6 Skandal Pengaturan Skor yang Mengguncang Sepak Bola Dunia

Ada pihak yang merusak esensi dari sepak bola demi keuntungan sendiri dengan mengatur alur atau hasil pertandingan.

Diterbitkan 07 Juni 2019, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kasus itu membuat Marseille terdegradasi ke Ligue 2 dan Tapie dilarang untuk terlibat dalam dunia sepak bola dalam sisa hidupnya.

Bruce Grobbelaar (1994)

Kasus pengaturan skor sangat jarang terjadi di Inggris, faktor yang membuat pendukung di negara tersebut dapat merasa bangga dengan integritas dari sepak bola di negara tersebut. Hal ini membuat kasus yang terjadi pada 1994 sangat mengejutkan.

Saat itu penjaga gawang Liverpool, Bruce Grobbelaar, dan dua pemain Wimbledon, Hans Segers dan John Fashanu, didakwa terlibat dan menjalani proses persidangan. Hingga saat ini ketiganya masih membantah keterlibatan mereka.

Pada akhirnya proses persidangan yang berlangsung sebanyak dua kali tidak dapat menghasilkan vonis dan ketiga pemain tetap dapat terlibat dalam dunia sepak bola.

Calciopoli (2006)

Salah satu skandal terbesar dalam sejarah sepak bola Italia, kasus Calciopoli terjadi pada 2006 dan juga mengejutkan dunia sepak bola. Otoritas Italia menyadap beberapa percakapan di telepon dan mengetahui adanya pihak manajemen klub yang terlibat dengan asosiasi wasit untuk memilih wasit yang dapat memberikan keuntungan kepada klub mereka masing-masing.

Klub-klub seperti AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina mendapatkan sanksi pengurangan poin dan larangan tampil dalam kompetisi Eropa. Juventus menjadi klub yang mendapatkan sanksi terberat dengan pencabutan dua gelar juara Serie A yang diberikan kepada Inter Milan, dan kemudian diturunkan ke divisi kedua (Serie B).

Serie C Italia (2011)

Kembali ke Italia, pada 2011 terdapat kasus pengaturan skor yang juga mengejutkan, kali ini di divisi ketiga (Serie C). Kali ini pelaku yang melakukan pengaturan atau yang berusaha menentukan hasil pertandingan adalah penjaga gawang Paganese.

Marco Paolini terbukti meracuni minuman yang digunakan oleh para pemain Cremonese yang membuat mereka tidak dapat menunjukkan performa yang maksimal ketika kedua tim berhadapan. Paolini melakukan hal tersebut untuk melunasi utang yang didapatnya akibat perjudian.

Pada akhirnya Paolini mendapatkan sanksi larangan terlibat dalam dunia sepak bola selama lima tahun.

Pesta Gol Liga Nigeria (2013)

Pindah ke benua Afrika, tepatnya ke Nigeria, skandal pengaturan skor yang terjadi di divisi kedua negara tersebut mengejutkan dunia pada 2013 akibat dua kejadian yang mengejutkan dalam upaya tim yang terlibat untuk masuk ke divisi teratas.

Plateau United Feeders dan Police Machine memperebutkan tiket terakhir untuk masuk ke divisi teratas. Feeders menghadapi Akurba dan unggul 7-0 pada babak pertama, sementara Police unggul 6-0 atas Babayaro FC.

Pada babak kedua, Feeders mendapatkan tambahan 72 gol dan meraih kemenangan 79-0 atas Akurba, membuat mereka mendapatkan tiket promosi akibat Police yang “hanya” mendapatkan kemenangan 67-0 atas Babayaro FC. Keempat tim yang terlibat mendapatkan larangan untuk beroperasi selama sepuluh tahun.

 

Sumber: Bola.com

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Ario Yosia, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan