Sukses

5 Rahasia Menarik Bintang Proliga Tri Retno Mutiara

Liputan6.com, Jakarta - Tri Retno Mutiara kembali menjadi andalan tim putri BNI 46 pada Proliga 2019. Tidak hanya itu, pemain berusia 21 tahun ini juga dipercaya sebagai kapten tim di kompetisi bola voli kasta tertinggi di Indonesia itu.

Tiara, sapaan akrabnya, mulai terjun di Proliga sejak 2013 lalu. Saat itu, Tiara yang masih berusia 15 tahun memperkuat tim Jakarta Monas Bank BNI.

Nama Tiara mulai dikenal saat membela tim putri Jakarta Elektrik PLN di Proliga 2015. Ia membantu tim asuhan Tian Mei itu menjadi juara. Selain itu, ia juga menyabet penghargaan sebagai setter terbaik.

Performa bagus Tiara di Proliga membawa kariernya berlanjut ke timnas Indonesia. Dia dua kali membuat timnas voli Indonesia pada ajang SEA Games 2015 serta 2017. Mimpianya untuk bermain pada ajang Asian Games pun terwujud saat pesta olahraga se-Asia itu digelar di Jakarta.

Namun, ada beberapa hal yang tidak diketahui publik bola voli tentang wanita kelahiran Cirebon, 1997 itu. Berikut 5 rahasia menarik Tri Retno Mutiara yang dihimpun Liputan6.com.

2 dari 6 halaman

1. Dinilai Berbakat

Bola voli bukan olahraga pertama yang digeluti Tri Retno Mutiara. Dara berusia 21 tahun itu sebelumnya pernah akrab dengan renang dan bulu tangkis di sela-sela kesibukan les bahasa Inggris setelah pulang sekolah.

Darah bola voli mengalir dari kedua orangtuanya. Tetapi, saat itu ia tak terlalu menekuninya. "Yang penting asal bisa passing," kata Tiara, panggilan akrabnya, yang sudah akrab dengan voli sejak masih duduk di sekolah dasar.

Tiara baru benar-benar serius menekuni voli setelah bergabung dengan klub Wahana di Bandung. Dia direkrut karena dinilai memiliki bakat. "Orang-orang melihat aku memiliki bakat, seperti om Risco (Herlambang, pelatih Wahana Bandung)," ucapnya.

3 dari 6 halaman

2. Tidak Lolos Seleksi Sekolah Atlet Ragunan

Tiara sempat mengikuti seleksi di Sekolah Atlet Ragunan Jakarta saat masih duduk di sekolah menengah pertama. Ketika itu, sekolah yang melahirkan legenda bulu tangkis Susi Susanti itu kekurangan kuota siswa.

Saat memutuskan sekolah menengah atas di Bandung, Tiara mendapat tawaran kembali untuk masuk Sekolah Atlet Ragunan. "Tapi, akunya sudah tidak mau.

4 dari 6 halaman

3. Jarang Sekolah, Dapat Ranking

Pindah ke Bandung karena bergabung dengan klub voli Wahana, Tiara melanjutkan pendidikannya di SMA Pasundan 1. Tetapi, dara kelahiran Cirebon, 16 November 1997, ini jarang masuk sekolah.

Tiara lebih banyak mengikuti kompetisi bola voli untuk membela nama sekolah, klub, dan daerah. "Teman-teman SMA-nya itu teman-teman voli juga. Jadi kalau ada event atau multievent, seperti Popnas atau lainnya, itu kelasnya kosong," cerita Tiara.

Meski jarang masuk sekolah karena sibuk dengan voli, Tiara justru mendapat ranking. "Aku nggak masuk-masuk saja, masa aku ranking dua," tuturnya.

Tiara menambahkan, biasanya setelah dia membawa sekolah atau Kota Bandung menjadi juara selalu diapresiasi oleh pihak sekolah. "Setiap Senin saat upacara, anak-anak yang juara itu dipanggil ke depan," ucapnya.

5 dari 6 halaman

4. Cedera Tangan Kiri

Saat mengikuti kejuaraan daerah di Subang, beberapa tahun silam, bus yang mengangkut rombongan tim bola voli Kota Bandung mengalami kecelakaan. Tri Retno Mutiara salah satu penumpang di dalam bus tersebut.

Akibat kecelakaan itu, urat syaraf dekat jari tengah tangan kiri Tiara putus. Cedera itu sangat mengganggu Tiara yang berposisi sebagai setter atau pengumpan. "Waktu di Asian School Thailand masih sakit," kata Tiara.

Tiara sempat berencana melakukan operasi atas cedera itu. Namun, hingga kini urung dilakukan. "Sekarang sudah tidak sakit. Tapi, tetap kalau main tetap masih diplester dengan jari manis agar lebih kuat," tuturnya.

6 dari 6 halaman

5. Investasi Sejak Muda

Tiara sudah menghasilkan uang sendiri sejak mengikuti kompetisi bola voli di usia 13 tahun. Bermain di Proliga membuat tabungannya terus bertambah.

Ditambah lagi dengan bonus usai membawa Jawa Barat meraih medali emas PON 2016. Saat itu, ia mengaku mendapat bonus sekitar Rp 130 juta. 

Namun, berbeda dengan anak-anak seumurannya yang hobi belanja. Tiara justru menambungkan uang hasil jerih payahnya dari voli.

Uang itu dititipkan ke mamahnya untuk ditabung. "Aku paling di ATM hanya pegang Rp 500 ribu," ucapnya.

Berkat rajin menabug, Tiara pun dapat mewujudkan impiannya untuk memiliki mobil Honda Jazz pada 2016 lalu. Tak hanya itu, dia juga telah memiliki rumah bertingkat di kota kelahirannya, Cirebon.

Kini, Tiara juga memiliki bisnis hijab. "Mutiara1.id," ucapnya tentang situs hijab miliknya. "Awalnya aku yang memilih bahan dan ikut merancang. Kini, kakak yang mengelola."

Loading
Artikel Selanjutnya
Jadwal Proliga 2020: Persaingan Panas Menuju Final Four
Artikel Selanjutnya
Jadwal Proliga 2020: Berebut Tiket Final Four