Mencari Logika di Balik Kebijakan Transfer Chelsea, Klub Sepak Bola atau Perusahaan Investasi?

Pergerakan Chelsea di bursa transfer selama kepemimpinan Todd Boehly sulit dimengerti. Apakah ada tujuan besar dari kebijakan yang diterapkan selama ini?

Diterbitkan 05 Agustus 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Namun, aktivitas klub di bursa transfer kembali membingungkan. Stigma Chelsea sebagai perusahaan investasi, yang membeli pemain dengan harapan bisa menjualnya di harga lebih tinggi, masih melekat.

Kebijakan Chelsea Tidak Berubah

Chelsea menggaet Liam Delap (35,5 juta euro), Joao Pedro (63,7 juta euro), Jamie Gittens (56 juta euro), dan terbaru Jorrel Hato (44,2 juta euro). Nilai transfer masing-masing individu lebih tinggi dibanding harga sebenarnya. Di sini Chelsea mengeluarkan uang lebih untuk membayar potensi masa depan, sesuatu yang sebenarnya juga tidak pasti.

Ada juga rekrutmen dua talenta menjanjikan asal Amerika Selatan, Kendry Paez dan Estevao Willian. Pembelian ini dianggap sebagai investasi cerdas. Namun, skenario kegagalan juga tetap membayangi mengingat contoh-contoh sebelumnya.

Kehadiran muka-muka anyar tersebut tidak memperbesar peluang Chelsea menjadi juara domestik dan Eropa. Terlebih jika melihat kebijakan klub dalam arus keluar. Ketika investasi spekulatif berkontribusi positif, Chelsea justru menendangnya keluar. Maju Noni Madueke.

Madueke adalah salah satu kisah sukses kebijakan Boehly. Digaet sebagai berlian kasar berusia 20 tahun dari PSV Eindhoven senilai 35 juta euro pada 2023, dia jadi salah satu penggawa yang paling banyak diturunkan musim lalu.

Performa winger asal Inggris ini berpeluang terus membaik di 2025/2026. Namun, Chelsea justru menjualnya. Mengapa demikian? Apalagi mereka melepas Madueke ke Arsenal, salah satu rival terbesar di panggung domestik.

Tawaran sebesar 56 juta euro adalah jawabannya. Angka tersebut sudah cukup untuk membuat Chelsea tergoda karena mengantongi keuntungan.

Di sinilah perbedaan signifikan kepemimpinan Abramovich dan Boehly. Abramovich adalah gila bola sejati. Dia rela mengeluarkan uang pribadi untuk memoles skuad Chelsea agar kompetitif. Suporter pun mencintainya karena itu.

"Ini bukan tentang menghasilkan uang. Saya memiliki banyak cara lain yang risikonya lebih kecil ketimbang memiliki klub sepak bola," ungkap Abramovich usai membeli Chelsea tahun 2003, dikutip BBC.

"Saya tentu juga tidak ingin membuang uang. Tapi ini lebih tentang bersenang-senang, yang berarti kesuksesan dan trofi."

Todd Boehly Hanya Mencari Untung?

Di sisi lain, Boehly dan konsorsium di belakangnya adalah pebisnis sejati. Amortisasi mengizinkan Chelsea membagi nilai transfer pemain sesuai durasi kontrak. Inilah alasan mengapa The Blues mengikat muka anyar dengan durasi masa kerja panjang.

Taktik tersebut memberi mereka keleluasaan mengeluarkan uang di bursa transfer, yang otomatis memperkecil peluang terkena sanksi finansial dari regulator. Namun, apakah pendekatan ini bisa konsisten membuahkan trofi?

Jika memang berpacu pada laporan finansial dan ingin mendapat keuntungan dari investasinya di Chelsea, Boehly harus mulai memikirkan cara agar semua faktor ekonomi dan prestasi berjalan beriringan dan berkelanjutan. Dia tidak akan mencapainya jika hanya fokus pada satu sisi. Sebab, nilai klub sepak bola tidak akan meningkat jika hasil di lapangan tidak mendukung.

Boehly sudah mengeluarkan sekitar lima miliar euro untuk mengakuisisi Chelsea, plus hampir dua miliar euro demi membeli pemain. Pada titik ini, valuasi Chelsea tidak lebih dari uang yang sudah dikeluarkannya.

Lalu, sampai kapan Boehly menerapkan kebijakan ini di Chelsea? Sebagai pemerhati sepak bola, kepemimpinannya hanya memberi warna berbeda pada dunia si kulit bundar. Tapi tentu tidak bagi suporter setia yang melihat klub kesayangan menjadi permainan investor.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan