Sukses

Sejarah Singkat Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Liputan6.com, Jakarta - Tepat hari ini, Selasa (20/11/2018), umat muslim di seluruh dunia merayakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam (SAW). Untuk merayakannya, setiap negara memiliki tradisi masing-masing yang sangat unik. 

Namun, mungkin belum banyak yang tahu mengenai sejarah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung tiap tahunnya.

Jadi, sekitar 1.400 tahun lalu, sosok bayi yang mulia lahir ke dunia. Sang Ayah, Abdullah bin Abdul Muthalib, menamai putra yang dilahirkan sang istri, Aminah, itu Muhammad. Lahirnya bayi yang kemudian menjadi Nabi ini merupakan momentum yang disambut penuh keceriaan oleh umat Islam sedunia. Mereka pun memperingatan hari Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara masing-masing.

Umat Islam sempat bingung mengenai hukum memperingati hari lahirnya Nabi. Penyebabnya, Rasulullah sendiri maupun para sahabat tidak pernah mencontohkan peringatan ini. Ditambah lagi, awal mula dilaksanakannya peringatan ini untuk pertama kalinya juga masih simpang siu. Bahkan ada banyak versi mengenai peringatan ini.

Naskah tertua mengenai peringatan Maulid Nabi adalah karya Jamaluddin Ibn Al Ma'mun, putra Al Ma'mun Ibn Bata'ihi, yang pernah menduduki posisi Perdana Menteri pada Dinasti Fatimiyah.

Karya tersebut dikutip oleh Al Maqrizi dalam kitabnya, Mawa'iz Al I'tibar fi Khitat Misr Wa Al Amsar. Tetapi, catatan Al Maqrizi menyebut peringatan Maulid Nabi diselenggarakan pada tanggal 13 Rabiul Awal.

Saat itu, khalifah Dinasti Fatimiyah menggelar peringatan Maulid Nabi dengan membagikan 6.000 dirham, 40 piring kue, gula-gula, caramel, madu, dan minyak wijen. Tidak ketinggalan 400 liter manisan dan 100 liter roti.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Digelar pada12 atau 13 Rabi'ul Awal oleh pemerintah

Peringatan itu kemudian selalu digelar pada12 atau 13 Rabi'ul Awal oleh pemerintah. Biasanya diisi ceramah, pembacaan ayat suci Alquran, serta pemberian hadiah.

Saat Dinasti Fatimiyah runtuh oleh gempuran Shalahuddin Al Ayyubi, tokoh utama Dinasti Ayyubiyah yang beraliran Sunni, tetap mengadakan peringatan Maulid. Peringatan ini dianggap sebagai wadah paling efektif dalam menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW dan Islam. Selain itu, juga membangkitkan semangat jihad pasukan Islam.

Catatan lain menyebut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga digelar pada masa Dinasti Ayyubiyah di abad 10 Masehi. Tujuannya untuk memicu semangat mencontoh pribadi Nabi. Kala itu, kondisi umat sedang terpuruk lantaran gempuran Pasukan Salib. Semangat tempur pasukan Islam pun melemah.

Shalahuddin sebagai sultan sekaligus panglima perang menggembleng kembali semangat Pasukan Islam untuk bertempur melawan Pasukan Salib. Saat itulah Maulid Nabi dianggap sebagai tonggak kebangkitan umat Islam kala itu.

Hingga saat ini di banyak negara, termasuk Indonesia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tradisi unik yang berbeda. Di Indonesia sendiri, biasanya masyarakat khususnya di Kediri memiliki ritual berebut uang koin yang dilaksanakan di dalam masjid.

 

Reporter:

Ahmad Baiquni

Sumber: Dream.co.id