Sukses

Riwayat di Kulit Bundar di Piala Dunia: Dari Sekedar Kulit Biasa hingga Punya Kecerdasan Buatan

Liputan6.com, Jakarta - Akhir Maret 2022 FIFA  mengumumkan secara resmi bola yang akan digunakan di ajang Piala Dunia Qatar. Nama Al Rihla dipilih untuk si kulit bundar pada ajang akbar tersebut. Al Rihla sendiri berarti perjalanan dengan tujuan yang baik dalam bahasa Arab.

Bola Piala Dunia Qatar berteknologi tinggi tersebut adalah keluaran brand asal Jerman yaitu adidas. Meski begitu, Al Rihla ternyata di produksi di Indonesia tepatnya di kota Madiun, Jawa Timur.

Al Rihla yang didesain dengan teknologi canggih tersebut berfokus pada kecepatan, akurasi, dan stabilitas. Bola ini menerapkan dua teknologi mutakhir yaitu CTR-Core dan Speedshell.

CTR-Core adalah bagian inovasi baru dari inti bola yang didesain untuk meningkatkan akurasi dan konsistensi dalam mendukung permainan cepat. Sedangkan Speedshell adalah bagian kulit luar bola, kulit tersebut berasal dari material polyurethane (PU) yang memiliki tekstur mikro dan makro dengan 20 panel berbentuk segitiga, teknologi baru ini diklaim dapat meningkatkan akurasi, stabilitas, dan tembakan yang tajam.

Selain dari sisi desain, Al Rihla juga dilengkapi oleh teknologi mutakhir seperti artificial intelligent (AI) yang dapat memberikan data data pertandingan secara cepat dan akurat, selain itu bola ini juga dapat membantu VAR dalam pengambilan keputusan offside. Teknologi-teknologi tersebut ditenagai oleh baterai yang dapat diisi ulang.

Walaupun dilengkapi beberapa teknologi canggih tersebut, Al Rihla diklaim tidak akan mempengaruhi pantulan dan pergerakan bola.

Selain itu, Al Rihla diklaim FIFA akan menjadi bola tercepat dari edisi-edisi Piala Dunia sebelumnya.

Al Rihla adalah bola ofisial ke-14 sepanjang sejarah pegelaran Piala Dunia, ajang akbar empat tahunan yang sudah bergulir sebanyak 22 kali. Setiap edisi Piala Dunia memiliki bola yang ikonik, Berikut lima bola paling ikonik sepanjang sejarah pegelaran Piala Dunia:

 

2 dari 6 halaman

Telststar

Adidas adalah pemasok resmi bola untuk Piala Dunia sejak 1970. Brand olahraga asal Jerman itu mengeluarkan bola resmi pertamanya di Piala Dunia edisi ke sembilan.

Telstar bola resmi pertama Piala Dunia 1970 di Meksiko, nama Telstar berasal dari dua gabungan kata dari Television dan Star (Bintang). Bola ini memiliki warna hitam dan putih

Pada saat itu bahwa kombinasi dan kontras ini akan memperkuat visibilitas bola di televisi berwarna dan hitam putih, mengingat Piala Dunia Meksiko adalah Piala Dunia pertama yang disiarkan di TV di seluruh dunia. Telstar terdiri dari 32 panel (20 heksagonal biasa putih dan 12 pentagonal biasa hitam), dan pada permukaan luar lapisan plastik khusus diterapkan dan disebut "Durlast". Ini membantu bola melindungi kulit lebih dari sebelumnya pada permukaan apa pun dan membuatnya tahan air. Telstar masih merupakan salah satu sepak bola paling ikonik dan klasik sepanjang masa dan sejauh ini yang paling mahal (jika pernah ditemukan dijual).

Selain Piala Dunia Meksiko 1970, Telstar kembali diadopsi menjadi bola resmi pada Piala Dunia 1974 dan Piala Dunia Rusia 2018, dengan nama resmi Telstar Durlast dan Telstar 18. 

3 dari 6 halaman

Teamgeist

Pabrikan olahraga Jerman Adidas membuat bola untuk Piala Dunia lokal yang disebut Teamgeist. Dalam bahasa Jerman Teamgeist berarti "Semangat Tim"

Bola ini merupakan bola Piala Dunia pertama yang dibuat oleh Adidas dan Tim Molten yang tidak lagi terdiri dari 32 tetapi dari 14 panel. Karena pengurangan jumlah panel, panel menjadi lebih besar secara signifikan sehingga mengurangi kemungkinan pemain menendang bola pada sendi dan menurut Adidas ini menghasilkan tembakan yang jauh lebih akurat.

Beberapa superstar yang di-endorse Adidas merasa puas dengan bola ini, namun ada beberapa kiper yang tidak setuju dan mengkritik bahwa Teamgeist adalah bolah yang sulit untuk diprediksi karena bisa berubah arah secara mendadak bahkan zigzag.

Bola yang digunakan di final Piala Dunia keluar dengan finishing emas yang melambangkan trofi Piala Dunia.

4 dari 6 halaman

Jabulani

Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan memiliki bola resmi dengan nama Jabulani, yang artinya merayakan dan bersenang-senang. Adidas menggunakan 11 warna yang mengacu tidak hanya 11 pemain dalam satu tim tetapi juga 11 bahasa yang digunakan dan 11 koloni yang terletak di Afrika Selatan.

Bola yang terdiri dari 8 panel tersebut sering mendapat kritikan dari para pemain terutama dari penjaga gawang. Hal ini karena bola jabulani sangat tidak stabil saat melesat di udara sehingga susah untuk diprediksi dan sangat sulit untuk dikontrol. Meskipun menuai banyak kritikan, Diego Forlan dan Giovanni van Bronckhorst malah menjadikan  Jabulani sebagai bola favorit mereka, hal tersebut dikarenakan kedua pemain itu dapat memanfaatkan kekurangan jabulani yang memiliki pergerakan tidak stabil untuk teknik shooting knuckleball

Namun, permintaan dan harga bola Jabulani saat ini sangat tinggi karena para footgolfer menganggap bola ini sebagai yang terbaik untuk olahraga tersebut karena Jabulani dapat berguling di rumput untuk jarak terjauh.

5 dari 6 halaman

Tango

Untuk Piala Dunia FIFA 1978 Adidas meluncurkan model baru dengan desain revolusioner yaitu  Tango. Nama Tango terinspirasi oleh tarian klasik Argentina.

Desainnya terdiri dari 20 segitiga hitam dan segera melengkung, masing-masing dicetak ke permukaan berwarna putih dari setiap panel heksagonal. Karena panel pentagonal berwarna putih juga, segitiga menciptakan serangkaian lingkaran hitam dan elegan di permukaan putih.

Saat bola berputar, efek yang bagus diciptakan oleh lingkaran hitam, yang secara visual sangat menarik. Tango menjadi sangat populer dan dikaitkan dengan merek Adidas itu sendiri – dan kedua kata ini dapat dipertukarkan di tahun 80-an.

Dapat dikatakan Tango adalah desain yang paling sering diterapkan Adidas sampai saat ini  pada ajang Piala Dunia bahkan Piala Euro.

6 dari 6 halaman

Brazuca

Bola resmi Piala Dunia 2014 Brasil  dinamakan Brazuca, pengambilan nama bola ini ditentukan oleh suara dari pendukung. Nama "brazuca" berasal dari istilah lokal informal yang berarti "Brasil", atau untuk menggambarkan cara hidup orang Brasil.

Karena kinerja Jabulani yang dipertanyakan, pabrikan olahraga Jerman memutuskan untuk mendesain  bola yang paling teruji untuk Piala Dunia Brasil dan memastikan bahwa bola menjadi sesempurna mungkin.

Brazuca terdiri dari enam panel yang terbuat dari material polyutherane (PU).

Untuk mengembalikan reputasi para penggemar, nama bola akhirnya ditentukan oleh suara dari pendukung. Nama "brazuca" adalah istilah lokal informal yang berarti "Brasil", atau untuk menggambarkan cara hidup orang Brasil.

Warna dan desain pita dari 6 panel bola melambangkan gelang harapan multi-warna tradisional yang dikenakan di negara ini (fita do Senhor do Bonfim da Bahia), selain mencerminkan semangat dan kesenangan yang terkait dengan sepak bola di Brasil.