Kenapa Media Barat Lebih Fokus Sudutkan Piala Dunia 2022?

Media barat malah lebih fokus ke hal di luar sepakbola.

Diperbarui 07 Januari 2023, 13:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar akhirnya telah dimulai Minggu (20/11/2022). Tetapi hingga kini, media barat masih saja fokus pada hal-hal di luar sepak bola.

Sebenarnya gelombang protes dari media-media barat telah terjadi sejak satu tahun terakhir menjelang digelarnya Piala Dunia di Qatar.

Berbagai hal pun diangkat ke permukaan. Mulai dari yang berbau sepak bola hingga masalah-masalah yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Piala Dunia Qatar.

Isu terbesar yang terus didengungkan adalah kabar pelanggaran Hak Asasi Manusia, saat The Guardian mengabarkan ratusan pekerja meninggal saat membangun stadion-stadion di bawah cuaca panas Qatar yang menyengat.

Perubahan sebenarnya langsung dilakukan Pemerintah Qatar saat kabar ini diblow-up The Guardian pada 2021. Mereka langsung membuat aturan yang memastikan kondisi terbaik untuk para pekerja.

"Telah ada proses signifikan untuk memastikan kalau perubahan dilakukan secara efektif," ujar juru bicara Qatar seperti dilansir dari BBC. "Sejumlah perusahaan yang melanggar aturan akan dikenakan sanksi kalau aturan pekerja ini dilanggar," tegasnya.

Lalu giliran isu suap untuk mendapatkan jatah tuan rumah terus dihembuskan. Bahkan, aktor utama kasus tersebut yaitu eks Presiden FIFA, Sepp Blatter, angkat bicara ikut menyalahkan Qatar.

"Qatar adalah kesalahan. Keputusan yang buruk," ujar Blatter, yang padahal diketahui getol melakukan korupsi dan pencucian uang lewat posisi pejabat terasnya di FIFA.

Hingga kini, tuduhan suap yang dilakukan Qatar tidak bisa dibuktikan. Bahkan, segala persiapan yang dilakukan negeri Jazirah Arab itu pun berhasil dilakukan sesuai tengat waktu.

Mulai dari persiapan 8 venue yang akan digelarkan semuanya terlihat mengkilap jelang gelaran akbar tersebut.

Bahkan, upacara pembukaan yang fantastis pun sudah dirasakan kemarin. Bintang-bintang dunia seperti Jung Kook BTS hingga Morgan Freeman terus menerus menyuarakan indahnya perbedaan.

Tak Mau Pakai Ban Kapten LGBT

Satu lagi isu yang menjadi perbincangan adalah dilarangnya berbagai atribut berbau LGBTQ selama penyelenggaraan Piala Dunia di tanah Qatar.

Meski tuan rumah menyatakan akan menerima seluruh penonton dengan tangan terbuka, mereka menerapkan aturan melarang berbagai simbol LGBT selama perhelatan. Sikap itu ditentang beberapa tim.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Media barat pun terus menggempur keputusan Qatar tersebut. Begitu juga beberapa negara peserta Piala Dunia asal Eropa. Bahkan, mereka tetap ingin mengampanyekan lewat ban kapten OneLove dengan corak pelangi. Qatar dan FIFA pun bersepakat melarangnya memberi kartu kuning bagi pemain yang mengenakan simbol terlarang tersebut. Dan lagi-lagi hal itu jadi sorotan media khususnya Inggris. Tapi, tidak semua pemain Eropa sepakat dengan kampanye LGBT tersebut. Salah satunya kiper dan kapten Timnas Prancis, Hugo Lloris, yang meminta semua pihak menghormati Qatar sebagai tuan rumah yang memang negara Muslim. "Saya sudah sangat jelas tentang ini dan saya tidak ingin menambahkan apa pun," kata Hugo Lloris dalam wawancara dengan AFP. "Ketika kami menyambut orang asing, kami sering meminta mereka mengikuti aturan kami, untuk menghormati budaya kami. Karena itu, saya akan melakukan hal yang sama ketika saya pergi ke Qatar. Sesederhana itu," ujar Lloris.

Halaman
Show All
Anry Dhanniary, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan