Walid Regragui : Bukan Keajaiban Jika Menang, Seperti Rocky Balbao yang Bekerja Keras

Pelatih Maroko, Walid Regragui menegaskan, keberhasilan timnya bukanlah keajaiban tapi hasil dari kerja keras, dan ia meminta timnya seperti tokoh Rocky Balbao

Diterbitkan 12 Desember 2022, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kemenangan Maroko menggoreskan sejarah bagi persepakbolaan Afrika. Untuk pertama kalinya ada tim dari Afrika yang menembus semifinal Piala Dunia.

Sebelumnya ada tiga wakil Afrika yang berhasil mencapai perempatfinal, namun semuanya kandas dan tak berhasil melangkah lebih jauh. Mereka adalah Kamerun pada 1990, Senegal pada 2002, dan Ghana pada 2010.

Kemenangan bersejarah itu dirayakan oleh warga Maroko yang berkumpul di Casblanca dan sejumlah tempat lainnya.

Orang-orang berkaos tim nasional dan bendera merah dengan bintang hijau, terlihat di mana-mana di jendela, kios, pasar. Lukisan dinding raksasa memperlihatkan penyerang Chelsea, Hakim Ziyech dan pelatih Walid Reragui, yang telah disamakan sebagai pahlawan nasional.

Perayaan

Reragui mengambil alih tim kurang dari tiga bulan sebelum kompetisi dimulai setelah Vahid Halilhodzic dipecat.

Tak hanya warga Maroko, di sejumlah negara di Arab dan Eropa juga berlangsung perayaan kemenangan itu.

 “Tim yang luar biasa, stamina yang luar biasa, pencapaian yang luar biasa,” kata Ilham El Idrissi, seorang wanita Casablanca berusia 34 tahun, kepada AFP.

Dia tidak sendirian memuji tim yang berjuluk Singa Atlas yang akan menghadapi juara bertahan Prancis untuk memperebutkan satu tempat di final Piala Dunia Qatar 2022.

“Saya pikir saya sedang bermimpi. Cubit saya! Sungguh kebanggaan yang besar. Saya berterima kasih kepada mereka dari lubuk hati saya,” kata Mouad Khairat, 29, seorang eksekutif di sebuah call center.

“Tim Maroko telah berhasil melakukan hal yang mustahil. Kami menginginkan piala itu sekarang,” imbuhnya.

Sedangkan mantan pemain timnas Maroko, Abderrazak Khairi mengatakan apa yang terjadi menunjukkan itulah keajaiban di sepakbola.

“Tidak ada yang mustahil dalam sepak bola, itulah keajaiban olahraga ini”, kata Khairi kepada AFP.

Sorakan

 

Khairi mencetak dua gol dalam kemenangan mengejutkan 3-1 atas lawan yang sama, Portugal, di Piala Dunia 1986 di Meksiko. Saat itu, Maroko menjadi negara Afrika pertama yang mencapai babak sistem gugur. Tidak ada negara Afrika atau Arab yang berhasil melampaui perempat final.

Kamerun pada 1990, Senegal pada 2002, dan Ghana pada 2010 nyaris mencapai empat besar turnamen paling bergengsi itu.

Setelah kemenangan atas Spanyol dalam babak 16 besar lewat drama adu penalti di Stadion Education City, Al Rayyan, Selasa (6/12/2022) malam WIB euforia melanda Maroko, negara-negara Arab dan Afrika. Singa Atlas mengukir sejarah lolos ke perempat final Piala Dunia untuk kali pertama.

“Sorakan terdengar dari Tunis, Beirut, Bagdad, Ramallah dan kota-kota lain saat orang-orang Arab berkumpul untuk bersukacita atas kemenangan tak terduga atas Spanyol, kontras dengan perbedaan politik yang telah lama memecah belah negara-negara Arab,” kata situs TV Qatar.

Ketika Maroko berhasil menyingkirkan Portugal, di Yerusalem Timur, Ramallah, dan Gaza, warga Palestina merayakannya dengan kembang api, sorakan, dan membunyikan klakson.

 

Di jalan-jalan Maroko, para penggemar sepakbola mengibarkan bendera Palestina di samping bendera mereka sendiri.

Di Aljazair, meski ada ketegangan dengan negara tetangga Maroko, situs sepakbola DZfoot memuji tim Singa Atlas. “Heroik, sensasional. Selamat, selamat,” katanya.

Di Paris, para penggemar Maroko berkumpul di Champs Elysees, tempat Prancis merayakan kemenangan Piala Dunia mereka, dan meledak dengan kegembiraan saat peluit akhir berbunyi.

“Ini merupakan kebanggaan besar bagi semua negara Arab, bagi seluruh Afrika,” kata Maamar, 27, yang mengibarkan bendera Maroko tetapi mengaku aslinya adalah orang Aljazair.

Dounia, 23, warga keturunan Perancis-Maroko, mengatakan lolos ke semifinal adalah pencapaian hebat. “Hari ini juga hari ulang tahunku, aku tidak bisa mendapatkan hadiah yang lebih baik,” sebutnya.

Kemenangan Maroko membuat kibaran bendera Maroko, Aljazair, Syria, dan Palestina, ditambah nyanyian dalam bahasa Arab menghiasi Paris malam itu. Para penggemar sepak bola yang gembira berbaur dengan turis yang memadati jalan ikonis ibu kota Prancis itu pada malam musim dingin.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Yo Kavya, ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan