Sukses

[Cek Fakta] Penyelam Cedera Akibat Masukkan Alat Kelamin ke Dalam Kerang, Benarkah?

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah artikel menuliskan tentang seorang penyelam scuba yang mengalami komplikasi lantaran memasukkan alat kelaminnya ke dalam sebuah kerang.

Artikel itu ditulis oleh www.reportase.tv pada 25 November 2019. Judulnya adalah, Penyelam Ini Masuk Rumah Sakit Gara-Gara Masukan Penisnya Ke Kerang.

Dalam artikel tersebut dijelaskan, penyelam scuba bernama Sean Madison (22) terpaksa dilarikan ke rumah sakit di Ka'u, Pulau Hawaii, Amerika Serikat.

Ia menderita komplikasi pernapasan parah, muntah, pembengkakan ekstrem, dan tekanan darah rendah setelah memasukkan alat kelaminnya ke dalam kerang raksasa.

Untuk meyakinkan, disertakan juga sebuah foto seorang pria yang wajahnya membengkak sedang tidur di atas kasur. Di sampingnya, disertakan foto kerang raksasa, di mana pria itu diklaim memasukkan alat kelaminnya.

[Cek Fakta] Pria Masukkan Alat Kelamin ke Dalam Kerang Raksasa Lalu Komplikasi, Benarkah?

"Ketika sedang menyelam, perlu hati-hati mengenali fauna bawah air. Seorang penyelam scuba terpaksa masuk rumah sakit di Ka’u di Pulau Hawaii, AS, setelah dia memasukkan penisnya ke kerang raksasa saat menyelam rekreasi.

Sean Madison, 22, dipindahkan ke rumah sakit Ka’u setelah menderita komplikasi pernapasan parah, muntah, pembengkakan ekstrem, dan tekanan darah rendah.

Dokter yang merawatnya percaya kontak fisik alat vitalnya dengan moluska raksasa, mungkin telah memicu alergi terhadap hewan aut dan membuatnya terkena arsenik tingkat tinggi.

Madison, penyelam rekreasi itu kondisinya stabil. Ia mengatakan memasukkan penisnya ke dalam kerang sebagai lelucon untuk mengesankan temannya, Thomas Meyer.

“Awalnya itu hanya lelucon. Teman saya sedang merekam video jadi saya ingin membuatnya terkesan dan memasukkan penis saya ke kerang, tapi kemudian itu dijepit sama kerang, ”katanya, seperti dilansir Wordnews, Senin, (25/11/2019).

Penyelam amatir itu juga mengakui bahwa dia masih mabuk karena konsumsi alkohol dan telah mengkonsumsi ekstasi, yang mengganggu penilaiannya pada saat itu.

“Tidak sakit atau apa pun, rasanya hangat dan nyaman di dalam kerang, tetapi saya khawatir cadangan udara saya semakin rendah,” akunya.

Setelah akhirnya melepaskan diri dari kerang, pemuda itu kemudian merasakan reaksi alergi yang parah dan dilarikan ke Rumah Sakit Ka’u.

Dr. Andrew Smith di Rumah Sakit Ka’u percaya tubuh Madison bereaksi terhadap enzim pencernaan moluska raksasa, yang mungkin mencoba mencerna alat kelamin pria itu pada saat kejadian.

Dr. Smith mengakui bahwa ini adalah kasus pertama dari jenisnya yang dia lihat dalam 22 tahun praktiknya.

“Alergi terhadap makanan laut cukup umum dan biasanya terjadi setelah konsumsi ikan atau kerang, bukan setelah hubungan seksual dengan kerang,” katanya kepada wartawan setempat.

Sebuah insiden fatal terjadi di Akuarium Waikiki di Honolulu pada tahun 2014 ketika seorang karyawan akuarium meletakkan kepalanya di dalam kerang raksasa dan kehilangan kesadaran sebelum ia bisa diselamatkan, membenarkan reputasi lokal moluska sebagai ‘kerang pembunuh’.

Di cerita rakyat Hawaii, dewi kerang Wawa U’ru secara paksa dihamili oleh A’ua A’uku, dewa hiu, tetapi menjentikkan alat kelamin Dewa hiu sebagai pembalasan, meninggalkannya dikebiri dan dengan demikian melahirkan penduduk asli Hawaii."

 

Benarkah klaim tersebut?

 

2 dari 4 halaman

Penelusuran Fakta

Ternyata, klaim yang disebut tak sesuai dengan fakta sesungguhnya. 

Hal itu sesuai dengan pengecekan fakta oleh www.factcheck.afp.com pada Rabu, 19 Juni 2019 lalu. Judulnya adalah, No, this is not a real report about a scuba diver injured after inserting his penis into a giant clam. 

Dalam artikel tersebut dituliskan, telah tersebar sebuah tangkapan layar berita yang mengklaim bahwa seorang penyelam dirawat di rumah sakit di Hawaii setelah memasukkan alat kelaminnya ke dalam kerang raksasa.

[Cek Fakta] Pria Masukkan Alat Kelamin ke Dalam Kerang Raksasa Lalu Komplikasi, Benarkah?

Namun rupanya setelah ditelusuri melalui pencarian gambar di Google atau Google Reverse Image, foto yang tersebar itu bukan penyelam seperti yang diceritakan.

Berdasarkan penelusuran Cek Fakta Liputan6.com terhadap gambar pria berwajah bengkak, mengarah ke insiden yang menimpa seorang pemuda bernama Austin Hatfield asal Florida yang wajahnya digigit ular berbisa water moccasin yang ia jadikan peliharaan.

Seperti dikutip dari www.americanow.com, ia menaruh ular itu di dalam bantalnya, ketika ular itu menggigit mulutnya.

Sementara, berdasarkan penelusuran AFP,  foto kerang raksasa  asalnya dari gambar berjudul Lam Mouth - Giant Clam yang diunggah pengguna Redbubble, Springs.

Dalam profilnya, Springs menyatakan ia adalah perekam video amatir bawah air dan fotografer tetap di salah satu surat kabar di Sydney, Australia.

Klaim bahwa penyelam cedera dan mengalami komplikasi akibat memasukkan alat vital ke dalam kerang dimuat situs satir, World News Daily Report pada 18 Juni 2019, dalam artikel berjudul, HAWAII: SCUBA DIVER HOSPITALIZED AFTER HIS PENIS GETS STUCK IN GIANT CLAM.

Situs tersebut punya slogan, 'Where facts don’t matter' -- di mana fakta tak dianggap penting. 

3 dari 4 halaman

Kesimpulan

Klaim bahwa penyelam cedera dan mengalami komplikasi tidak didukung bukti kuat. Asal informasi tersebut adalah situs satir, World News Daily Report pada 18 Juni 2019.

Situs tersebut punya slogan, 'Where facts don’t matter' -- di mana fakta tak dianggap penting. 

4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama 49 media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi hoax yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoax yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Loading
Artikel Selanjutnya
Cek Fakta Kesehatan: Kontrol Diabetes Cukup dengan Insulin?
Artikel Selanjutnya
[Cek Fakta] Pamflet DPO Pelaku Persekusi Banser NU Tersebar, Benarkah?