Bola Ganjil: Josef Masopust, Pemenang Ballon d'Or yang Sempat Latih Timnas Indonesia

Simak kisah Josef Masopust, salah satu gelandang berbakat asal timur Eropa yang mendapat pengakuan dari Pele.

Diterbitkan 25 April 2021, 00:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pada akhir 1962, Masopust diakui sebagai pemain paling mencolok di Piala Dunia Chile. Dia pun dianugerahi Ballon d’Or, mengungguli striker legendaris Portugal Eusebio dan bek Jerman Karl-Heinz Schnellinger.

Bela Klub yang Dibenci

Di level klub, sosok kelahiran Strimice ini menghabiskan 14 tahun bersama Dukla. Publik mencintainya meski memandang klub dengan sinis.

Pasalnya, Dukla memiliki asosiasi dengan militer. Di tengah masa kejayaan, rata-rata penonton yang datang ke stadion hanya sekitar sembilan ribu. Jumlah itu jauh di bawah dua tim berbasis ibu kota lain, Sparta dan Slavia.

Selain koneksi tersebut, masyarakat juga tidak suka melihat praktik Dukla dalam beroperasi. Klub yang berdiri tahun 1948 ini kerap menggunakan kekuatan di belakang layar untuk mendapatkan pemain terbaik, termasuk asal Sparta dan Slavia.

 

Latih Timnas Indonesia

Masopust membawa Dukla menjadi juara liga sebanyak delapan kali, plus tiga gelar Piala Cekoslovakia. Pada musim 1966/1967, dia membantu klub masuk semifinal Piala Champions walau sudah berusia 35 tahun.

Dilepas setahun kemudian, Masopust mendapat izin bermain di luar negeri. Dia menjalani peran pemain-pelatih di klub Belgia Crossing Molenbeek.

Masopust kembali ke Dukla pada 1973 sebagai pelatih dan dipercaya menangani timnas tahun 1984. Dia kemudian membuat kejutan dengan menerima pinangan PSSI untuk melatih timnas U-19 Indonesia.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan