Sukses

Mitos dan Hutan 'Bunuh Diri' di Gunung Fuji

Citizen6, Jakarta Gunung Fuji menjadi salah satu ikon dari negeri sakura, Jepang. Gunung tertinggi ini dikelilingi oleh lima danau yakni Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu dan Shoji. Istilah Fujiyama sendiri berasal dari sebuah mitos mengenai sepasang suami dan istri yang hidup disana. Dikisahkan bahwa mereka tidak memiliki anak seperti kisah Timun Mas di Jawa Tengah.

Ketika tengah menebang bambu, sang suami menemukan seorang anak didalam bambu tersebut yang hanya berukuran 9 sentimeter. Akhirnya sang suami membawa anak tersebut dan mereka bersepakat untuk membesarkannya. Anak tersebut diberi nama Kaguya dan tumbuh menjadi seorang putri cantik hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Banyak pria ingin melamarnya namun semuanya ditolak.

Pada saat bulan purnama tiba, Kaguya bersedih dan akhirnya menceritakan bahwa dia putri hutan dan harus kembali ke dunia asalnya. Sang suami istri tidak rela melepas kepergian Kaguya. Karena itu kemudian Kaguya memberikan obat agar kekal hidup abadi, Fushi no kusuri. Namun kebersamaan dengan Kaguya dinilai lebih berharga daripada hidup kekal maka obat tersebut pun dibakar di puncak gunung. Obat yang dibakar di atas puncak gunung ini pun kemudian disebut Fushi no yama yang menjadi asal mula nama Gunung Fujiyama (gunung abadi).

Hutan Aokigahara menjadi lokasi bunuh diri di kaki Gunung Fuji, setidaknya 100 orang per tahun melakukan bunuh diri disana

Selain mitos tersebut, Gunung Fujiyama menyimpan kisah lain mengenai banyaknya orang yang bunuh diri di Hutan Aokigahara, kaki gunung Fujiyama. Hutan Aokigahara menjadi tempat kedua favorit di dunia untuk melakukan bunuh diri setelah Jembatan Golden Gate. Dilaporkan oleh pemerintah setempat bahwa setidaknya 100 orang per tahun melakukan bunuh diri di kaki gunung Fujiyama tersebut. Bahkan pada 2010 dilaporkan 247 orang berusahan melakukan bunuh diri meski hanya 54 orang yang berhasil.

Kecenderungan orang-orang untuk melakukan bunuh diri ini berasal dari sebuh novel di tahun 1960 berjudul Nami No To (Tower of Waves). Novel karangan Seicho Matsumoto ini menceritakan kisah sepasang kekasih yang akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya di Hutan Aokigahara. Hingga kini kita bisa menjumpai kerangka tubuh jasad yang meninggal disana. Hal ini menyebabkan banyak cerita horor yang kemudian berkembang. Kamu berani untuk berkunjung ke hutan tersebut? (rn)

Loading