Sukses

Keajaiban di Anfield, Malam Spesial Liverpool

Liputan6.com, Liverpool - Saat menatap laga leg kedua semifinal Liga Champions, tidak sedikit yang beranggapan Liverpool bakal tersingkir setelah kalah 0-3 dari Barcelona di leg pertama yang berlangsung di Camp Nou.

Pasukan Jurgen Klopp butuh menang 4-0 jika ingin mengamankan tiket ke final Liga Champions. Mengalahkan Barcelona dengan skor 4-0 di Anfield, seperti hal yang mustahil bagi The Reds.

Seperti butuh keajaiban untuk mewujudkannya. Apalagi, Liverpool harus menjamu Barcelona tanpa Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Naby Keita.

Tapi, nyatanya tidak ada yang tidak mungkin dalam sepak bola. Jordan Henderson dan kawan-kawan membuat keajaiban.

Lewat semangat yang ditularkan sejak dari ruang ganti, para pemain Liverpool langsung menggebrak. Gol cepat Divock Origi pada menit ketujuh jadi pemicu.

Di babak kedua, Georginio Wijnaldum, yang masuk sebagai pemain pengganti, sukses mencetak dua gol ke gawang Barcelona dalam kurun waktu dua menit yakni pada menit ke-54 dan ke-56.

Lewat proses yang menarik, Origi mencetak gol keempat Liverpool dalam pertandingan itu. Trent Alexander-Arnold melakukan tipuan saat melakukan sepak pojok, seolah akan memberikan tempat kepada Xherdan Shaqiri, namun, dia menyadari kelengahan Barcelona.

Pemain internasional Inggris itu segera kembali ke sudut dan melepaskan umpan terukur untuk Divock Origi, yang berhasil mengkonversinya jadi gol keduanya atau gol keempat untuk Liverpool dalam laga tersebut.

"Saya sangat bangga menjadi pelatih tim ini. Apa yang mereka lakukan malam ini sangat spesial dan saya akan mengenangnya selama- lamanya," kata Klopp, seperti dilansir situs UEFA.

"Jika Anda bertanya kepada orang-orang di luar sana maukah bertaruh satu peser saja untuk kami, saya rasa Anda tidak akan menemukan banyak orang," ujarnya pelatih asal Jerman itu.

2 dari 3 halaman

Menilik Sejarah

Jika menilik sejarah, tiga tim lain pernah membalikkan ketertinggalan tiga gol atau lebih untuk melangkah ke babak berikutnya di Liga Champions.

Menariknya Barcelona tiga kali terlibat dalam situasi tersebut, sekali sebagai pembalik keadaan dan dua kali sebagai tim yang menjadi korban lawan yang bangkit.

Pada musim 2003-2004, Deportivo La Coruna sukses membalikkan ketertinggalan 1-4 dari AC Milan untuk kemudian menang 4-0 dan lolos ke semifinal. Pada 2016-2017, Barcelona kalah 0-4 di laga pertama sebelum menang telak 6-1 atas Paris Saint-Germain di laga kedua.

Sedangkan pada 2017-2018, giliran Barcelona merasakan kali pertama jadi korban di tangan AS Roma. Menang 4-1 di laga pertama, Roma membalikkan keadaan dan menang 3-0 demi lolos berbekal agregat gol tandang.

Kapten Liverpool, Jordan Henderson, mengungkapkan bagaimana suasana ruang ganti sebelum pertandingan, yang menunjukkan keyakinan sangat luar biasa untuk melakukan keajaiban seperti final Liga Champions 2005 di Istanbul, kala The Reds bangkit usai tertinggal 0-3 dari AC Milan dan menang lewat adu penalti.

"Keyakinan di ruang ganti sangat luar biasa. Kami tahu bahwa kami bisa melakukan sesuatu yang spesial," ujar Henderson, seperti dilansir situs resmi UEFA.

3 dari 3 halaman

Momen Terbaik

"Ini malam spesial di Anfield. Lihatlah ke fans dan pemain, ini malam yang spesial. Ini setara dengan momen-momen terbaik," kata gelandang asal Inggris ini.

Final Liga Champions tahun ini menjadi final kesembilan untuk Liverpool sepanjang sejarah mereka, lima final di antaranya berhasil mereka menangkan. Kini, klub asal Merseyside ini siap melawan pemenang antara Ajax Amsterdam dan Tottenham Hotspur, yang akan mereka hadapi di final yang berlangsung di Wanda Metropolitano, Madrid pada 1 Juni 2019.

Saksikan video pilihan di bawah ini

Loading
Artikel Selanjutnya
Sadio Mane Bersinar, Liverpool Atasi Southampton
Artikel Selanjutnya
Dipinjamkan ke Bayern Munchen, Impian Coutinho di Barcelona Dinilai Berakhir Tragis