original/056341300_1781336647-063_2281311201.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287245/original/018106300_1783200103-ma8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287948/original/075704800_1783254081-AP26185782516118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287278/original/006462200_1783206952-pra7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5245839/original/084355000_1749414399-lamine_yamal_bernardo_silva_portugal_spanyol_UNL_090625_ap_michael_probst.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264240/original/068596200_1782101163-tunisia.jpg)