Selamat Jalan, Alfred Riedl: Yes, We Need You!

Alfred Riedl, mantan pelatih timnas Indonesia, 9 November 1949 - 7 September 2020.

Diperbarui 19 Desember 2020, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tahun 2010 boleh dikatakan jadi sumbu bagi perubahan besar di sepak bola nasional. Dan dalam situasi yang bergejolak, Riedl datang untuk memikul beban keraguan terhadap tim Merah Putih.

Saksikan juga video menarik di bawah ini

Spesialis Runner Up

Di tengah keraguan publik yang bertambah tebal, PSSI menunjuk Riedl sebagai pelatih timnas Indonesia. Tidak ada trofi membanggakan yang mampu meyakinkan publik akan kemampuan pria asal Austria ini, selain runner up Piala AFF 1998 dan medali perak SEA Games 1999 bersama Vietnam.

Meski demikian, Riedl sangat populer di Vietnam. Sosoknya dianggap sangat berjasa untuk sepak bola Uncle Ho. Sampai-sampai pada tahun 2007, puluhan warga Vietnam bersedia menyumbangkan ginjal mereka untuk Riedl yang saat itu harus bolak-balik cuci darah karena penyakit tersebut. 

Sementara bagi publik Tanah Air, nama Riedl mulai tenar saat berhasil membawa Laos mengalahkan Indonesia pada SEA Games 2009. Maklum, itu menjadi kekalahan perdana Indonesia dari Laos sepanjang sejarah yang semakin menambah keraguan publik akan tim Merah Putih. 

 

Ketegasan Riedl

Lahir di Wina, Austria, 9 November 1949, Riedl bukan sosok yang luwes. Bahkan terkesan kaku. Tatapan matanya tajam dan berbicara seperlunya saja. Sikap dingin ini sudah terpancar saat Riedl pertama kali tiba di Tanah Air dan bertemu dengan sejumlah wartawan di Hotel Sultan, Jakarta. 

Di dalam tim, Riedl dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin. Riedl pernah ribut besar dengan Andi Darussalam--yang menjadi manajer timnas Indonesia kala itu--gara-gara keputusannya mencoret Boaz Solossa. "Pilihannya saat itu, saya atau dia yang keluar," kata Andi kepada Liputan6.com belum lama ini. 

"Saya tidak tahu apa masalahnya, tapi harusnya Riedl berkomunikasi dulu dengan saya kalau untuk urusan non teknis," pria yang akrab disapa ADS itu menambahkan. 

Lewat berbagai pertemuan, ketegangan akhirnya mereda. Namun sikap tegas Riedl tidak berubah. 

Saat memilih tim inti untuk Piala AFF 2010, Riedl membuat lidah Bambang Pamungkas kelu dan rahangnya kaku. Pemicunya adalah pernyataan Riedl pada suatu siang di tengah latihan. Saat itu, Riedl secara terbuka menyampaikan bila Bepe tidak masuk dalam skuat inti pada turnamen itu. 

Artinya, Bepe, pemain paling senior di tim hanya menjadi penghangat bangku cadangan tim Merah Putih. Lewat catatan di blog pribadinya, Bepe hanya bisa menjawab dengan satu kata, Ok!. 

Ketegasan bukanlah simbol kecongkakan bagi Riedl. Bukan juga lambang sikap otoriter. Ketegasan merupakan senjata bagi Riedl untuk mendongkrak profesionalsime pasukannya. Ketegasan juga menjadi jalan bagi Riedl dalam menjaga pasukannya tetap fokus pada misi yang mereka jalani.  

 

Warisan Riedl

Riedl memang gagal mempersembahkan trofi di musim pertamanya menangani timnas Indonesia. Pada Piala AFF 2010, Firman Utina dan kawan-kawan hanya mampu keluar sebagai runner up. Asa untuk mengakhiri paceklik gelar pupus setelah di final, tim Merah Putih kalah agregat 2-4 atas Malaysia. 

Hasil yang lebih buruk diraih saat Riedl memimpin timnas Indonesia menghadapi Piala AFF 2014. Saat itu, Tim Merah Putih gagal lolos dari babak penyisihan. Sementara pada tahun 2016, Riedl semakin lekat dengan status spesialis runner up usai gagal melewati adangan Thailand di final. 

Meski demikian, trofi bukanlah satu-satunya permasalahan sepak bola di negeri ini. Profesionalisme pengelolaan timnas Indonesia selama ini juga menjadi PR besar. Riedl perlahan mengubahnya. Menjadikan wajah Tim Merah Putih tetap bersinar meski pulang tanpa piala karena kita bisa melihat, para pemain sudah memberikan 100 persen kemampuannya saat berhadapan dengan tim lawan. 

Kehadiran Riedl juga menghadirkan atmosfer baru bagi timnas Indonesia ke depannya. Semangat profesionalisme yang ditunjukkan pasukannya telah menjadi contoh sehingga para pemain Indonesia tidak lagi canggung saat menyambut pelatih sekaliber Luis Milla atau Shin Tae-yong. 

Profesionalisme juga tak hanya ditanamkan Riedl kepada para pemainnya. Awak media yang kembali ramai memberitakan timnas Indonesia pada Piala AFF 2010 juga ikut merasakannya. Riedl tidak akan pernah meladeni pertanyaan standar tentang pasukannya. Dia selalu meminta agar wartawan juga mempersiapkan diri saat meliput Tim Merah Putih dan mengajukan pertanyaan yang penting. 

"You need me?" ujar Riedl biasa menyapa wartawan yang tengah menanti kabar terbaru mengenai timnas Indonesia.  Selamat jalan, coach. Yes, we need you!  

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan