Profil Didier Deschamps: Nyawa Timnas Prancis di Piala Dunia 2022

Di bawah racikan Didier Deschamps, Timnas Prancis melaju kencang di Piala Dunia 2022

Diterbitkan 18 Desember 2022, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jika melihat apa yang ditorehkan Prancis, tak perlu heran. Sebab, Deschamps memang punya DNA juara.

Saat menjadi pemain, Deschamps yang malang melintang di tiga liga top Eropa yakni Prancis, Italia dan Inggris serta Spanyol, ia selalu menorehkan prestasi apik.

Pada 1991 dan 1992, Deschamps yang sudah menjadi bagian dari Marseille sukses menjadi bagian tim tersebut merengkuh juara. Tak tanggung-tanggung, selain juara di kompetisi domestik, Deschamps membawa Marseille menjuarai Liga Champions Eropa pada 1993.

Memasuki musim 1994, Deschamps pindah ke Juventus. Selama 5 musim berbaju Si Nyonya Tua, ia juga menjuarai Liga Italia dan juara Liga Champions.

Setelahnya, Deschamps pindah ke Spanyol untuk membela Inggris bersama Chelsea. Di Stamford Bridge, Deschamps memenangi Piala FA 1999 meski hanya satu musim.

Di musim berikutnya, Deschamps pindah ke Spanyol membela Valencia. Bersama Kelelawar Mestala, Deschamps kembali ke final Liga Champions meski belum juara.

Tapi sejarah mencatat, apa yang telah ditorehkan Deschamps adalah catatan apik. Sejak di Marseille hingga Valencia, Deschamps adalah pemain yang selalu membawa tim yang dibelanya berlaga di partai puncak sebuah kejuaraan bergengsi.

Usai memutuskan gantung sepatu, Deschamps mengawali karier kepelatihannya bersama Monaco. Selama 4 musim belum ada prestasi yang ditorehkannya layaknya ia menjadi pemain.

Di musim 2006, saat Juventus terdegradasi lantaran kasus Calciopoli, Deschamps memutuskan untuk membesut tim yang membesarkan namanya. Dan tak perlu menunggu lama, Juventus yang sempat turun ke Serie B, segera naik ke Serie A dalam satu musim.

Hanya satu musim, Deschamps kembali ke Prancis untuk membesut Marseille. Di sana, dia memenangkan gelar Ligue 1 2009-2010, serta tiga gelar Coupe de la Ligue berturut-turut antara 2010 dan 2012. Selain itu ada gelar Trophée des Champions yang juga berturut-turut diraihnya pada 2010 dan 2011.

Setelah itu, dengan CV yang mentereng, akhirnya ia ditunjuk menjadi pelatih kepala Prancis sejak 2012 hingga saat ini.

Perjalanan Prancis di Piala Dunia Bersama Deschamps

Prancis memulai Piala Dunia dengan meyakinkan. Tergabung bersama Australia, Denmark, dan Tunisia, Les Bleus keluar sebagai juara grup.

Bertemu Australia di partai perdana babak grup, Deschamps sukses meracik anak asuhnya memenangi laga kontra Australia dengan skor 4-1.

Di laga kedua, satu kemenangan akan membawa mereka lolos ke babak 16 besar. Dan tanpa ada halangan berarti, Prancis menang dengan skor 2-1.

Kemenangan ini juga seolah menghapus mitos. Di bawah Deschamps juara bertahan Piala Dunia tak lagi tersungkur di fase grup.

Di partai pemungkas grup, Prancis yang turun dengan sejumlah pemain pelapis harus mengakui keunggulan Tunisia. Namun, hasil itu tak mengubah apa pun.

Laju Prancis di babak gugur kian kencang saja. Bertemu Polandia, Inggris dan Maroko, Deschamps mampu membawa anak asuhnya pulang dengan kemenangan.

Terdekat, ujian Deschamps adalah Argentina. Negara yang disebutkan barusan adalah tantangan terakhir pelatih 54 tahun ini.

Sebetulnya, Prancis dan Argentina sudah bertemu di edisi sebelumnya. Ketika itu, Prancis menang dengan skor 4-3 di babak 16 besar Piala Dunia 2018.

Namun, Timnas Argentina yang sekarang akan dihadapi Deschamps dan Prancis berbeda. Tim Tango jadi penantang serius lantaran punya catatan yang sama dengan Prancis di perjalanan mereka di Piala Dunia 2022.

   

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Alan Kusuma, ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan