LEGENDA: Zvonimir Boban, Gelandang Cerdas Bernyali Pejuang

Zvonimir Boban, bukan hanya ikon sepak bola tapi pahlawan bagi masyarakat Kroasia.

Diterbitkan 30 Maret 2018, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta 13 Mei 1990 tercatat sebagai salah satu sejarah kelam sepak bola. Duel Dynamo Zagreb dan Red Star Belgrade di Maksimir Stadium berubah menjadi arena pertempuran paling brutal. Puluhan korban berjatuhan. Pertempuran bahkan menjalar hingga ke luar stadion. Dan satu nama yang tidak akan terlupakan dalam insiden ini tentu saja, Zvonimir Boban!

Pria kelahiran Imotski, 8 Oktober 1968 itu bukan lagi ikon lapangan hijau bagi para penggemarnya. Dalam kekacauan ini, Boban menjelma menjadi patriot yang mengobarkan semangat kemerdekan Kroasia sampai akhirnya berdiri menjadi satu negara berdaulat.

Sejak kematian Marshal Tito, 4 Mei 1980, perpecahan segera menggerogoti Yugoslowakia (kini sudah tidak ada lagi). Kroasia, Serbia, Slovenia, dan Montenegro yang selama ini berada di bawah satu bendera tidak lagi bisa hidup berdampingan. Keinginan merdeka yang kuat membuat masing-masing kelompok kerap bergesekan satu dengan yang lainnya.

Panggung politik tidak hanya di parlemen atau jalanan. Sepak bola juga menjadi lahan subur dalam mengobarkan semangat nasionalisme Kroasia. Tulisan di spanduk maupun nyanyian yang dikumandangkan sepanjang pertandingan membuat atmosfer pertandingan semakin kental dengan aroma politik. Dan suasana inilah yang menjadi latar belakang pertempuran antarsuporter Dynamo Zagreb Vs Red Star Belgrade, 13 Mei 1990 lalu.

Semangat nasionalisme dan sepak bola sebenarnya jodoh yang serasi. Tim underdog tidak jarang berubah menjadi raksasa menakutkan akibat semangat Cinta Tanah Air tersebut. Namun di Maksimir Stadium, semangat ini justru jadi bahan bakar pemicu bentrok.

Sebagai penghuni papan atas liga Yugoslowakia, pertandingan Dynamo dan Red Stars memang kerap berjalan dalam tensi tinggi. Namun sore itu, ketegangan bertambah menyusul semakin kuatnya keinginan Kroasia memisahkan diri dari Yugoslowakia.

Pimpinan Serbia, Slobodan Milosevic, menentangnya. Sebanyak 3000 fans kemudian bertolak ke Zagreb. Mereka dipimpin oleh Zeljko Raznatovic atau dikenal dengan panggilan Arkan, salah seorang nasionalis Serbia yang belakangan menjadi penjahat perang.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Fans Dynamo yang menamakan diri Bad Blue Boys merupakan nasionalis tulen dan tidak jarang bergabung dengan tentara Kroasia. Setali tiga uang, sebagian besar pendukung Red Star Belgrade yang dikenal dengan sebutan Delije juga adalah bagian dari militer Serbia. Boleh dikatakan, suporter kedua tim bukan pendukung biasa. Sebagian dari mereka sudah terlatih dalam pertempuran. Jelang laga, perkelahian sebenarnya sudah pecah di jalan-jalan menuju Maksimir Stadium. Namun bentrok paling besar berlangsung di dalam stadion. Terprovokasi lemparan batu dari Bad Blue Boys para pendukung Red Star yang ditempatkan terpisah akhirnya merobek papan iklan dan mulai menyerbu suporter Dynamo dengan kursi dan pisau belati. Tribune penonton sudah jadi arena pertempuran saat kedua kesebelasan pemanasan. Polisi juga tidak berbuat banyak untuk melerai kericuhan. Bad Blue Boys kemudian turun ke lapangan. Namun upaya mereka dihalangi petugas dan akhirnya memicu bentrok susulan. Sebagian pemain segerea dievakuasi ke ruang ganti. Namun beberapa pemain Dynamo, termasuk Boban tetap tinggal di lapangan. Mereka berusaha melindungi suporter yang dipukuli polisi. Namun upaya mereka justru berbuah pukulan dari polisi yang bertugas. Kesal melihat sikap polisi yang dianggap memihak, Boban pun lepas kendali. Dengan kemarahan yang memuncak, dia melayangkan tendangan kungfu ke salah satu polisi yang berusaha menghalangi suporter Dynamo saat hendak menghalau suporter Belgrade. "Di mana polisi? Di mana polisi?" teriak Boban kesal. Boban segera diselamatkan dari kejaran polisi. Suporter Dynamo dan rekan-rekannya berkerumun sebagai tameng hidup bagi Boban. Kericuhan berlangsung lebih dari sejam. Ratusan orang terluka. Baik suporter maupun polisi. Polisi dengan jumlah yang lebih besar kemudian datang dan memukul mundur suporter. Mereka berhasil mengambil alih kendali di dalam stadion. "Hooligan dari Belgrade menghancurkan stadion kami. Polisi saat itu, yang tentu saja polisi rezim tidak melakukan apapun," ujar Boban dalam film dokumenter The Last Yugoslav Football Team (Kesebelasan Yugoslowakia terakhir). Kericuhan suporter di Maksimir Stadium akhirnya berhasil ditangani. Namun pertempuran yang lebih besar tidak bisa dihindari. Dendam yang tersisa dari bentrok tersebut ditumpahkan dalam Perang Kemerdekaan Kroasia. Dan, tendangan Boban dianggap sebagai katalis bangkitnya nasionalisme warga Kroasia untuk angkat senjata demi kemerdekaan.

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan