KOLOM: Menanti Gareth Barry di Kongres PSSI

Gareth Barry memang pemain asal Inggris, lalu apa kaitannya dengan Kongres PSSI? Silahkan simak ulasannya.

Diterbitkan 14 Oktober 2016, 08:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pemain yang pernah 53 kali membela timnas Inggris itu pada 2009 sempat berang tak alang-kepalang saat dituding mata duitan oleh Rafael Benitez, manajer Liverpool kala itu. Gara-garanya, dia lebih memilih pindah ke Manchester City ketimbang menerima tawaran Benitez untuk hijrah ke Anfield.

Putusannya meninggalkan Man. City pada musim 2013-14 karena kesempatan bermain yang kian langka menjadi penegasan akan hal itu. Andai hanya memikirkan uang, rasanya Barry tak perlu pergi. Cukup menerima kenyataan hanya menjadi pemain cadangan. Namun, karena ingin selalu berada di lapangan, dia tak mengambil opsi itu.

"Saya mengambil putusan itu karena ingin selalu bermain," jelas pemain kelahiran 23 Februari 1981 tersebut. "Sepanjang karier, saya selalu ingin bermain secara reguler. Hingga saat ini, keinginan itu tak pernah berubah. Saya tak ingin hanya duduk di bangku cadangan dan menjadi pengganti, bermain sekali dalam sebulan."

Jangan Sia-Sia

Sosok seperti Barry yang tak terlalu menonjol namun punya komitmen kuat inilah yang sangat dinantikan saat Kongres Pemilihan PSSI, Senin (17/10) mendatang, dengan agenda utama pemilihan ketua umum baru. Para peserta KLB, terutama para pemilik suara, harus mencermati sosok seperti ini, bukannya keukeuh mendukung calon yang telah diajukan kubu masing-masing.

Walaupun mungkin tak pernah terdengar kiprahnya, andai menunjukkan semangat yang murni dan disertai program yang visible dan feasible, calon macam ini pantaslah diberi amanat untuk lima tahun ke depan.

Sosok seperti inilah yang bisa menumbuhkan harapan baru. Harapan untuk melihat sebuah tatanan sepak bola yang lebih baik. Harapan untuk melihat semua kekacauan yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan terselesaikan. Harapan untuk melihat sebuah organisasi dengan program dan target yang jelas, setidaknya untuk lima tahun, sesuai masa baktinya.

PSSI tak perlu sosok ketua umum yang terlampau visioner sehingga programnya mengawang-awang. PSSI juga tak perlu ketua umum yang berlagak bak pesulap dengan janji membuat timnas Indonesia segera berlaga di Piala Dunia. PSSI saat ini butuh sosok yang secara praktis punya solusi terhadap persoalan-persoalan mendasar yang menjadi sumber konflik dalam beberapa tahun belakangan ini.

Publik sepak bola di negeri ini sudah muak dengan harapan-harapan palsu, kongres-kongres yang cuma jadi jeda dari perseteruan tak berujung, dan pertikaian-pertikaian yang hanya mengorbankan sepak bola itu sendiri. Andai tak memunculkan sosok yang mampu membawa harapan baru, KLB kali ini pun sama percumanya dengan kongres-kongres sebelumnya. Apalagi jika aroma pertikaian justru menguat setelahnya.

Caketum PSSI 2016-2010, Djohar Arifin Husin (kiri) menjawab pertanyaan pada debat terbuka di Hall SCTV Tower, Jakarta, Selasa (4/10). Rencananya, pemilihan Ketua Umum PSSI akan dilaksanakan pada 17 Oktober mendatang. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)Rasanya semua orang yang terlibat dalam KLB nanti, kalau ditanya, pasti menginginkan kondisi persepakbolaan nasional yang lebih baik. Ini adalah common goal yang mesti dikedepankan saat kongres. Bukan hanya dalam pemilihan ketua umum, melainkan juga dalam agenda-agenda lain yang sudah ditetapkan. Bukan saatnya lagi terkotak-kotak dalam kubu ini dan itu. Tak pada tempatnya ngotot-ngototan atas nama kepentingan golongan.

Tanpa kesadaran untuk menjunjung tinggi common goal dan kesadaran membenahi diri, benarlah anggapan bahwa sepak bola kita tak akan ke mana-mana. Bahkan sekadar bermimpi pun tak lagi bisa. Sonder kesadaran itu, wajah sepak bola kita akan tetap bopeng di sana-sini, penuh intrik dan perang kepentingan.

Publik sepak bola patut waswas karena KLB ini diawali dengan sebuah ketegangan mengenai lokasi penyelenggaraan. PSSI berkeras memilih Makassar, sementara Kemenpora merekomendasikan Yogyakarta. Bagi awam, ini mengherankan. Cuma soal lokasi saja tak bisa dikompromikan? Adakah itu tanda awal KLB kali ini pun akan sia-sia belaka? Semoga saja tidak.

*Penulis adalah pemerhati sepak bola dan jurnalis. Tanggapi kolom ini di @seppginz.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan