Kolom Final Euro 2020 / 2021 : Emulasi Italia vs Evolusi Inggris

Final Euro 2020 / 2021 bakal mempertemukan Italia dan Inggris di Stadion Wembley, London.

Diterbitkan 11 Juli 2021, 10:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Final Euro 2020 / 2021 bakal mempertemukan dua raksasa sepak bola Eropa, Italia dan Inggris. Pertarungan berlangsung di Stadion Wembley, London, Inggris, Minggu malam (11/7/2021) atau Senin dini hari WIB pukul 02.00 WIB.

Titis Widyatmoko, Pimpred Brilio.net yang juga pengamat sepakbola memiliki catatan menarik mengenai momen ini. Lewat kolom pada edisi khusus Fnal Euro 2020 di Liputan6.com, Bung Titis--sapaan akrabnya--membedah kekuatan kedua tim dari sudut pandang yang unik. Seperti apa?

Baca selangkapnya di bawah ini:

==================

Setiap bangsa memainkan sepakbola dengan cara sama tetapi gaya berbeda. Skema mengikuti satu sama lain, walakin saat bermain dipengaruhi imajinasi inventif maupun keterampilan khusus.

Dalam bukunya Il Gioco Piu Bello del Mondo (Permainan Paling Indah di Dunia), Gianni Brera mengurai banyak faktor yang membuat beda gaya permainan yaitu etnis, ekonomi, iklim, peradaban, termasuk yang paling sederhana cara memperlakukan rumput lapangan.

Gaya pula bergerak mengikuti zaman. Dulu abad 19, sepakbola hanya mengenal strategi menyerang sehingga formasi bisa berupa 1–1–8 atau 1–2–7, ada pula 2–2–6. Kini angka besar berpindah ke depan menjadi 4-3-3, 5-3-2 atau 4-4-2 seiring penemuan sistem bertahan.

Sejak sepakbola disebar orang Inggris ke seluruh dunia hingga sebelum Perang Dunia II, ada tiga rumpun besar gaya permainan. Pertama rumpun Inggris dan Nordik, kedua rumpun Amerika Selatan, terakhir rumpun Danubian.

Rumpun

ini berkembang ke berbagai subkultur. Dari rumpun Inggris dan Nordik ada subkultur Skandinavia, Jerman, Baltik-Rusia; dari rumpun Amerika Selatan ada subkultur Argentina, Uruguay, Brasil; begitu pula rumpun Danubian melahirkan subkultur Hungaria, Ceko, Austria, dan Yugoslavia.

Rumpun Danubian menghasilkan tim kuat seperti Hungaria dan Austria pada akhir 1920-an. Ketika itu Hugo Meisl yang melatih Wunderteam Austria memopulerkan pola 2-3-5. Patron itu kemudian dimodifikasi Vittorio Pozzo, pelatih timnas Italia tahun 1930-an menjadi 2-3-2-3.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pozzo menyadari bek tengahnya butuh banyak dukungan agar unggul dari lini tengah lawan. Maka dia menarik dua dari lima penyerang turun ke depan lini tengah. Ini menciptakan pertahanan lebih kuat dari sistem sebelumnya, selain memungkinkan serangan balik efektif. Di bawah Pozzo, tim nasional Italia memenangkan Piala Dunia berturut-turut pada 1934 dan 1938 mengapit emas Olimpiade 1936. Tim asuhan Pozzo itu embrio identitas bertahan dengan mengandalkan fisikalitas dan daya tempur. Meskipun secara teknik kurang brilian dibanding rival Eropanya, sepakbola Italia mengompensasi dengan kekuatan fisik pemainnya. Anak asuh Pozzo menjadi eksponen paling awal strategi man to man marking. "Tanda bahwa sepak bola menjadi bukan hanya tentang sebuah tim yang memainkan permainannya sendiri, tetapi juga berkenaan menghentikan permainan lawan," tulis Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid (halaman 70). Sejarah prestasi sepakbola tidak bisa lepas dari bagaimana mereka menemukan model sukses kemudian mengemulasinya. Belanda (total football), Brasil (joga bonito), Spanyol (tiki taka) sebagai contoh, seperti itu pula Italia. Satu pemain Pozzo di Piala Dunia 1934, Nereo Rocco meneruskan strategi bertahan diawali ketika melatih Triestina pada 1947 kemudian berlanjut ke Padova. Strategi bertahan ternyata cocok diterapkan tim kecil dengan hasil melambungkan Triestina dan Padova di antara raksasa Serie A. Bersama Gipo Viani pelatih Salernitana, Rocco kemudian disebut pencetus awal Catenaccio. Belakangan strategi itu dipopulerkan Helenio Herrera. Rocco dan Viani memimpin tim nasional Italia di Olimpiade 1960 Roma dan sejak tahun itu dapat dikatakan Italia memiliki identitas sendiri. Modul sepakbola bertahan Italia secara bertahap diadopsi di seluruh dunia. Jarang ada negara yang punya identitas dalam permainan sepakbola sekuat Italia. Italia yang kolot dengan kemampuan bertahan sangat tangguh diemulasikan pada semifinal Euro 2020 melawan Spanyol. Meski sepanjang turnamen mempertontonkan gaya menyerang atraktif, pertahanan Italia yang digalang Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci tak kunjung ditembus Spanyol. Padahal Spanyol habis-habisan menggempur. Menambah bumbu keistimewaan Italia selain pertahanan kokoh, ada pada kehadiran Oriundi, orang Italia yang besar di Amerika Latin. Kuat dengan identitas rumpun Danubian, sepakbola Italia makin berwarna oleh pemain-pemain dari rumpun Amerika Selatan. Keelokan fisik berpadu seni. Sekitar 40 Oriundi memiliki lebih dari 350 caps untuk Gli Azzurri. Nyaris pada setiap sukses Italia di turnamen besar, mereka membawa Oriundi. Tahun ini, mereka punya Jorginho, Emerson Palmieri, dan Rafael Toloi.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan