3 Penyebab Lionel Messi Sulit Maksimal di Timnas Argentina

Namun, anomali karier Lionel Messi terjadi di level tim nasional. Lionel Messi tidak pernah sukses bersama Timnas Argentina.

Diterbitkan 27 Juni 2019, 10:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pergantian Pelatih yang Terlalu Sering

Lionel Messi membuat debut klub resminya pada Oktober 2004 dan dalam 15 tahun di Barcelona, ​​ia hanya ditangani enam pelatih saja. Rata-rata mereka bertahan selama tiga musim di Tim Catalan. Praktis hanya Tito Vilanova (yang secara tragis didiagnosis menderita kanker hanya satu tahun dalam masa jabatan manajerialnya) dan Gerardo Martino yang lengser lebih cepat karena dinilai gagal menyajikan prestasi.

Sebaliknya, selama 15 tahun bersama tim nasional, Messi telah dipimpin sembilan pelatih, mulai dari Jose Pekerman hingga Lionel Scaloni.

Yang mengejutkan, kesembilan pria yang melatih Messi di Timnas Argentina itu memiliki temperamen yang berbeda-beda.

>Sebut saja Diego Maradona yang emosinya labil dan doyan ribut dengan pemain atau Alejandro Sabella yang dikenal santun dalam bertutur kata.

Masing-masing pelatih membawa pola bermain yang berbeda. Ia memakai pemain-pemain yang mendukung strateginya.

Perubahan ini membuat performa Timnas Argentina tak stabil. Tim Tango tidak pernah punya pondasi starting eleven yang bersifat tetap. Buat Messi ini amat mengganggu, karena ia harus beradaptasi dengan rekan baru setiap pelatih baru datang.

Tekanan Terlalu Tinggi

Adalah fakta sepak bola di Argentina hampir merupakan sebuah agama, suguhan permainan indah berbalut fanatisme jadi tontonan sehari-hari.

Kenyataannya selama 28 tahun, Argentina puasa trofi internasional.

Hingga hari ini, Diego Maradona dipuja sebagai dewa di negaranya karena kepahlawanannya membawa pulang Piala Dunia 1986 dan sejak itu, penggemar Argentina berharap munculnya juru selamat baru.

Kedatangan Messi seperti jawaban doa masyarakat Argentina. Ia diharapkan bisa menjadi  Next Maradona.

Tekanan untuk mengembalikan trofi besar yang sudah lama ditunggu-tunggu dan menjadi sebuah pembenaran bagi rekan senegaranya, selalu tampak jelas terlihat saat  Messi keluar dengan mengenakan kostum kebesaran Argentina.

Ia tidak memiliki kebebasan dan ketenangan seperti saat membela Barcelona. Bagus atau jeleknya hasil Argentina selalu dikaitkan dengan Messi. Sementara di Barcelona, tidak selalu demikian.

 

Sumber: Bola.com

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Ario Yosia, Erwin Fitriansyah, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan