Detik-detik Insiden Ludah yang Mengguncang San Siro
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1556006/original/052613000_1491285014-_20170403AFP_Tops_score_timnas_Jerman_02.jpg)
Insiden legendaris ini terjadi saat Belanda menghadapi Jerman Barat di putaran kedua Piala Dunia Italia, yang berlangsung di stadion ikonik San Siro, Milan. Frank Rijkaard dari Belanda dan Rudi Voller dari Jerman Barat adalah dua pemain utama yang terlibat dalam drama tersebut. Kronologi awal insiden bermula ketika Rijkaard melakukan tekel keras terhadap Voller pada menit ke-20 pertandingan, memicu ketegangan di lapangan.
Wasit asal Argentina, Juan Carlos Loustau, segera memberikan kartu kuning kepada Rijkaard atas tekel tersebut, sebuah hukuman yang dianggap “sepenuhnya pantas”. Kartu kuning ini memiliki konsekuensi besar bagi Rijkaard, karena itu adalah kartu kuning keduanya di turnamen, yang berarti ia akan absen di perempat final jika Belanda lolos. Marah dengan hukuman tersebut, Rijkaard meludah ke rambut Voller saat ia berlari melewatinya untuk mengambil posisi tendangan bebas.
Setelah terjadi adu mulut singkat, wasit Loustau juga memberikan kartu kuning kepada Voller, mengabaikan ketidakpercayaan Voller dan undangannya untuk memeriksa ludah yang ada di rambutnya. Drama berlanjut setelah tendangan bebas, di mana Voller dan Rijkaard kembali terlibat insiden di kotak penalti. Rijkaard mencoba menarik telinga Voller dan menginjak kakinya, menyebabkan Voller terjatuh, yang semakin memperkeruh suasana.
Wasit Loustau tanpa ragu segera mengacungkan kartu merah ke arah Rijkaard, lalu berbalik dan juga menunjukkannya kepada Voller, sebuah keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Voller merasa sangat terkejut dan hingga kini masih bingung dengan keputusan wasit untuk mengusirnya, mengingat ia adalah korban dari provokasi. Saat Rijkaard berjalan menuju ruang ganti, ia kembali meludah ke rambut Voller, mengukuhkan julukannya sebagai “Llama” karena kemampuannya melontarkan ludah.
Reaksi Beragam dari Dunia Sepak Bola
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5370720/original/047083500_1759567179-Piala_Dunia_2026.jpg)
Insiden ludah antara Frank Rijkaard dan Rudi Voller memicu beragam reaksi dari komentator, jurnalis, hingga psikolog. Penulis dan jurnalis Simon Kuper bahkan menggunakan foto insiden ini untuk sampul buku terlarisnya “Football Against The Enemy”, meskipun kemudian ia menyesal dan meminta maaf kepada salah satu pemain yang terlibat. Komentator ITV, Brian Moore, menyatakan kekecewaannya bahwa Rijkaard, seorang pemain berbakat, memiliki peran negatif dalam pertandingan sepenting itu.
Pundit RTE, Eamon Dunphy, menggunakan pena elektronik untuk menganalisis lintasan ludah Rijkaard, dengan komentar jenaka, “Itu mengenai kepalanya di sana dan itu berita buruk bagi Rudi Voller dan bahkan lebih buruk lagi bagi penata rambutnya!”. Sementara itu, komentator BBC Ray Wilkins menganggap insiden itu “benar-benar memalukan” dan menyarankan orang tua untuk mematikan video agar anak-anak tidak meniru perilaku tersebut.
Dari sudut pandang psikologis, Dr. Aric Sigman, seorang Psikolog Konsultan, berpendapat bahwa meludah secara universal diakui sebagai “degradasi tertinggi” yang cenderung memicu pembalasan agresif. Namun, Voller membuktikan pengecualian dengan tidak membalas provokasi tersebut secara fisik. Jurnalis Jerman Uli Hesse-Lichtenberger dalam bukunya “Tor! The Story of German Football” menulis bahwa Rijkaard kemudian meminta maaf karena “kehilangan akal” akibat tekanan emosional setelah berpisah dari istrinya sesaat sebelum Piala Dunia.
Dari Rivalitas ke Rekonsiliasi: Iklan Mentega yang Ikonik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5431194/original/068501900_1764730258-piala_dunia_2.jpg)
Meskipun insiden tersebut sangat memalukan dan penuh kontroversi, kisah antara Rijkaard dan Voller tidak berakhir dengan permusuhan abadi. Rijkaard, menyadari kesalahannya, segera meminta maaf kepada Voller setelah pertandingan, dan Voller dengan lapang dada menerima permintaan maaf tersebut. Rijkaard juga menegaskan bahwa tidak ada penghinaan atau pelecehan rasial dari Voller yang memicu tindakannya.
Beberapa tahun kemudian, keduanya menunjukkan kedewasaan dan semangat sportivitas dengan setuju untuk tampil bersama dalam iklan TV untuk perusahaan mentega Belanda. Iklan tersebut menampilkan keduanya tersenyum lebar, mengenakan jubah mandi berwarna krem, dan dengan gaya rambut keriting khas masing-masing, mengisyaratkan bahwa semua telah kembali baik. Slogan iklan tersebut, “Everything In Butter Again”, adalah peribahasa Jerman yang berarti semuanya kembali baik, secara sempurna menggambarkan rekonsiliasi mereka.
Biaya yang mereka terima dari iklan tersebut tidak mereka nikmati sendiri, melainkan disumbangkan untuk amal oleh keduanya. Kisah rekonsiliasi ini menjadi bukti bahwa meskipun rivalitas di lapangan bisa sangat panas, sportivitas dan saling menghormati dapat mengatasi insiden yang paling kontroversial sekalipun.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390489/original/006123400_1761278823-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__96_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289169/original/028294300_1783394455-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-07T102043.787.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259592/original/057928600_1781507421-guru_sekolah_rakyat_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302904/original/046159000_1784611502-Dr.Watermark_1784608315019.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556406/original/025801700_1776244547-000_77LT8T4.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303337/original/087011100_1784626958-063_2286813749.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302533/original/039508800_1784583892-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295937/original/029239400_1783995735-000_A6DQ92Z.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302475/original/037155000_1784555150-Argentina_s_Lionel_Messi__from_right__Rodrigo_De_Paul__Nicolas_Otamendi_and_Leandro_Paredes.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301812/original/034405000_1784520388-000_C2LJ6NA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301606/original/080786700_1784502167-063_2286810313.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303195/original/023121200_1784621417-spain_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303337/original/087011100_1784626958-063_2286813749.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302533/original/039508800_1784583892-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294301/original/036531900_1783829241-ar5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303557/original/094286000_1784643564-000_C2DU6A3.jpg)