Kegembiraan Sejenak Bagi Warga Tunisia di Piala Dunia 2022

Situasi ekonomi yang berat menghimpit warga Tunisia, dan keberadaan timnas di Piala Dunia 2022 menjadi hiburan tersendiri bagi mereka

Diterbitkan 24 November 2022, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Setengah jam sebelum kick0off, jalanan masih ramai. Taksi Jamaiya, minibus kuning yang mengangkut sebagian besar kelas pekerja berkeliling, berpacu seiring waktu. Di radio, pengamat sepakbola berbicara tentang formasi dan strategi.

Kafe dan bar dengan cepat dipenuhi pelanggan. Sebagian besar tempat hanya berupa ruang berdiri. Suara nyanyian dari pelanggan ditingkahi dengan gendang tradisional yang terus-menerus.

Dengan ekonomi mereka yang terpuruk di tengah krisis biaya hidup, kekurangan barang-barang kebutuhan pokok, dan melonjaknya pengangguran, rakyat Tunisia tidak memiliki banyak hal untuk jadi hiburan akhir-akhir ini.

Saat pertandingan dimulai, kesunyian begitu terasa, diselingi oleh jingkrakan gembira setiap kali Tunisia mengancam akan mencetak gol.

Berdoa

Babak pertama berakhir imbang tanpa gol, dan di dalam "salon de thé" Chabbi (rumah teh kelas pekerja), udaranya kental dengan asap rokok dan shisha. Sistem suara menyanyikan lagu-lagu populer yang identik dengan pertandingan tim nasional.

Pemilik kafe dan bar, meski situasi sedang berat, mencoba melakukan yang terbaik untuk para pelanggannya. Kopi tersedia dengan gula, sedangkan susu untuk cappucino berasal dari kaleng.

Penderitaan terasa mendekat ketika Denmark mencetak gol di babak kedua, namun berubah jadi kelegaan karena gol itu dianulir, dianggap offside.

Kemudian, mata terpaku ke layar lagi dengan konsentrasi yang mendalam sambil berdoa agar Tunisia lolos dari babak penyisihan grup untuk pertama kalinya dalam penampilan keenam mereka di Piala Dunia.

Kemenangan

Sebuah rollercoaster emosional, pertandingan beroktan tinggi membuat Tunisia bermain sangat baik – tetapi Denmark juga berbahaya.

Pada menit ke-67, Anis Slimane yang tampak kelelahan digantikan oleh Naim Sliti. Para penggemar bersorak.

“Dia adalah pemain menyerang, jadi itu sebabnya semua orang senang!” kata Mohammed, yang berada di kota untuk kursus pelatihan memulai bisnis.

“Tunisia bermain sangat baik dan melawan tim yang sangat kuat,” tambahnya.

Ada lebih banyak sorakan di menit ke-80 saat gelandang ofensif Hannibal Mejbri juga datang.

“Dia adalah pengubah permainan,” kata Mohammed optimis.

Tetap saja, tidak ada yang berubah hingga peluit akhir dibunyikan wasit. Tapi bagi para penggemar Tunisia, dan para pemain Tunisia yang merayakannya di Doha, ini terasa seperti sebuah kemenangan.

“Kemenangan” itu jadi lebih terasa ketika gelandang Timnas Tunisia, Aissa Laidouni yang tampil gemilang terpilih sebagai Man of The Match (MOTM). Laidouni berperan penting dalam menghentikan serangan dari Christian Eriksen dan kawan-kawan.

Laidouni hanya tampil selama 88 menit, sebelum digantikan oleh Ferjani Sassi. Namun, ia berhasil memberikan 82 persen umpan akurat kepada rekan-rekannya.

Selain itu, Laidouni melakukan 63 sentuhan dan berhasil memenangkan lima dari enam kali duel dengan para pemain Denmark. Ia juga memenangkan tiga tekel dan tiga clearance.

Kini, fokus mereka tertuju pada pertandingan grup ketiga pada 29 November melawan juara bertahan dan mantan penguasa kolonia,l Prancis. Atau, seperti yang ditertawakan Muhamad, “penindas tua”.

Pertandingan selama 90 menit dengan tambahan waktu, setidaknya memberikan senyuman kepada para penggemar Tunisia. Senyuman yang sedikitnya melonggarkan sesak di dada karena situasi negara yang muram.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Yo Kavya, ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan