Bola Ganjil: Stadion Ghazi dan Jeritan Arwah Penasaran Korban Taliban

Dor...wanita itu ambruk, terlalu banyak darah yang tumpah di stadion Ghazi.

Diterbitkan 21 Juli 2020, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Angker dalam terminologi sepak bola kerap dikaitkan dengan stadion-stadion di mana tim tamu sulit sekali meraih kemenangan. Namun bukan berarti kata angker dalam makna sebenarnya juga terkadang ditemukan bermakna sebenarnya bagi sejumlah stadion di dunia, termasuk Ghazi. 

Melalui rubrik Bola Ganjil yang terbiat setiap tanggal ganjil, Liputan6.com akan membawa para pembaca setia kanal bola untuk bernostalgia dengan salah satu kisah stadion yang bikin bulu kuduk merinding. Tulisan yang terbit empat tahun lalu kami remajakan lagi demi sahabat liputan6 semua. 

Seperti apa kisahnya? Langsung saja yuk. 

Afghanistan. Seperti diceritakan petualang asal Indonesia, Agustinus Wibowo, lewat bukunya berjudul "Selimut Debu" seakan sukar dilepaskan dari jejak peperangan. Aksi teror, desing peluru, kemiskinan, kesedihan, dan air mata, mewarnai perjalanan negara berpenduduk 32 juta jiwa tersebut.

Puing-puing sisa perang masih banyak berserakan di Afghanistan. Kemiskinan dan keterbelakangan juga kental terlihat, setidaknya hingga kunjungan kedua Agustinus ke Afghanistan sekitar 2006 lalu.

Di bukunya, Agustinus menulis bangunan modern memang telah menjulang di Kabul. Beragam mal dan gerai makanan bernuansa Amerika dan Eropa juga menghiasi sebagian wajah ibu kota. Namun, jejak perang dan kekejaman rezim yang berkuasa seakan tak lekang dari negeri berdebu itu.

Kota-kota di Afghanistan punya cerita kelamnya masing-masing. Jejak kengerian perang dan rezim penguasa terekam dalam berbagai bentuk, termasuk sebuah stadion sepak bola di Kabul.

 

Saksikan juga video menarik di bawah ini

Stadion Perlawanan

Stadion Ghazi, begitu orang-orang menyebutnya. Lokasinya di pusat Kota Kabul. Stadion berkapasitas 25 ribu penonton itu berdiri sejak era King Amanullah Khan 1923 lalu.

Ghazi berarti pahlawan. Nama ini diberikan untuk memperingati kemenangan Afghanistan pada perang Anglo-Afghan III. Perang ini bertujuan mempertahankan perjanjian Anglo-Afghan tahun 1919.

Pada 1941, Stadion Ghazi untuk pertama kali menggelar pertandingan internasional antara timnas Afghanistan melawan Iran. Saat itu, skor berakhir imbang tanpa gol. Pada 1963, musisi asal Amerika Serikat Duke Ellington juga pernah manggung di sana atas permintaan pemerintahan AS.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Saat ini, Stadion Ghazi sudah lebih modern. Tanah yang lama telah diganti dan ditempatkan rumput sintetis di atasnya. Lintasan lari juga diperbaiki dan lampu-lampu dipasang untuk penerangan malam. Meski demikian, status sebagai stadion angker masih terus melekat di bangunan tak beratap tersebut. "Terlalu banyak darah yang tumpah di sini," ujar Mohammad Nasim, petugas kebersihan Stadion Ghazi kepada Reuters beberapa tahun yang lalu. "Tidak ada yang mau datang ke sini saat sore, bahkan kami sendiri tidak berani masuk," kata Nabeel Qari, petugas keamanan stadion. Bagi warga Kabul, memori kelam Stadion Ghazi memang sulit untuk dilupakan. Sebab, sejak rezim Taliban berkuasa (1996-2001), stadion ini sempat digunakan sebagai lokasi eksekusi tahanan. Bukan hanya jumlahnya yang banyak, tapi cara-cara eksekusi yang dilakukan menyisakan trauma bagi warga. "Setiap orang percaya, tempat ini dihantui oleh arwah orang-orang mati yang belum beristirahat dengan tenang hingga kini," beber Nabeel Qari.

Halaman
Show All
Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan