Indosiar Berduka atas Tragedi Arema 1 Oktober 2022

Tragedi Arema menjadi peristiwa kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Diperbarui 13 Oktober 2022, 16:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sekali lagi, kami turut berduka cita untuk para korban yang meninggal dunia dan mendoakan semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan yang Maha Kuasa. Bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Demikian juga kepada korban yang masih dirawat segera diberikan kesembuhan."

Bukan Bentrokan Antarsuporter

Sementara itu, pemerintah menyampaikan kalau insiden Kanjuruhan bukan bentrok antara suporter Arema dan Persebaya. Hal ini seperti diutarakan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md. Dia menegaskan bahwa tragedi Kanjuruhan, Malang bukanlah peristiwa bentorkan antarsuporter. Sejauh ini, tercatat ada sebanyak 127 orang tewas dalam tragedi itu.

"Perlu saya tegaskan bahwa tragedi Kanjuruhan itu bukan bentrok antarsuporter Persebaya dengan Arema," tutur Mahfud kepada wartawan, Minggu (2/10/2022).

Menurut Mahfud, suporter Persebaya memang tidak boleh ikut menonton di Stadion Kanjuruhan. Kata dia, yang ada di lapangan saat itu hanya pendukung Arema.

"Oleh sebab itu para korban pada umumnya meninggal karena desak-desakan, saling himpit, dan terinjak-injak, serta sesak napas. Tak ada korban pemukulan atau penganiayaan antarsuporter," kata Mahfud menegaskan.

Hal senada sebelumnya juga disampaikan oleh Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta. Dia mengungkapkan, pihaknya serta instansi terkait sudah melaksanakan rapat beberapa kali sebelum pertandingan digelar. Pertandingan ini disepakati hanya dihadiri oleh supporter dari Arema saja. Sedangkan suporter Persebaya, hanya menonton bareng (nobar) di wilayah masing-masing.

"Proses pertandingan tidak ada permasalahan hingga selesai," ujar Irjen Nico, Minggu (2/10/2022).

Permasalahan terjadi pada saat pertandingan telah selesai, lantaran ada rasa kekecewaan dari penonton yang melihat tim kesayangannya kalah.

"Selama 23 tahun bertanding (Arema) tidak pernah kalah namun pada malam ini kalah dengan Persebaya," ucap Irjen Nico.

Kronologi Versi Penonton

Jumlah korban tragedi Kanjuruhan, Malang, diperkirakan bakal meningkat. Sementara sejumlah suporter yang selamat dari insiden tersebut menjelaskan kronologi kejadian melalui akun media sosialnya.

Salah satunya akun Twitter @RezqiWahyu_05. Menurutnya, dari awal masuk ke stadion semua berjalan aman dan tertib hingga kick off pukul 20.00 WIB. Laga pun berjalan aman tanpa kericuhan sedikit pun.

"Yang ada hanya suporter Arema saling melontarkan psywar ke arah pemain Persebaya," katanya.

Namun saat babak pertama jefda istirahat, ada sekitar dua atau tiga kali kericuhan sedikit di tribun 12-13. Kericuhan tersebut segera diamankan pihak berwenang.

Babak kedua berlanjut dan tim Persebaya berhasil mencetak golnya yang ketiga. Arema FC semakin tampil menyerang menggempur gawang Persebaya, tapi tidak ada gol yang tercipta.

"Semakin banyak serangan, semakin gemas juga kita sebagai suporter yang menontonnya," katanya.

Hingga peluit akhir dibunyikan, Arema tidak bisa menambah golnya, dan harus menerima kekalahan. Di sinilah awal mula tragedi, setelah peluit dibunyikan, para pemain Arema tertunduk lesu dan kecewa. Sementara pelatih Arema dan manager tim mendekati tribbun timur dan menunjukan gestur minta maaf ke suporter.

"Di sisi lain ada satu orang suporter yang dari arah tribun selatan nekat masuk dan mendekati Sergio Silva dan Maringa. Terlihat seperti memberi kritik dan motivasi kepada mereka," katanya.

Dari situ, masuk beberapa orang lagi ke lapangan meluapkan kekecewaan kepada pemain Arema. Terlihat John Alfarizie mencoba memberi pengertian kepada oknum-oknum suporter tesebut. Namun semakin banyak mereka yang berdatangan masuk, semakin ricuh stadion karena dari berbagai sisi stadion juga ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya ke pemain. 

Hal itu diikuti dengan lempar-lempar berbagai macam benda ke arah lapangan, para suporter semakin tidak terkendali. Akhirnya para pemain digiring masuk ke dalam ruang ganti dengan pengawalan polisi.

"Setelah pemain masuk, suporter makin tidak terkendali dan makin banyak yang masuk ke lapangan," katanya.

Pihak aparat melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para suporter. "Menurut saya perlakuannya sangat kejam dan sadis, dipentung dengan tongkat panjang, satu suporter dikeroyok aparat, dihantam tameng dan banyak tindakan lainnya," tulis akun tersebut. 

Tembakan Gas Air Mata

Namun saat aparat memukul mundur, suporter lainnya dari arah selatan dan utara menyerang aparat. Makin banyak suporter yang masuk kondisi sudah tidak terkendali. Aparat alu menembakan beberapa kali gas air matake arah suporter yang ada di lapangan. Silih berganti suporter menyerang aparatdari sisi selatan dan utara.

"Yang akhirnya, selain hujan lemparan benda dari sisi tribun, di dalam lapangan juga terjadi aksi tembak-tembakan gas air mata ke arah suporter," katanya.

Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakan ke arah suporter, di setiap sudut lapangan telah dikelilingi asap gas air mata. "Ada juga yang langsung ditembakan ke arah suporter, yaitu di tribun 10," katanya.

Penggunaan gas air mata dalam sepak bola sebenarnya telah dilarang oleh FIFA. Hal ini tertuang lewat aturan yang telah dibuat oleh otoritas tertinggai sepak bola tersebut. (simak beritanya di sini).

Irjen Nico juga membenarkan bila polisi menembakkan gas air mata saat kejadian tersebut. Menurutnya, langkah itu diambil setelah massa mulai menyerang para petugas.

“Mereka pergi ke satu titik di pintu 12 kemudian ada penumpukan dan di sana (menyebabkan) kekuarngan oksigen, sesak napas. Tim medis di dalam stadion berupaya menolong,” ujar Nico.

Ia mengatakan, tidak semua dari total 42 ribu penonton yang memenuhi Stadion Kanjuruhan berbuat anarkis. Diperkirakan ada sekitar 3 ribu penonton yang merangsek masuk lapangan.

“Jadi kalau semua patuh aturan maka kami akan kerja baik,” ucapnya.

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan