Pemerintah Inggris Desak FIFA Jerat Argentina usai Aksi Politik

Kemenangan Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 diwarnai insiden spanduk Malvinas.

Diterbitkan 17 Juli 2026, 16:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Meskipun demikian, Milei memperkirakan FIFA akan menjatuhkan sanksi denda kepada tim. "Apa yang dilakukan para pemain dapat dimengerti; mereka terbawa emosi, mereka bertindak impulsif, dan itu kemungkinan akan mengarah pada diskusi tentang denda," kata Milei.

Wakil Presiden Victoria Villarruel menunjukkan dukungan yang lebih vokal, mengunggah foto para pemain yang mengangkat spanduk di media sosial dengan keterangan, "Malvinas adalah milik Argentina! Mereka melarang kami membawa [tanda] ke stadion, lupa bahwa kami membawanya dalam darah dan hati kami."

Latar Belakang Sejarah Sengketa Kepulauan Falkland

Kepulauan Falkland, yang disebut Argentina sebagai Islas Malvinas, adalah wilayah seberang laut Inggris dengan populasi sekitar 3.500 orang. Letaknya sekitar 13.000 kilometer dari Inggris dan 480 kilometer dari Argentina. Sengketa kedaulatan atas kepulauan ini memiliki sejarah panjang. Argentina berpendapat bahwa pulau-pulau itu diambil secara ilegal pada tahun 1833. Sementara itu, Inggris mengklaim hak teritorialnya berasal dari tahun 1765 dan mengirim kapal perang pada tahun 1833 untuk mengusir pasukan Argentina yang mencoba menegakkan kedaulatan.

Konflik memuncak pada tahun 1982 ketika kediktatoran militer Argentina menginvasi kepulauan tersebut, memicu perang 10 minggu yang dimenangkan oleh Inggris. Perang tersebut menewaskan 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, dan tiga penduduk pulau. Konflik ini berakhir selama Piala Dunia 1982 di Spanyol, di mana jaringan televisi Inggris menolak menyiarkan pertandingan pembuka Argentina.

Insiden serupa terkait pesan politik dalam olahraga bukanlah hal baru. Argentina sendiri pernah didenda oleh FIFA pada tahun 2014 setelah mengangkat spanduk dengan slogan yang sama setelah pertandingan persahabatan melawan Slovenia. FIFA juga pernah melarang seorang pemain Korea Selatan dalam dua pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2014 karena memegang spanduk klaim teritorial terhadap Jepang pada Olimpiade London 2012. Baru-baru ini, pemain Spanyol Rodri dan Álvaro Morata juga dilarang bermain satu pertandingan oleh UEFA setelah menyanyikan tentang klaim negara mereka atas Gibraltar usai memenangkan Euro 2024.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan