Sukses

Investigasi Kematian Maradona : Kesaksian Janggal Orang-Orang Dekat Si Tangan Tuhan

Liputan6.com, Jakarta Kepergian legenda sepak bola Diego Maradona di usia 60 tahun akibat serangan jantung belum cukup tragis. Hasil investigasi yang dilakukan setelah Si Pemilik Gol Tangan Tuhan tersebut dimakamkan ternyata masih menyisakan cerita yang tidak kalah miris bagi para pencinta sepak bola di dunia.

Berawal dari keprihatinan yang diungkapkan pihak keluarga atas lambatnya pertolongan pertama terhadap Maradona, penyelidikan terhadap penyebab kematian mantan pemain Napoli itu kini bergerak seperti bola liar. Berbagai pengakuan dan testimoni yang muncul ikut menambah kelam tragedi ini.

Pihak kepolisian telah menyelidiki dugaan kelalaian dalam kematian Maradona. Rumah dan klinik dokter pribadi, Maradona bahkan sudah digeledah pada Minggu pagi untuk mencari bukti pendukung. 

Sementara itu, The Sun seperti dilansir dari Ibtimes.co.uk, juga melaporkan kalau sepekan sebelu meninggal Maradona ternyata sempat terjatuh di rumahnya. Temuan ini didasari pernyataan pengacara salah seorang perawat yang menangani mantan kapten timnas Argentina tersebut selama sakit. 

Masih menurut pengakuan perawat itu melalui pengacaranya, usai terjatuh Maradona tidak segera dibawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan MRI. Padahal seperti diketahui, pemain yang sempat memperkuat Barcelona itu baru saja menjalani operasi otak pada awal November lalu.

 

2 dari 5 halaman

Komentar Gisela Madrid

"Rabu, sepekan sebelum meninggal, Maradona terjatuh," kata Gisela Madrid, perawat Maradona. Dia jatuh dan kepalanya terbentu, tapi mereka tidak bawa dia ke rumah sakit untuk MRI atau CT scan."

Madrid tidak menjelaskan siapa yang dimaksud dengan mereka. Namun pernyataan yang disampaikan itu membuat namanya semakin tenar di tengah kontroversi penyebab kematian Diego Maradona.

Madrid dan pengacaranya, pengacara Rodolfo Baquè, juga menuding bahwa Maradona sempat diterlantarkan selama tiga hari tanpa pertolongan setelah terjatuh. Meski demikian, tidak sedikit yang kemudian justru mempertanyakan peran Madrid sebagai perawat Maradona saat itu. Kenapa dia juga tidak bersikeras untuk menyampaikan pertolongan yang dibutuhkan El Diego akibat kejadian itu. 

 

3 dari 5 halaman

Dokter Ikut Diperiksa

Maradona sendiri tinggal bersama keponakannya yang berusia 24 tahun usai menjalani operasi di Tigre, Buenos Aires, awal November lalu. Keponakannya sebelumnya mengaku sempat melihat Maradona bangun dan sarapan sebelum beberapa jam dia ditemukan tewas di dalam tidurnya. 

Namun hasil penyelidikan justru menemukan kalau Diego Maradona tidak pernah menyentuh sarapannya. Dia tidak makan apapun sebelum meninggal dunia, dan roti lapis di samping tempat tidur yang diduga merupakan sisa makan malam sebelumnya juga belum disentuh sama sekali. 

Masih banyak kejanggalan yang belakangan menyelimuti kepergian Maradona. Keterangan perawat Maradona juga diketahui tidak konsisten. Sebelumnya, dia mengatakan sempat melihat Maradona masih bernapas pada pukul 06.30 dan 9.20. Namun belakangan dia juga mengaku telah berbohong dan menyatakan tidak pernah mengecek kondisi Maradona sebanyak dua kali. 

Nama lain yang juga ikut terseret dalam pusaran kontroversi kematian Diego Maradona adalah Leopoldo Luque. Dikter bedah sepsialis saraf itu juga tengah dalam penyelidikan polisi.

Ketenangan Luque mulai terusik saat putri-putri Maradona, Dalma, Gianinna dan Jana mengungkapkan keprihatinan mereka atas buruknya tindakan medis yang diperoleh ayahnya saat mengalami serangan jantung di Tigre. 

Menurut mereka, pertolongan datang terlambat meski sudah dihubungi berkali-kali. Pengacara keluarga Maradona, Matias Morla, juga mengklaim ambulans baru datang satu setengah jam kemudian. Karena itu dia meminta agar dilakukan investigasi atas kematian El Diego.

Pihak kepolisian segera merespons dan melakukan penyelidikan. Sebanyak 30 orang dikirim untuk menggeledah kediaman Luque. Sementara 20 lainnya ditugaskan mengumpulkan bukti di kliniknya.

 

4 dari 5 halaman

Meninggal saat Tidur

Pihak bewajib belum banyak berkomentar. Namun  sebelum penggeledahan pada Minggu pagi, jaksa di San Isidro, dekat Buenos Aires, menyatakan kalau mereka tengah menyelidiki dr Luque.  

Laporan pendahuluan post-mortem menetapkan bahwa penyebab kematian Maradona adalah "edema paru akut dan gagal jantung kronis". Sementara laporan toksologi masih menunggu diajukan.

Luque tentu kaget dengan penyelidikan ini. Dia mengaku tidak menyembunyikan apapun dari kematian Maradona. Sebaliknya, Laque berkata telah berusaha melakukan yang terbaik menolong Maradona. 

"Anda tahu saya bertanggung jawab untuk apa? ujarnya sembari menahan air mata dalam wawancara, Minggu malam setelah penggeledahan dilakukan, seperti dilansir dari thenationalnews.

"Karena telah mencintainya, karena telah merawatnya, karena telah memperpanjang hidupnya, karena telah menjaganya sampai akhir. "Dia (Diego Maradona) seharusnya pergi ke pusat rehabilitasi. Dia tidak mau. Akulah orang yang merawatnya," ujar dr Luque menambahkan.

"Saya bangga atas apa yang sudah saya lakukan. Tidak ada yang saya sembunyikan. Saya siap membantu menegakkan keadilan."

 

5 dari 5 halaman

Saksikan juga video menarik di bawah ini