Sukses

TikTok Luncurkan Program Tangkal Hoaks dan Challenge Berbahaya

Liputan6.com, Jakarta - Platform berbagi video singkat, TikTok meluncurkan proyek global untuk melindungi pengguna, khususnya remaja dari hoaks dan tantangan (challenge) berbahaya.

Proyek ini melibatkan survei terhadap 10 ribu remaja, guru, dan orangtua di Argentina, Australia, Brazil, Jerman, Italia, Meksiko, Inggris, Amerika Serikat, Vietnam, dan Indonesia.

Selain itu, TikTok juga berkolaborasi dengan para ahli untuk merilis hasil studi dan mengulas kembali kebijakan keselamatan remaja.

Berdasarkan studi yang disusun oleh para ahli, disebutkan sebanyak 54 persen dari responden pengguna TikTok yang masih remaja di Indonesia, menganggap challenge baru-baru ini termasuk menyenangkan, 27 persen merasa berisiko tapi masih aman, 14 persen menganggap berbahaya, sementara 3 persen berpikir sangat berisiko.

Hanya 2 persen dari responden remaja yang mengaku mengambil bagian dalam challenge tersebut. Ada beberapa cara yang mereka pertimbangkan, antara lain dengan melihat video lainnya terlebih dahulu, membaca komentar-komentar, dan membahasnya dengan teman.

Panduan untuk remaja terkait bagaimana cara menilai potensi risiko juga menjadi hal penting untuk menjaga mereka tetap aman. Sebanyak 50 persen dari responden remaja ingin mendapatkan informasi yang memadai tentang risiko challenge terlebih dulu.

Beberapa challenge kadang memberikan informasi yang tidak benar atau hoaks, dan ini bisa membahayakan nyawa mereka ataupun mempengaruhi mental mereka hingga memiliki tendensi bunuh diri.

Sebanyak 31 persen responden yang terpapar hoaks ini mengalami dampak negatif, di mana 63 persen dari mereka merasa hal tersebut berdampak pada kesehatan mental mereka.

Hasil laporan studi oleh dari ahli, Dr Zoe Hilton, ini digunakan untuk meninjau kembali kebijakan keamanan di TikTok dan meningkatkan keamanan di platform. Untuk melindungi pengguna remaja dengan lebih baik, TikTok akan mulai menghapus peringatan tentang hoaks yang membahayakan diri.

Selanjutnya, TikTok akan tetap memperbolehkan adanya pembicaraan mengenai hal ini, karena dapat meredam kepanikan dan memberikan informasi yang akurat.

TikTok juga mengembangkan teknologi yang memberikan peringatan kepada tim keamanan jika tiba-tiba terjadi peningkatan konten yang melanggar panduan dan terhubung pada tagar tertentu. Kini, TikTok memperluas teknologi ini untuk menangkap perilaku yang berpotensi berbahaya.

TikTok juga bekerjasama dengan Dr. Graham, Dr. Brion-Meisels, dan Pendiri dan Direktur Eksekutif The Net Safety Collaborative Anne Collier untuk menambah sumber daya terbaru di Pusat Keamanan, khusus tentang challenge dan hoaks.

TikTok juga mengembangkan bahasa yang digunakan di label peringatan dan mengingatkan pengguna untuk mengunjungi Pusat Keamanan sebagai acuan informasi lebih lanjut termasuk pencarian informasi tidak benar terkait bunuh diri dan melukai diri sendiri.

 

 

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.