KOLOM: Belajar Sepak Bola dari Islandia

Islandia memang negara kecil, tapi mereka bisa tembus ke Piala Dunia.

Diterbitkan 13 Oktober 2017, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Islandia. Di sepak bola, negeri ini bukan siapa-siapa. Ketika nama ini disebut, bukan prestasi mentereng yang terbangkit di memori. Sangat mungkin, justru nama Eidur Gudjohnsen yang terlintas di kepala. Ya, mantan striker Chelsea dan Barcelona itu memang asal Islandia.

Bagi yang doyan melihat video-video lucu sepak bola di Youtube, Islandia mungkin tak mengingatkan kepada Gudjohnsen, tapi Stjarnan. Pada 2010, beredar video selebrasi unik yang dilakukan para pemain klub itu setelah mencetak gol. Dari menirukan orang memancing ikan, berdansa, hingga orang melahirkan. Sungguh kreatif dan mengundang tawa.

Kini, tiba-tiba saja Islandia jadi kekuatan baru di Eropa dan dunia. Selasa (10/10/2017), tim asuhan Heimir Hallgrimsson membuat sejarah dengan lolos ke Piala Dunia untuk kali pertama sepanjang sejarah.

Bukan lolos begitu saja. Aron Gunnarsson dkk. meraih tiket ke Rusia 2018 dengan menjuarai Grup I Kualifikasi Zona Eropa. Mereka menyingkirkan Ukraina, Turki, Finlandia, Kosovo, dan membuat Kroasia harus menjalani play-off.

Memang benar, Islandia beruntung karena hanya tergabung bersama tim-tim yang tak menyandang nama besar. Namun, patut dicatat, Grup I adalah satu-satunya grup yang dihuni empat partisipan Piala Eropa 2016. Jadi, ya tetap saja prestasi Gunnarsson cs. tak bisa dipandang sebelah mata.

Pemain Islandia, Aron Einar Gunnarsson dan Jon Dadi Bodvarsson melakukan selebrasi usai memastikan negaranya lolos Piala Dunia 2018 di Stadion Laugardalsvöllur, Senin (9/10/2017). Islandia menang 2-0 atas Kosovo. (AP/Brynjar Gunnarsson)

Keberhasilan itu juga menegaskan bahwa kelolosan mereka ke EURO 2016 lalu bukanlah sebuah kebetulan bin keberuntungan semata. Kemenangan atas Inggris di sana pun bukanlah sebuah kejutan sesaat. Apalagi, sebenarnya mereka hampir saja lolos ke Piala Dunia 2014 andai tak disingkirkan Kroasia pada babak play-off.

Geliat Islandia dalam beberapa tahun terakhir ini adalah bukti tentang ujar-ujar "Jika ada kemauan, pasti ada jalan. Jika ada keberanian, pasti ada perubahan. Jika ada perubahan, pasti ada harapan."

 

 

Dua Kunci

Islandia tidak begitu saja muncul menjadi kekuatan baru. Itu adalah buah dari sebuah proses yang lumayan panjang. Proses yang diawali oleh dua hal fundamental: kesadaran dan kesungguhan.

Islandia sesungguhnya tak sepi pemain bagus. Ada cukup banyak pemain asal negeri itu yang sanggup berkiprah di liga-liga besar Eropa. Selain Gudjohnsen, ada juga Asgeir Sigurvinsson, Hermann Hreidarsson, Heidar Helgusson dan Eyjolfur Sverisson. Namun, sebagai tim, mereka seperti tak bisa ke mana-mana.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Dari situlah tumbuh kesadaran untuk memperbaiki diri, mengidentifikasi kelemahan yang ada dan menemukan solusinya. Asosiasi Sepak Bola Islandia (KSI) menyadari, salah satu hal mendasar adalah fakta bahwa sepak bola tak bisa dimainkan sepanjang tahun. Kompetisi liga hanya berlangsung dari Mei hingga September. Sisanya, bulan-bulan musim dingin dengan angin tak bersahabat menjadi masa pramusim. Sebagai solusi, mereka membangun lapangan-lapangan indoor yang memungkinkan sepak bola dimainkan kapan saja. Kini, Islandia punya tujuh hall dengan lapangan standar dan 12 hall berukuran lebih kecil. Menariknya, seperti dituturkan Sigurdur Ragnar Eyjolfsson, mantan Direktur Teknik KSI, fasilitas yang dibangun oleh pemerintah ini bisa dipakai oleh siapa saja. Kepada klub-klub yang meminjam fasilitas itu, pemerintah kota yang bersangkutan akan meminta lapangan untuk dapat dipakai warga ketika tidak digunakan oleh klub. Hal lain yang tak kalah penting, Islandia serius mengubah paradigma pembinaan pemain muda. Mereka fokus pada umur 8-12 tahun yang dianggap sebagai masa terbaik untuk mengasah teknik. Anak-anak pada usia ini diberi kesempatan luas untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki. Anak-anak itu pun tak didampingi oleh pelatih sembarangan. KSI menyadari bahwa sedari kecil, talenta-talenta muda harus berada di tangan pelatih mumpuni. Itu sebabnya, mereka mendorong para pelatih untuk menjalani pelatihan dan pendidikan. Saat ini, dari semua pelatih kepala yang ada, sebanyak 70 persen memegang lisensi UEFA B dan sisanya UEFA A. Mereka tahu betul bahwa talenta yang bagus tak akan berkembang baik di tangan pelatih abal-abal. Sebaliknya, pelatih yang bagus bisa membuat pemain biasa-biasa saja menemukan keistimewaannya.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan