Kisah Bonek Hoofdbureau Mengawal Saudara Mereka di Bandung

Tinggalkan keluarga demi redam aksi bonek hingga mengurus kepulangan jenazah bonek.

Diterbitkan 16 Januari 2017, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Surabaya - Sinar matahari seolah malas membangunkan warga Surabaya. Namun, Jumat (6/1/2017) pagi itu, tujuh laki-laki sudah tampak mentereng dengan kaos bertuliskan Persebaya. Di sela itu, istri mereka masing masing, tentunya di rumah masing masing, sibuk menyiapkan bekal seadanya untuk suami tercintanya. Sebab, suami mereka hendak "berjuang" ke Bandung. Perjuangan mereka bukanlah perjuangan remeh temeh. Siapakah sebenarnya mereka?

Di pundak Edy Kresno Birowo, Pandji Hariadi, Yuli Hartanto, Andik Dwi Wibowo, Nanang Sujatmiko, Hendro Sudargo, serta Adek Pujianto ada tugas besar untuk meredam emosi para bonek yang jumlahnya ribuan saat itu. Betapa tidak, perjuangan ribuan bonek bertahun-tahun agar Persebaya Surabaya kembali diakui dan berkompetisi, bertumpu di Bandung, yang ketika itu tengah digelar Kongres PSSI. Tak tanggung-tanggung. Bonek mengusung tema "Gruduk Bandung" saat itu.

Sekitar pukul 07.00 WIB, mereka harus sampai di Stasiun Gubeng Lama. Sebab di stasiun ini, lebih dari 100 Bonek sudah menunggu dan siap bertolak ke Bandung, menggunaka Kereta Api Pasundan.

"Do'akan ya ma. Doakan agar tugas yang kami emban dari pimpinan bisa tuntas tanpa aral," Edy, salah satu dari tujuh laki laki tersebut, bercerita kepada Liputan6.com saat berpamitan kepada istri tercintanya.

Mereka, ketujuh laki laki itu, tampak tegang. Sebab, mereka didaulat untuk menciptakan suasana "Gruduk Bandung" harus tertib, aman dan kondusif. Bersama para bonek, mereka kemudian chek-in. Tepat pukul 08.15 WIB, kereta melaju meninggalkan Gubeng mengangkut di antaranya 150 Bonek.

"Kami semua dilepas oleh Pak Iqbal (Kombespol M Iqbal, Kapolrestabes Surabaya, red), Kabag Ops (AKBP Bambang S Wibowo), Kasatintelkam (AKBP Sutrisno) dan Kapolsek Tambaksari (Kompol David Triyo Prasojo)," tutur Edy, Senin (16/1/2017).

Edy menyebut, dalam perjalanan, mereka berkoordinasi dengan Kapolrestabes Bandung, Hendro Pandowo tentang kedatangan mereka.

Tiba di Bandung

Tepat pukul 23.19 Wib, kereta mereka tiba di Stasiun Kiara Condong Bandung. Tujuh laki-laki ini pun ikut larut dalam nyanyian yel yel para bonek yang disambut Viking/Bobotoh di halaman stasiun. Atas koordinasi mereka dengan Polrestabes Bandung. Mereka pun diangkut menuju GOR Pajajaran Bandung. Sebanyak 2 bus dan 1 truk Polisi mengantar mereka dan ratusan bonek tadi.

Sabtu (07/01/2017) sekitar pukul 00.25 WIB, mereka tiba di GOR Pajajaran untuk beristirahat. Namun, Sabtu paginya, dua dari tujuh laki-laki ini sempat mengintip lokasi Kongres PSSI di Hotel Aryadhuta.
Pendukung Persebaya memenuhi ruas jalan Padjajaran saat merayakan kembalinya klub mereka ke kompetisi PSSI, Bandung, Minggu (8/1).  (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Sementara lainnya, bertemu Kapolrestabes Bandung di GOR Pajajaran. Dalam obrolan itu, mereka berkoordinasi terkait pengamanan, teknis pelayanan kebutuhan (makan dan MCK) dan sebagainya.

Menjelang tengah hari, dimulailah drama itu. Mereka mendapat kabar ada bus rombongan bonek mengalami kecelakaan di Lasem dengan kondisi kaca depan pecah. Di tengah kesibukan itu, tujuh laki-laki ini sempat bertemu dengan beberapa manajemen Persebaya Surabaya tentang "bocoran" hasil Kongres. Saat itu, ada kabar dimungkinkan posisi Persebaya "aman".

Namun, baru saja bisa menarik napas panjang, mereka kembali mendapat kabar buruk. Sore hari, ada kabar tiga orang bonek meninggal di Pantura, Pagaden Subang. Mereka pun mencoba menenangkan semua bonek. Hingga selepas Magrib, mereka memutuskan untuk mengadakan doa bersama dan solidaritas atas meninggalnya Bonek di Pantura.

"Tiba tiba ada telepon dari Bu Risma Walikota Surabaya dan beberapa stafnya. Mereka menghubungi kami untuk koordinasi terkait korban meninggal tersebut serta proses evakuasi kepulangan hingga sampai ke Jawa Timur," kenang Edy.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Malam harinya sekitar pukul 19.30 WIB, ada seorang bonek datang ke Posko GOR Pajajaran karena sakit setelah dari Subang. Setelah mendapat kabar ada yang ditangani RS Bandung, mereka mendatangi RS Hasan Sadikin Bandung untuk mengecek satu orang bonek atas nama Ade yang kondisinya kritis."Sekitar Pukul 22.00 Wib, atas perintah Pak Iqbal, Kapolrestabes Surabaya, tim kami bersama Joner dan Dadang (berjumlah 6 orang) meluncur ke RSUD Subang. Sekitar 1,5 jam perjalanan, kami tiba di RSUD Subang bersamaan dengan bertambahnya satu korban lagi meninggal," Edy menuturkan. Setelah itu mereka melakukan pendataan, pengumpulan bahan keterangan dan koordinasi dengan Polrestabes Surabaya, Polresta Sidoarjo, Polsek Pagaden serta Polres Subang. Pukul 04.00 WIB, mereka terpaksa tidur di parkiran RSUD Subang (4 di mobil, 2 di teras ATM) sekedar untuk melepas lelah barang sejenak. Tapi lagi-lagi, pukul 05.00 WIB, mereka dikejutkan dengan meninggalnya seorang bonek. Saat itu keluarga korban yang ada di Sidoarjo mulai panik, akan menyusul ke Subang.Sekitar pukul 09.00 WIB, Kapolres Subang datang ke RSUD Subang. Setelah melihat kembali kondisi korban yang meninggal serta yang kritis, sebanyak 3 mobil ambulans yang membawa 5 jenazah dikawal mobil lalu lintas berangkat ke Pagaden, bersama 13 Bonek lainnya yang sudah membaik berangkat menuju Sidoarjo Jawa Timur. "Alhamdulillah, seluruh biaya kepulangan 5 jenazah dan 13 Bonek lainnya menuju Sidoarjo ditanggung oleh Pak Bupati dan Pak Kapolres Subang," ucap Edy. Sekitar pukul 11.30 Wib, mereka berpamitan kepada Kapolsekta Subang dan Kaur Kesehatan untuk kembali ke Bandung. Sebab mereka harus bergabung lagi ribuan bonek di sana. Apalagi Joner dan Dadang sudah mendengar "kemenangan" Persebaya Persebaya untuk kembali berlaga di Divisi Utama sepakbola PSSI.

Halaman
Show All
Ahmad Zaini, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan