Tradisi Mendak yang Tidak Luntur di Abad 20

Globalisasi tidak menggoyahkan tradisi masyarakat Dusun Geger, Desa Girirejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Mereka tetap melestarikan salah satu tradisi nenek moyangnya yaitu mendak.

Diterbitkan 08 Januari 2013, 13:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Citizen6, Magelang: Era globalisasi yang semakin lama menggerus khazanah kebudayaan, terutama bidang keagamaan tidak sedikit pun menggoyahkan sebagian besar masyarakat Dusun Geger, Desa Girirejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Mereka masih bersemangat dalam nguri-uri (melestarikan) tradisi yang telah diturunkan oleh nenek moyang mereka, salah satunya bernama tradisi mendak.

Mendak adalah suatu rangkaian kegiatan pasca kematian dari salah satu anggota keluarga. Rangkaian kegiatan itu diawali dengan acara mitung dina (tujuh hari), matang puluh dina (empat puluh hari), dan nyatus (seratus hari), baru kemudian mendak pertama (satu tahun).

Mendak tidak hanya dilakukan di tahun pertama saja, akan tetapi di tahun keduanya pun dilaksanakan mendak kedua. Lalu di tahun ketiga acara mendak dilaksanakan pada malam hari yang disebut nyewu. Nyewu dalam bahasa Jawa berarti seribu, yang artinya sudah seribu hari berlalu pasca-kematian.

"Sebenarnya isi dari kegiatan mitung dina sampai nyewu itu sama, yaitu berdoa kepada Allah agar seseorang yang sudah tiada itu diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya dan khusnul khotimah," ungkap salah satu pemuka kampung, Ahmad Bisri.

Melalui tahlil dan bacaan surat Yasin yang biasa dipimpin oleh salah satu pemuka, masyarakat ikut mendoakan anggota keluarga yang sudah tiada di rumahnya. Esensi lain dari tradisi ini adalah dzikrul maut, yaitu ingat pada kematian, karena setiap orang akan menemuinya entah kapan waktunya. Diharapkan dari tradisi mendak, masyarakat ingat kematian selalu mengintai, sehingga harus banyak berbuat kebajikan dan meninggalkan kejahatan.

Selain memiliki nilai religius, tradisi ini juga dapat membuat hubungan masyarakat semakin dekat. Biasanya pada acara peringatan mendak itu disajikan makanan yang dibuat bersama-sama oleh para ibu. Semua ibu akan turun tangan untuk memasak walau tanpa diberi imbalan. Hal ini terjadi pada acara mendak pertama Ibu Aspiyah yang dilaksanakan oleh keluarga anak dan cucunya, pada Kamis 27 Desember 2012.

Masyarakat Geger RT 1 RW 4 bersama-sama memperingati wafatnya Ibu Aspiyah melalui mendak pertama tersebut. Kaum wanita membantu membuatkan makanan kecil dan besar, sedangkan kaum laki-lakinya mempersiapkan tempat dan membaca tahlil serta doa. Di sinilah keunikan tradisi ini, menyampaikan nilai secara lembut tapi mengena tepat pada sasarannya.

Masyarakat Dusun Geger menganggap tradisi mendak masih sangat perlu untuk dilestarikan, karena mengandung nilai-nilai yang kian lama kian terkikis oleh zaman. Dampak jangka panjang dari tradisi ini adalah kebersamaan yang masih sangat kental antara warga yang satu dengan yang lainnya.

Warga Dusun Geger telah membuktikannya. Kegiatan bersama yang mereka buat selalu sukses. Karena warganya tumbuh menjadi sangat peduli dengan nilai kekeluargaan dan kebersamaan.

Dari sini, sedikit banyak kita perlu mencontoh warga Geger agar kearifan itu tidak luntur, karena sebenarnya setiap khazanah kebudayaan itu mengajarkan nilai-nilai kebaikan. (Dewi Luqmania/Mar)