Cegah Pelecehan Seksual, KOI Siapkan Standar Prosedur Perlindungan Atlet

KOI memiliki Satgas Safeguarding untuk menyiapkan standar prosedur perlindungan atlet guna mencegah pelecehan seksual.

OlehThomas
Diterbitkan 16 Maret 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Berdasarkan pengalaman itu maka Okto mengimbau agar apa yang terjadi di berita belakangan ini jangan sampai justru menjadi ancaman dalam mendorong kualitas pelatihan di cabang olahraga. “Cabang olahraga apapun itu karena saat ini kita juga sedang menghadapi tantangan Gen Z yang sangat sensitif dengan pola-pola aturan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Kita mau membentuk generasi yang tangguh sehingga prosesnya pun harus disesuaikan dengan aturan-aturan yang sudah disepakati,” ucapnya.

Penerima penghargaan dari berbagai organisasi olahraga dalam dan internasional ini menegaskan, semuanya harus bertanggung jawab dengan jabatannya masing-masing, tidak ada power of abuse, tapi juga tidak mengurangi kualitas dari pelatihan tersebut. Dengan demikian peforma para atlet bisa maksimal.

“Kalau kita lihat di negara-negara lain kita cukup familiar bagaimana China dengan proses pelatihannya atau Korea yang cukup tegas dalam jalankan disiplinnya. Jadi, jangan diberikan celah dengan keraguan-keraguan sehingga proses pelatihannya menjadi tidak maksimal,” tutur Okto.

Sistem Monitoring

Intinya, ucap Okto, setiap cabang olahraga harus tegas dan melaksanakan sistem monitoring terhadap proses pelatihan. Hal ini juga perlu terus dikoordinasikan dengan orang tua, pelatih, kepala pelatih, manajer, binpres, dan pimpinan organisasi sehingga memahami sistem monitoring tersebut. “Pelatihannya itu bisa maksimal secara komprehensif. Tidak ada keraguan, baik itu dalam proses pelatihan karena sesuai aturan main dari cabor tersebut. Sehingga orang tua juga bisa familiar dengan proses pelatihan yang dilakukan,” paparnya.

Dia mengingatkan, yang cukup rentan pada saat seleksi menuju elite. Pengawasan di sini juga menjadi tanggung jawab bersama dalam sesuai proses monitoring tersebut. “Sehingga setiap keputusan itu dilakukan secara komprehensif dan sesuai kebijakan yang diatur oleh tata kelola dari organisasi tersebut. Jadi gak ada like and dislike,” tegasnya.

Apa yang diungkapkan Okto tersebut diamini Safeguarding Officer NOC Indonesia, Tabitha Charmaine Sumendap. Menurutnya, Satuan Tugas Safeguarding NOC Indonesia tengah serius menyiapkan standar prosedur pelaporan dan perlindungan bagi atlet. Langkah ini diambil sebagai respons proaktif terhadap kasus-kasus yang sempat mencuat, seperti yang melibatkan atlet panjat tebing dan kickboxing.

“Standar prosedur ini akan didiskusikan secara menyeluruh dengan setiap cabang olahraga. Tujuannya agar dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan spesifik masing-masing federasi. Proses ini diharapkan menciptakan sistem perlindungan yang komprehensif dan adaptif di seluruh lini olahraga nasional,” papar Tabitha.

Gebrakan Satgas Safeguarding

Inisiatif Safeguarding tidak hanya berfokus pada penanganan kasus setelah terjadi, tetapi juga pada upaya pencegahan dan edukasi. KOI bertekad membangun ekosistem olahraga yang aman, berintegritas, dan berpusat pada perlindungan atlet. Pengembangan standar prosedur pelaporan dan perlindungan atlet merupakan langkah krusial dalam upaya KOI menciptakan lingkungan olahraga yang aman.

Prosedur ini dirancang untuk memberikan panduan jelas mengenai bagaimana atlet dapat melaporkan insiden kekerasan atau pelecehan, serta bagaimana mereka akan dilindungi selama proses tersebut.

Untuk itu, kata Tabitha Charmaine Sumendap, pihaknya telah mendistribusikan surat kepada seluruh federasi olahraga untuk menyampaikan Program Safeguarding yang akan berjalan selama satu tahun ke depan. Program ini mencakup edukasi intensif dan pengenalan standar prosedur yang akan disesuaikan dengan kondisi setiap cabang olahraga. Tujuannya adalah memastikan setiap federasi memiliki pemahaman dan kapasitas yang memadai untuk menerapkan kebijakan perlindungan ini secara efektif.

Selain prosedur pelaporan, KOI juga menyiapkan kode etik yang spesifik untuk atlet, pelatih, dan asisten pelatih. Kode etik ini akan dibawa ke setiap federasi untuk didiskusikan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing cabang olahraga. Dengan adanya kode etik yang jelas, diharapkan dapat meminimalisir potensi pelanggaran dan menciptakan budaya saling menghormati di lingkungan olahraga.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan