Luka Modric, Bekas Pengungsi Kandidat Peraih Ballon d'Or

Cerita Luka Modric, mantan pengungsi yang diprediksi bakal meraih trofi Ballon d'Or.

Diterbitkan 16 Juli 2018, 22:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta, - Prancis mengalahkan Krosia 4-2 pada final Piala Dunia 2018, Minggu (15/7/2018). Tak lama setelah laga usai, hujan deras mengguyur Stadion Luzhniki, Moskow. Air hujan bercampur dengan air mata pemain dan pendukung Kroasia, yang terpaksa mengubur mimpi mereka untuk meraih trofi prestisius Piala Dunia. Tak terkecuali, Luka Modric. 

Di tengah guyuran hujan, kapten Kroasia, Luka Modric, maju mengambil trofi Golden Ball. Dia dinobatkan jadi pemain terbaik pada Piala Dunia 2018. Tak lama berselang, dia terlihat emosional saat dipeluk Presiden Kroasia, Kolinda Grabar-Kitarovic. Mereka sama-sama mengenakan jersey putih-merah milik Kroasia. 

Modric tak tampak bahagia diganjar penghargaan gelar pemain terbaik. Mungkin wajahnya bakal berhias senyum lebar jika Kroasia mampu mengalahkan Prancis di final, bukan sebaliknya. 

Kroasia berutang banyak kepada Modrid atas prestasi fenomenal menjadi runner up pada Piala Dunia edisi ini. Pemain Real Madric itu bukan sekadar menyumbangkan dua gol dan satu assist penting untuk timnya. 

Namun, Modric selalu bekerja keras tak kenal lelah di sektor tengah lapangan. Dia juga cerdik menggunakan visinya untuk memimpin timnya, menyetel tempo, mengirim umpan-umpan brilian, dan mengeksploitasi ruang di area pertahanan lawan. 

Luka Modric juga pandai memotivasi rekan-rekannya saat Kroasia dalam posisi tertekan, termasuk menghadapi perpanjangan waktu. Dia kemungkinan mengembangkan kekuatan bertahan dalam tekanan itu saat menjalani masa kecil yang penuh tantangan. 

Masa Kecil Penuh Tantangan

Saat Modrid berusia enam tahun, keluarganya menjadi pengungsi. Milter Serbia saat itu menyerang kota kelahiran Modrid, di Modrici, pada 8 Desember 1991. Kakeknya ditembak dan rumahnya dibakar. Keluarga Modric terpaksa mengungsi.

"Ketika perang pecah, kami menjadi pengungsi. Itu situasi yang sangat berat. Saya baru berusia enam tahun. Saya mengingat memori itu dengan jelas, tapi itu memori yang tak ingin Anda ingat," kata Modrid kepada The Sun.

Modric dan keluarganya pindah ke Kota Zadar, Kroasia, dan kesulitan membangun rumah. "Kami tinggal di hotel selama bertahun-tahun, karena mengalami kesulitan finansial. Tapi saya selalu menyukai sepak bola," imbuh Modric.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Menurut media Kanada The Loop, Modric tumbuh dengan berlatih sepeda di parkiran kosong. Namun, semua kesulitan itu malah membuat Modric menjadi kuat. "Perang membuat saya kuat. Itu masa yang sangat berat bagi saya dan keluarga. Saya tak ingin terus mengingatnya, tapi juga tak ingin melupakannya begitu saja," imbuh mantan pemain Tottenham Hotspur itu.

Halaman
Show All
Yus Mei Sawitri, Aditya WicaksonoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan