4 Pertemuan Timnas Indonesia Vs Thailand yang Tak Terlupakan

Thailand merupakan tim yang mendominasi Asia Tenggara, dan Timnas Indonesia kerap kesulitan mengalahkan Tim Gajah Perang itu.

Diterbitkan 10 September 2019, 13:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Thailand jelas bukan lawan enteng bagi Timnas Indonesia. Tim Gajah Perang adalah raja Asia Tenggara yang tak mudah dikalahkan.

Sejarah mencatat mereka jadi tim paling sering menjadi juara Piala AFF, turnamen sepak bola bergengsi kawasan Asia Tenggara. Lima trofi (1996, 2000, 2002, 2014, 2016) diraih Thailand.

Kontradiksi dengan Timnas Indonesia, yang tak pernah juara di ajang tersebut. Paling mentok Tim Garuda menjadi runner-up pada edisi 2000, 2002, 2004, 2010, 2016.

Tim Thailand dikenal sebagai tim yang punya mentalitas kuat. Mereka tak pernah terpengaruh tekanan psikologis suporter.

Jadi jangan beranggapan duel terkini kedua tim yang dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Selasa (10/9/2019) bakal dengan mudah dimenangkan anak-asuh Simon McMenemy. Timnas Indonesia yang baru saja kalah menyakitkan 2-3 dari Malaysia di tempat yang sama akan menemui lawan sekelas batu.

Thailand akan memberi perlawanan keras sepanjang 90 menit. Bahkan tak tertutup kemungkinan negara yang tak pernah mengalami penjajahan ini akan mendikte pertandingan kedua Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G ini.

Bola.com merangkum sejumlah laga klasik antara Timnas Indonesia Vs Thailand, di mana kita berstatus sebagai tuan rumah. Simak detailnya di bawah ini:

Adu Penalti Menyakitkan di Final Piala AFF 2002

Pada Piala AFF edisi 2002, untuk kali pertama diperkenalkan dua negara menjadi tuan rumah bersama. Indonesia untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah di Piala AFF, juga pada Piala AFF 2002 kali ini. Jakarta (Indonesia) menggelar fase penyisihan Grup A sedangkan Singapura jadi tuan rumah Grup B.

Indonesia tergabung di Grup A bersama Vietnam, Myanmar, Kamboja, dan Filipina. Sementara Grup B dihuni Malaysia, Thailand, Singapura, dan Laos.

Pada penyisihan Grup A, Indonesia tidak tersentuh kekalahan. Bahkan timnas yang saat itu dilatih Ivan Kolev mampu mencetak 19 gol dan hanya kebobolan lima gol.

Namun, Indonesia gagal menjadi juara Grup A lantaran mencatat hasil dua kali menang dan dua kali seri. Indonesia hanya berada di peringkat kedua grup, sedangkan juara grup diraih Vietnam yang mampu meraih tiga kemenangan dan sekali seri.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Indonesia sempat mencatatkan hasil sensasional di fase penyisihan grup saat menggulung Filipina 13-1. Lantaran dalam posisi kritis, agar bisa ke semifinal, Indonesia yang baru mengoleksi poin lima wajib mengalahkan Filipina di laga terakhir dengan skor besar mengingat Vietnam dan Myanmar masing-masing sudah memiliki poin tujuh. Misi itu tercapai. Pesta gol Indonesia dibarengi kekalahan Myanmar dari Vietnam dengan skor 2-4 sehingga perolehan poin Tim Garuda melewati Myanmar. Sempat ada nada sumbang soal kemenangan besar Timnas Indonesia, yang dicurigai karena adanya main mata. Namun, hal itu dibantah AFF, yang menegaskan bila partai Indonesia versus Filipina berjalan bersih. Timnas Indonesia bersua Thailand di laga puncak yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Stadion legendaris satu ini penuh sesak suporter Tim Merah-Putih. Menurut catatan panpel pertandingan, total 100 ribu penonton memenuhi tribune stadion. Dalam waktu normal ditambah perpanjangan waktu 2x15 menit, skor sama kuat 2-2. Penentuan juara ditentukan dengan tos-tosan. Dalam drama adu penalti empat dari lima eksekutor Thailand berhasil menunaikan tugasnya secara sempurna. Mereka adalah Sakda Joemdaee, Terdsak Chaiman, Manit Noyvach, dan Dusit Chalermsan. Sementara Kiatisuk Senamuang, penendang pertama, gagal. Sedangkan Indonesia hanya menampilkan empat penendang karena dua di antaranya gagal menceploskan bola ke gawang. Dua pemain yang gagal mengeksekusi penalti itu adalah Bejo Sugiantoro yang tendangannya membentur tiang dan Firmansyah melebar dari gawang Thailand yang dijaga Kittisak Rawangpa. Kiper Timnas Indonesia, Hendro Kartiko, gagal membendung penalti Manit Noyvach (Thailand) di final Piala AFF 2002. (AFP/Weda)Kegagalan Indonesia dalam adu penalti ini memunculkan cerita lain. Banyak dari kalangan pencinta sepak bola nasional yang merasa tidak puas dengan eksekutor penalti pilihan Ivan Kolev. Kabar yang mencuat ke permukaan, Ivan Kolev kesulitan memilih para eksekutor penalti karena para pemain jeri. Para pemain konon merasa tidak kuat mental menendang penalti yang begitu berat risikonya di depan puluhan ribu suporter. Meski tidak ada yang berani membenarkan kabar itu, yang pasti, kegagalan ini cukup menyakitkan buat publik Indonesia. Sedikit kebanggaan yang dimiliki adalah komposisi Timnas Indonesia ketika itu dianggap paling kuat dalam sejarah keikutsertaan di Piala AFF. Termasuk penghargaan sepatu emas yang diterima Bambang Pamungkas setelah berada di urutan teratas pencetak gol terbanyak dengan koleksi delapan gol, jadi penghibur Indonesia dalam Piala AFF edisi keempat ini. Separuh gol Bepe lahir saat partai melawan Filipina, sisanya hattrick kala Timnas Indonesia menumbangkan Kamboja 4-2 dan satu gol saat melawan Malaysia di semifinal.

Halaman
Show All
Ario Yosia, Windi WicaksonoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan