Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter Dukung Boikot Piala Dunia 2026 di AS, Soroti Isu Keamanan

Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, secara terbuka mendukung seruan boikot Piala Dunia 2026 di AS, menyusul kekhawatiran keamanan serta kebijakan domestik,

OlehThomas
Diterbitkan 27 Januari 2026, 23:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Blatter sendiri mendukung boikot tersebut karena "perilaku Presiden Donald Trump dan pemerintahannya di dalam dan luar negeri." Kebijakan imigrasi Trump yang semakin ketat telah memicu gelombang protes publik dan ketegangan sosial, termasuk penahanan dan deportasi massal.

Pieth juga menyatakan bahwa AS telah menjadi "negara nakal" yang mengabaikan aturan dan hukum internasional. Seruan boikot ini juga muncul sebagai respons terhadap ketegangan diplomatik dengan Washington, termasuk pernyataan kontroversial Trump tentang Greenland dan ancaman tarif perdagangan baru terhadap Uni Eropa.

Dampak Potensial Boikot dan Masa Depan Piala Dunia 2026

Mark Pieth menyarankan agar penggemar sepak bola menghindari Amerika Serikat dan menyatakan bahwa mereka akan mendapatkan tontonan yang lebih baik melalui televisi, mengindikasikan ketidaknyamanan dan risiko yang mungkin dihadapi jika datang langsung.

Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi pertama dengan 48 tim peserta, menjadikannya acara global yang lebih besar dari sebelumnya. Potensi boikot oleh negara-negara Eropa atau penggemar dapat memiliki dampak ekonomi dan citra yang besar, bahkan telah ada laporan pembatalan tiket secara massal. Dampak finansial dari boikot semacam itu bisa sangat signifikan, tidak hanya bagi FIFA dan negara tuan rumah, tetapi juga bagi sponsor, penyiar, dan industri pariwisata.

Ini bisa menjadi preseden berbahaya bagi acara olahraga internasional di masa depan, terutama jika negara-negara lain mulai menggunakan boikot sebagai alat tekanan politik. Jika boikot Piala Dunia berhasil menarik perhatian, ada kemungkinan dampaknya meluas ke acara olahraga besar lainnya, seperti Olimpiade 2028 di Los Angeles.

Hal ini menunjukkan potensi eskalasi protes di masa mendatang terhadap kebijakan-kebijakan AS yang dianggap kontroversial. Lebih jauh lagi, boikot ini dapat memicu perdebatan global tentang etika dan politik dalam olahraga, memaksa badan-badan olahraga internasional untuk lebih mempertimbangkan dampak sosial dan politik dari keputusan tuan rumah mereka.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan