5 Bek Tangguh Timnas Indonesia untuk Kualifikasi Piala Dunia 2022

Ilustrasinya, formasi 3-4-3 Timnas Indonesia secara elastis akan berubah menjadi 5-3-2 saat bertahan.

Diterbitkan 24 Agustus 2019, 21:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Skema 3-4-3 yang diterapkan pelatih Timnas Indonesia Simon McMenemy memiliki konsekuensi. Tim Garuda butuh bek kuat untuk mengawal lini belakang.

Pasalnya di skema satu ini hanya akan ada tiga bek saja yang ada di poros belakang. Kuartet bek kesemuanya dihuni pemain berkarakter stoper.

Mereka harus kuat dalam duel satu lawan satu, jago duel udara, dan matang membaca arah permainan. Ketiganya pun harus juga komunikatif berkomunikasi satu sama lain, mengingat mereka bakal jadi sangsak saran penyerang-penyerang lawan.

Trio stoper tidak bekerja sendirian, mereka dikawal dua fullback. Ilustrasinya, formasi 3-4-3 Timnas Indonesia secara elastis akan berubah menjadi 5-3-2 saat bertahan.

Dua gelandang (yang sejatinya merupakan fullback) bakal turun ke belakang, demikian pula seorang penyerang di posisi depan. Tapi hitungan di atas kertas tersebut tak selalu berjalan selama 90 menit pertandingan.

Dalam banyak situasi, trio bek harus berjuang sendiri tanpa bantuan dari lini tengah dan depan.

Dengan kata lain Simon McMenemy butuh bek tengah berkarakter agar tidak jadi bulan-bulanan tim pesaing di Kualifikasi Piala Dunia 2022 nanti.

Berikut ini bek-bek tengah yang jadi andalan Timnas Indonesia. Apa kelebihan dan kekurangan mereka?

 

Ricky Fajrin

Ricky Fajrin sejatinya bukan seorang stoper, posisi aslinya adalah bek sayap (fullback).

Ia menjalankan peran barunya di Timnas Indonesia, atas intruksi Luis Milla, yang melihat pemain kelahiran 6 September 1995 tersebut lebih berguna kalau ia dipasang di jantung pertahanan.

Dengan tinggi badan standar kebanyakan (175 cm) ia amat kuat bola udara. Ia dikenal pemain yang disiplin mengawal pertahanan, konsentasinya jarang goyah sepanjang laga.

Dipasang sebagai bek sayap, Ricky Fajrin dinilai kurang punya kecepatan. Kelemahan satu ini bisa tertutupi dengan ia dipancang sebagai stoper.

Sejak membela Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2017, hingga kini pelatih Timnas Indonesia berganti, Ricky yang bermain di Bali United hampir tak pernah absen membela Tim Garuda.

Hansamu Yama

Hansamu Yama jadi aset berharga Timnas Indonesia. Pemain didikan Indra Sjafri saat menukangi Timnas Indonesia U-19 pada periode 2012-2014 itu, kini menjelma jadi salah satu bek tengah terbaik di Indonesia.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pemain belakang asal Mojokerto tersebut meneruskan tradisi bek-bek tangguh Tim Merah-Putih. Ia diprediksi bakal sama hebat dengan Sudirman, Bejo Sugiantoro, Charis Yulianto, sederet bek tengah legendaris timnas. Dengan postur tinggi menjulang (180 cm), Hansamu amat kuat dalam duel satu lawan satu plus udara. Ia kerap mencetak gol lewat sundulan buat Timnas Indonesia lewat skema set piece. Di usianya yang baru 24 tahun, ia sudah terlihat amat matang membaca arah permainan. Di sisi lain, ia amat disukai karena punya skill individu lumayan. Hamsamu bisa menguasai bola dengan baik. Ia kerap difungsikan untuk memulai permainan, transisi bertahan ke menyerang. Karena kemampuannya yang lengkap sebagai bek, posisinya tak terusik saat Timnas Indonesia melalukan pergantian pelatih. Mulai dari Alfred Rield, Luis Milla, Bima Sakti, dan kini Simon McMenemy selalu memakai jasanya.    

Halaman
Show All
Ario Yosia, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan