Sukses

Bola Ganjil: Tukang Jahit Pengubur Mimpi Argentina

Liputan6.com, Jakarta - Rudolf Kreitlein hanya mengusir dua pemain sepanjang kariernya sebagai wasit sepak bola. Namun, dua keputusan tersebut patut dipertanyakan dan menciptakan kontroversi besar.

Kreitlein lahir di Furth, kota di Bavaria, Jerman, pada 1919. Sejak muda dia tertarik dengan olahraga, terutama sepak bola. Namun perjalanan hidupnya berbelok karena wajib militer. Kreitlein harus membela negara di Perang Dunia II dan sempat jadi tawanan Amerika Serikat.

Namun, hobi Kreitlein tetap membara. Pada titik itu dia mulai mengatur laga antar narapidana dan juga memimpin laga.

Selepas perang, Kreitlein pergi ke Stuttgart dan mulai bekerja sebagai penjahit. Di paruh waktu dia juga bermain bersama klub lokal sebelum cedera lutut menuntaskan kariernya pada 1951.

Ingin terus terlibat dalam sepak bola di sisa hidupnya, Kreitlein kembali jadi pengadil pertandingan. Aktivitas tersebut semula sekedar hobi baginya. Namun, ketika Bundesliga lahir pada 1963, reputasi Kreitlein sudah sangat kuat dan masuk korps wasit nasional.

Pada tahun tersebut, Kreitlein mulai bertugas di luar negeri untuk kali pertama dan bekerja di turnamen junior UEFA. Dia bahkan memimpin final antara Inggris dan Irlandia Utara.

Pamornya terus meningkat dan pada 1965/1966, dia sudah dipercaya memimpin partai besar. Penampilan bagus saat menangani laga Piala Interkontinental (kini Piala Dunia Antarklub) antara Inter Milan dan Independiente membuatnya terpilih jadi wasit laga puncak Piala Champions (kini Liga Champions) 1966.

Namanya pun otomatis masuk korps berbaju hitam untuk Piala Dunia di tahun yang sama. Dia bahkan diprediksi bakal memimpin final jika tidak melibatkan Jerman Barat.

2 dari 5 halaman

Minim Pengalaman

Meski begitu, Piala Dunia 1966 juga memperlihatkan cacat dalam kepemimpinan Kreitlein. Dia minim pengalaman bekerja di laga internasional sehingga tidak tahu perilaku pemain dari kawasan lain, terutama Amerika Selatan.

Setelah menangani duel Uni Soviet dan Italia pada fase grup tanpa polemik, hijaunya Kreitlein terlihat di laga perempat final Inggris vs Argentina.

Partai ini merepresentasikan pertemuan dua budaya yang membutuhkan pertimbangan dan nalar. Baik Inggris dan Argentina bermain keras, mulai menjegal dari belakang, menerjang kiper, hingga menekel menggunakan dua kaki. Kedua tim tidak mempermasalahkan karena menganggap ini pertarungan laki-laki.

Namun Kreitlein kesulitan menghadapi itu. Keberpihakan mulai merambat pikirannya, terutama melihat pelatih Argentina Juan Carlos Lorenzo yang selalu protes dari pinggir lapangan.

Standar ganda pun diterapkan. Dalam pemahaman Kreitlein, Inggris melakukan pelanggaran karena terlambat melakukan tekel. Sementara Argentina dinilainya menjegal lawan dengan pertimbangan dan kesengajaan.

Pola pikir itu mendasari keputusan Kreitlein, meski Inggris membuat 30 pelanggaran, hampir dua kali lebih banyak dari Argentina (17) dalam 90 menit.

3 dari 5 halaman

Tidak Suka Wajah

Kapten Argentina Antonio Rattin menyadari itu dan bertanya kepada Kreitlein, meski keduanya berbeda bahasa ibu. Memiliki latar belakang militer dan otoritasnya dipertanyakan, Kreitlein merasa Rattin sudah melampaui batas. Pada menit ke-35, dia mengusir sang pemain keluar lapangan.

Dalam wawancara dengan Daily Express bertahun-tahun kemudian, Kreitlein mengungkapkan alasan di balik sikapnya itu. "Melihat wajahnya saja sebenarnya sudah cukup," ujar Kreitlein.

Rattin marah besar begitu menyadari keputusan Kreitlein. Dia menolak meninggalkan lapangan dan mengkonfrontir wasit. Pengawas wasit asal Inggris Ken Aston terpaksa masuk dan mencoba membujuk Rattin keluar.

Tapi kubu Argentina semakin marah. Mereka menganggap Inggris dan Jerman Barat berkonspirasi untuk menyingkirkan tim dari turnamen. Setelah beberapa waktu, Rattin akhirnya keluar dikawal polisi. Argentina tumbang 0-1 di laga ini akibat gol Geoff Hurst.

FIFA tidak memberi komentar mengenai kinerja Kreitlein. Meski begitu, mengusir wasit hanya karena protes dan wajah terasa sangat berlebihan, baik jika dilihat dalam kacamata sepak bola dulu atau sekarang.

Setidaknya insiden tersebut membawa dampak positif bagi dunia wasit. Kreitlein dan para kolega sadar dibutuhkan bahasa universal agar semua mengerti. Kartu kuning dan merah pun mulai digunakan pada Piala Dunia 1970.

4 dari 5 halaman

Kontroversi Kedua

Kreitlein bekerja sebagai wasit di Bundesliga selama tiga tahun lalu. Dia kembali terlibat kontroversi pada musim 1967/1968 ketika mengusir pemain untuk kali kedua. Jelang berakhirnya laga Koln vs Hannover, Kreitlein mengusir idola Hannover Jurgen Bandura karena mengguruinya.

Semua karena masalah sepele. Hannover mendapat tendangan bebas yang bakal diambil Bandura. Namun, dia merasa tembok lawan terlalu dekat. Sang pemain lalu protes dan mengukur sendiri jarak lokasi tendangan bebas dan tembok.

Keputusan Kreitlein kali ini mendapat reaksi lebih keras. Pada 1966, dia 'hanya' dikawal polisi dari amarah skuat Argentina. Kali ini, suporter Hannover menerornya berminggu-minggu. Mereka mengancam akan menculik istri Kreitlein dan membakar toko jahitnya di Stuttgart.

Kreitlein terus bekerja sebelum gantung peluit semusim kemudian. Dia meninggal pada Juli 2012 di usia 92 tahun.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Wasit Sepak Bola Berikut Ini