5 Bintang SAD yang Meredup: Jadi Artis Hingga Menghilang bak Ditelan Bumi

Program SAD tidak benar-benar sukses menelurkan pemain hebat.

Diterbitkan 15 Juli 2020, 19:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Namun, Syamsir lebih banyak jadi cadangan selama dua musim berkiprah di klub tersebut. Cedera punggung membuat pemain kelahiran Kabupaten Agam, 6 Juli 1992 itu, kesulitan menemukan level permainan terbaik.

Walau jadi langganan bangku cadangan di CS Vise, Syamsir dipanggil Rahmad Darmawan untuk mengikuti seleksi Timnas SEA Games 2011. Tampil impresif selama sepekan di sesi latihan pelatnas, nama Syamsir justru tak masuk skuat inti. Situasi serupa terjadi di SEA Games 2013. Faktanya, Syamsir memang tampil di bawah ekspektasi RD. Di masa seleksi Timnas Indonesia U-23, ia mandul gol.

Pada 2013, Syamsir membuat sensasi saat digaet klub asal Amerika, DC United. Klub itu dimiliki pengusaha asal Indonesia, Erick Thohir. Tetapi, kesempatan emas berkarier di kompetisi MLS tak dimanfaatkan secara baik oleh sang pemain. Selama semusim di Washington DC, Syamsir lebih sering hanya ikut latihan saja di DC United. Namanya tidak pernah masuk line-up.

Pulang ke Tanah Air, Syamsir bergabung dengan Sriwijaya FC. Hanya, embel-embel berguru di CS Vise tak membuat sang penyerang mudah menembus posisi inti. Ia lebih sering duduk di bangku cadangan.

Karena frustrasi, Syamsir yang beberapa kali terlibat asmara dengan artis, memilih pindah ke Persipasi Bandung Raya di awal 2015. Apesnya kompetisi Indonesia Super League 2015 terhenti pada bulan April, imbas konflik antara PSSI dengan Kemenpora.

Syamsir praktis menganggur setelah ISL vakum. Saat PBR tampil di Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman, namanya tidak tercantum dalam daftar pemain.

Kiprah terakhir Syamsir adalah bersama Persiba Balikpapan pada Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016. Setelah itu, ia banting setir menjadi artis.

Reffa Money

Bakat Reffa Arvindo Badherun Money mulai tercium saat membela Timnas Indonesia U-15 pada 2006. Ia jadi figur kunci Tim Jawa Timur saat juara Piala Medco U-15 2007.

Nama pemain berdarah Maluku yang besar di Surabaya itu selalu menghiasi skuat Tim Merah-Putih junior bersama rekan seangkatannya, Syamsir Alam dan Yericho Christiantoko. Bek kelahiran 21 Januari 1992 itu jadi kapten tim SAD Uruguay 2008-2009. Namun, cedera lutut parah membuatnya tak ikut dalam rombongan pemain Indonesia yang dikirim ke CS Vise Belgia.

Reffa pulang ke Tanah Air pada pengujung 2011. Setelah itu, nama Reffa menghilang dari peredaran sepak bola nasional.

Anak dari mantan pemain Persebaya tahun 1980-an, Yusuf Money, sempat berkarier di klub Persis Solo musim 2013-2014. Terakhir, namanya masuk daftar pemain PS TNI, identitas lama Persikabo, yang berlaga di Piala Jenderal Sudirman. Namun, Reffa hanya jadi penghangat bangku cadangan.

Yericho Christiantoko

Yericho Christiantoko, yang dibina Akademi Arema FC digadang-gadang akan menjadi penerus bek kiri legendaris Indonesia, Aji Santoso. Dengan bakat alam mumpuni, Yericho selalu memperkuat Timnas Indonesia level junior interval 2005-2008.

Kariernya kian berkembang saat ikut pelatnas jangka panjang SAD Uruguay pada 2008. Tiga tahun berselang, pemain kelahiran 14 Januari 1992, dikontrak CS Vise pada 2011-2012. Ia juga masuk skuat Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2011 dengan prestasi medali perak.

Karier Yericho mulai tersendat akibat cedera lutut parah di pentas kompetisi Divisi II Belgia. Ia jarang bermain dan akhirnya dipulangkan ke Indonesia. Yericho akhirnya bergabung dengan klub yang membinanya, Arema FC pada 2013.

Di Tim Singo Edan cederanya kerap kali kambuh. Nama Yericho pun jarang masuk starting eleven di Singo Eda.

Pada akhir 2014, Yericho dilepas ke klub Divisi Utama, Persekam Metro FC. Tidak berjalannya kompetisi kasta kedua musim 2015 karena perseteruan PSSI dengan Kemenpora membuat karier sang pemain mandek.

Kabar terakhir, Yericho memperkuat Sriwijaya FC pada Liga 2 musim lalu. Belum ada informasi di mana ia bermain saat ini.

Alan Martha

Alan Martha terpilih masuk skuad SAD Uruguay dua kali pada 2008 dan 2009. Namun, talentanya mentok ketika berkiprah di kompetisi profesional.

Nama Alan Martha mulai melambung ketika ia membela Timnas Indonesia U-16 pada 2007. Duetnya bersama Syamsir Alam digadang-gadang memiliki masa depan cerah.

Namun, takdir berkata sebaliknya. Alan Martha tidak pernah benar-benar sukses sebagai pesepak bola. Sempat membela Persija Jakarta dan Sriwijaya FC, sosoknya kini hilang bak ditelan bumi.

Yandi Sofyan

Yandi Sofyan gagal memikul ekspektasi besar terhadapnya. Kariernya selalu berada di bawah bayang-bayang kakaknya, Zaenal Arif.

Sama seperti Alan Martha, Yandi Sofyan adalah bagian dari SAD Uruguay pada 2008 dan 2009. Ia sempat membela klub Belgia, CS Vise pada 2011-2012 dan Arema FC pada 2012-2014 sebelum hijrah ke Persib Bandung pada 2014-2016.

Dari Persib, Yandi Sofyan hengkang ke Bali United. Namun, ia tidak banyak mendapatkan kesempatan bermain hingga dilepas pada 2018.

Pada 2019, Yandi Sofyan menganggur karena tidak mendapatkan klub yang cocok untuknya. Pada awal tahun ini, penyerang berusia 28 tahun itu ditolak oleh Barito Putera.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Muhammad Adi Yaksa, Jonathan Pandapotan Purba, Wiwig PrayugiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan