Sukses

3 Hal Menarik yang Bikin Pembalap Sepeda Dunia Terkesan dengan Tour de Singkarak

Bukittinggi - Tour de Singkarak telah berlangsung selama 10 tahun. Dalam periode tersebut, Tour de Singkarak selalu mampu menarik animo pembalap-pembalap dari berbagai penjuru dunia.

Tour de Singkarak pertama kali dihelat pada 23 April sampai 3 Mei 2009. Lomba tersebut digagas Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Selain Kementerian Pariwisata, Tour de Singkarak juga didukung pemerintah provinsi Sumatra Barat dan kabupaten/kota yang daerahnya dilalui oleh peserta.

Pada edisi perdana Tour de Singkarak diikuti 21 tim yang berasal dari 15 negara. Para pembalap menempuh jarak hingga 459 kilometer dan memperebutkan total hadiah Rp 600 juta.

Dari tahun ke tahun, perhelatan Tour de Singkarak semakin diminati. Bahkan, balap sepeda dengan kategori 2.2 itu masuk dalam kalender Union Cycling International (UCI) Asia Tour.

Pada Tour de Singkarak 2018 tercatat ada 107 pembalap sepeda dari 20 tim yang ikut ambil bagian. Para pembalap tersebut berasal dari 14 negara, mulai dari Korea Selatan, Jepang, Jerman, Belanda, Filipina, Thailand, Malaysia, Ukraina, Kolombia, Iran, serta tuan rumah Indonesia.

Hingga memasuki etape IV, sudah ada empat pembalap berbeda yang berhasil meraih podium juara. Pada etape I, pembalap Indonesia, Jamalidin Novardianto sukses finis terdepan, disusul Oleksandr Polivoda pada etape II, Jesse Ewart pada etape III, dan Thanakhan Chaiyasombat yang memenangkan etape IV.

Terus meningkatnya jumlah peserta tidak lepas dari perhelatan Tour de Singkarak yang terorganisir dengan baik, serta mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Sumatra Barat.

Selain itu, beberapa faktor lainnya juga membuat pembalap dari seluruh dunia ikut berpartisipasi dalam ajang Tour de Singkarak. Berikut ini adalah tiga hal yang membuat pembalap asing terus kepincut dengan ajang Tour de Singkarak.

 

2 dari 4 halaman

Budaya dan Kuliner Sumatra Barat

Tak bisa dipungkiri kebudayaan dan kuliner di Sumatra Barat menjadi daya tarik bagi wisatawan di dalam dan luar negeri. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Sumatra Barat untuk menikmati sajian budaya dan kuliner Minangkabau.

Hal itu pun diakui pembalap Nex CCN Cycling Team, Robert Muller. Pria yang berhasil merengkuh green jersey (juara sprint) pada Tour de Singkarak 2017 menyukai makanan dan masyarakat di Sumatra Barat.

"Saya menyukai makanan di sini, saya juga sudah berada di Indonesia selama tujuh atau delapan pekan. Saya juga suka jajanan di pinggir jalan," ucap Muller.

"Tetapi, saya tidak terlalu menyukai makanan pedas, karena itu membakar mulut saya. Oleh karena itu, saya selalu memesan makanan yang tidak pedas," papar pembalap asal Jerman tersebut.

"Saya menyukai kebudayaan di Sumatra Barat, khususnya rumah dengan atap tradisonal (Rumah Gadang). Masyarakat di sini juga sangat ramah," lanjut Muller.

Hal senada diutarakan rekan setim Robert Muller, Lex Nederlof. Pembalap tertua di Tour de Singkarak 2018 itu menyebut masyarakat di Sumatra Barat sangat ramah dan menyenangkan.

"Saya menyukai masyarakat di sini dan dukungan dari orang-orang setempat. Masyarakat di sini sangat antusias dan itu membuat balapan jauh lebih baik," kata Lex.

3 dari 4 halaman

Jalur dan Keindahan Alam di Sumatra Barat

Tour de Singkarak merupakan satu di antara ajang balap sepeda yang memiliki rute terpanjang di Asia. Untuk tahun ini, Tour de Singkarak menempuh jarak 1.244,1 kilometer yang terbagi dalam delapan etape.

Selain itu, ratusan pembalap tersebut juga melewati beberapa jalur yang dianggap sulit, mulai dari Kelok 44 (categorie 1), Kelok 9 (categorie 2), hingga tanjakan di kawasan Batudalam dan Lubuk Selasih yang masuk dalam Hors categorie (HC).

Kendati memiliki lintasan yang terbilang berat, para pembalap juga disuguhi keindahan alam di Sumatra Barat. Ratusan pembalap tersebut melewati sejumlah objek wisata, mulai dari Danau Singkarak, Danau Maninjau, Istana Basa Pagaruyung, Lembah Harau, dan Pantai Cimpago.

"Tour de Singkarak adalah salah satu balapan terpanjang di Asia Tenggara yang berlangsung selama 8 hari," ucap Lex Nederlof.

"Menurut saya, di Asia Tenggara, balapan ini adalah yang terbaik, dengan lintasan yang sulit mulai dari berbelok-belok hingga jalur lurus yang panjang. Jadi Anda harus berhati-hati saat membalap di sini," kata Lex.

Hal senada diutarakan oleh pembalap Team Sapura Cycling, Jesse Ewart. Menurutnya, balapan di Tour de Singkarak selalu menyenangkan dan penuh tantangan, terutama saat melintasan jalan berbelok.

"Kelok 44 adalah tanjakan yang sangat indah, namun itu jalur yang sulit, menyenangkan, dan luar biasa. Saya berharap Kelok 44 akan selalu ada di Tour de Singkarak," ucap Jesse yang masih memegang yellow jersey hingga etape IV.

4 dari 4 halaman

Hadiah Tour de Singkarak

Masuk level 2.2 dan bagian dari kalender Union Cycling International (UCI) Asia Tour, ajang Tour de Singkarak mampu menjadi daya tarik pembalap dari seluruh dunia. Apalagi, hadiah di ajang ini terus meningkat setiap tahunnya.

Pada edisi perdana total hadiah mencapai Rp 600 juta, kini para pembalap akan memperebutkan nilai uang sebesar Rp 2,3 miliar. Dengan jumlah tersebut, Tour de Singkarak adalah satu di antara ajang balap sepeda jalan raya dengan total hadiah yang cukup besar.

"Banyak pembalap internasional yang ingin ikut. Dengan 8 etape dan hadiah yang mencapai Rp 2,3 miliar, itu sangat besar," kata Director Tour de Singkarak 2018, Jamaludin Mahmud.

"Sepanjang pengalaman saya di Asia, Tour di Singkarak memiliki hadiah yang paling besar yang masuk level 2.2. Malah dengan nilai seperti itu Tour de Singkarak hampir sama dengan dengan ajang yang jauh lebih besar," paparnya.

TOP 3 | Maudy Ayunda akhirnya Pilih Stanford University
Loading
Artikel Selanjutnya
Tour de Singkarak 2018: Yellow Jersey Masih Dikuasai Pembalap Australia
Artikel Selanjutnya
Budaya Minang Lepas Etape Pertama Tour de Singkarak 2018