Nadia Nadim, Pesepak Bola Wanita yang Sukses Setelah Melarikan Diri dari Afghanistan

Ini kisah Nadia Nadim, pesepak bola wanita yang pernah meninggalkan negaranya dan menjadi pengungsi di Denmark

Diterbitkan 21 Juli 2021, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Nadia Nadim adalah pesepak bola wanita Denmark berdarah Afghanistan. Kiprahnya telah membawa Nadia dikenal sebagai role model bagi jutaan orang. Ia bahkan menjadi salah satu pemain sepak bola wanita terbaik dan paling berpengaruh selama berkarier di Manchester City, Portland Thorns, dan Fortuna Hjørring. Pada musim lalu, Nadia juga sukses membawa Paris Saint-Germain meraih gelar Divisi 1 pertamanya dengan mencetak 18 gol dari total 27 pertandingan.

Namun, di balik keberhasilannya, Nadia mempunyai pengalaman berat ketika harus melarikan diri dari Afghanistan yang dikuasai Taliban. Lahir di Herat, Afghanistan, pada 2 Januari 1988, Nadia dibesarkan oleh ayah dan ibunya bersama empat orang saudara perempuan. Ayahnya Rabani Nadim, merupakan bagian dari tentara Afghanistan. Pada tahun 2000, ketika Nadia masih berusia 11 tahun, Taliban membawa ayahnya.

Kala itu, Taliban memang sedang menguasai Afghanistan. Mereka memanggil Rabani Nadim ke sebuah pertemuan. Namun, setelah enam bulan, Rabani tak kunjung kembali. Nadia dan keluarganya sempat berpikir bahwa sang ayah mungkin dipenjara akibat perannya sebagai tentara. Belakangan, mereka mendengar kabar bahwa Rabani telah dieksekusi mati oleh Taliban.

“Untuk waktu yang sangat lama, aku pikir ia (ayahku) akan kembali. Ayahku adalah pria seperti James Bond. Ia terlihat layaknya pahlawan super,” ujar Nadia seperti dikutip dari SportBible.

“Seperti kebanyakan diktator dalam sejarah manusia, Anda umumnya harus menyingkarkan semua orang yang memiliki kekuasaan jika ingin mempertahankan kekuasaan. Oleh karena itu, ketika Taliban memperoleh kekuasaan, hal pertama yang mereka lakukan adalah memenggal kepala orang-orang (yang memiliki jabatan) tinggi di pemerintahan. Ayahku adalah salah satunya,” kenang Nadia.

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini

Kacau dan Mengerikan

Sejak hari itu, wanita di Afghanistan tak diizinkan keluar tanpa ditemani seorang pria. Anak-anak perempuan pun tidak diperbolehkan untuk pergi ke sekolah.

“Anda (wanita) harus selalu bersama seseorang. Anda juga tak diizinkan untuk menunjukkan bagian kulit Anda. Akibatnya, orang-orang terus hidup dalam ketakutan,” tutur Nadia.

Nadia juga menjelaskan bahwa orang-orang di negaranya tidak boleh mendengarkan musik. Semua stasiun televisi diputus. Laki-laki dilarang mengenakan jeans dan wajib memiliki janggut. Nadia menggambarkan masa-masa itu sebagai sesuatu yang kacau dan mengerikan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

“Itu (situasi) menjadi sangat mengerikan sehingga tak mungkin bagi kami untuk terus tinggal di sana (Afghanistan).” Selanjutnya, Nadia dan keluarganya berupaya melarikan diri dari Afghanistan. Ibunya bahkan menjual seluruh harta miliknya, mulai dari apartemen, mobil, dan sejumlah perhiasan, agar bisa mengumpulkan uang untuk melarikan diri.

Halaman
Show All
Liputan6.com, ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan