Jangan Keliru, Pahami Kode Klasifikasi Atlet pada Peparnas XVI Papua 2021

Dalam Peparnasi Papua 2021, terdapat kode khusus nomor pertandingan yang diterapkan pada berbagai cabang olahraga. Berikut penjelasannya.

Diterbitkan 03 November 2021, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Terdapat pula kelas T/F35-T/F38 bagi peserta yang memiliki kondisi fisik kekejangan tertentu (ringan hingga berat) pada separuh tubuh atau tiga anggota badan, dapat berjalan sendiri, dan memiliki problem control pada tangan dan kaki.

Kelas T/F36-T/F38 dikhususkan bagi atlet kategori cerebral palsy (CP). Kelas T/F40-T/F41 diikuti oleh atlet yang diukur berdasarkan tinggi badan dan panjang lengan. Di sisi lain, kelas T/F42-T/F47 merupakan klasifikasi berdasarkan kondisi fisik serta kemampuan menggerakkan tubuh tanpa dan dengan alat bantu.

Kode Khusus di Bulu Tangkis

Selain atletik, bulu tangkis juga menerapkan kode khusus yang menunjukkan kemampuan fisik sang atlet. Menurut laman resmi Kemenpora, kode-kode ini dibuat sejalan dengan peraturan BWF terkait regulasi paralimpik.

Contohnya adalah WH1 dan WH2 yang diperuntukkan bagi atlet bulu tangkis pengguna kursi roda (wheelchair). Kode SL dengan skala 1–5 dikhususkan bagi kelas Standing Lower. Makin tinggi skala SL, makin kecil keterbatasan fisik sang atlet.

Selanjutnya, ada pula kode U berskala 1–5 yang merupakan kode kelas Upper. Sementara itu, kelas Short Stature (SS6) ditujukan bagi atlet yang memiliki pelambatan pertumbuhan tulang sehingga tinggi tubuhnya menjadi lebih kecil. 

Kode Khusus di Menembak

Klasifikasi khusus juga diterapkan pada cabang olahraga menembak. Misalnya pada kelas SH1 pistol yang diperuntukkan bagi atlet dengan kemampuan gerak tubuh di bawah 25 persen.

Selanjutnya, kelas SH1 rifle merupakan kelas yang diikuti oleh atlet menembak dengan kemampuan gerak di bawah 25 persen. Seentara itu, kelas SH2 dialokasikan bagi atlet dengan kemampuan gerak 25 persen atau di bawahnya.

Seluruh atlet dalam cabor ini akan memperoleh alat bantu berupa meja untuk meletakkan senjata. Mereka juga diizinkan membidik senjata dari bangku khusus atau kursi roda.

Khusus kelas SH2, penembak wajib didampingi oleh loader alias petugas pengisi ulang peluru dari tiap-tiap kontingen kontingen. Meski demikian, loader tak boleh berbicara atau memberi instruksi pada atlet selama proses pengisian amunisi.

Cabang olahraga lain, mulai dari catur, judo, tenis meja, hingga renang juga tercatat menerapkan kode khusus berdasarkan kondisi fisik para atlet, layaknya pada tiga cabor sebelumnya.

 

Penulis: Melinda Indrasari

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan