Kolom: Brasil, Burung Kenari yang Sakit

Simak ulasan Asep Ginanjar soal kegagalan Brasil lolos ke perempat final Copa America.

Diterbitkan 17 Juni 2016, 08:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lemas tak berdaya. Begitulah para penggawa Brasil usai laga kontra Peru yang berakhir pahit, 13 Juni silam. Mereka kalah oleh gol tunggal yang dicetak Raul Ruidiaz dengan tangannya. Gara-gara gol itu, Canarinho ‘si Kenari Kecil’ pun harus mengepak koper, pulang lebih awal dari perhelatan Copa America Centenario di Amerika Serikat.

Baca Juga

  • Suporter Bikin Onar Lagi di Laga Rusia Vs Slovakia
  • Mengenal Galang, Calon Murid Valentino Rossi Asal Indonesia
  • Cristiano Ronaldo Bermental Tempe?

Tersingkir di putaran pertama Copa America adalah aib bagi Brasil. Terakhir kali itu dialami pada 1987. Setelah itu, dalam 11 gelaran Copa America, Canarinho selalu mampu lolos ke babak berikutnya. Bahkan, tujuh kali menembus final dan lima kali di antaranya menjadi campeao atau juara.

Sudah barang tentu, kegagalan itu merupakan pertanda ada yang salah di timnas Brasil. Untuk membedahnya, cukuplah menengok ke dalam tubuh Canarinho di perhelatan Copa America kali ini.

Tengoklah skuat yang dibawa pelatih Carlos Dunga. Skuat Canarinho bukanlah kumpulan pemain-pemain terbaik. Tak ada Neymar yang memang hanya disiapkan untuk tim olimpiade, tak ada pula Roberto Firmino dan Oscar. Lalu, sebagian lain macam Luiz Gustavo dan Douglas Costa absen karena cedera.

Pada akhirnya, Dunga terpaksa membawa pemain-pemain semenjana. Maka tak heran bila Brasil hanya bisa menjebol gawang Haiti. Sementara itu, saat melawan Ekuador dan Peru, gol menjadi hal yang langka. Tak terlalu mengejutkan pula bila mereka akhirnya tersisih lebih awal. Ibaratnya, dengan skuat yang dibawa Dunga, Brasil memang sudah bersiap untuk gagal total.

Peru menyingkirkan Brasil dengan skor 1-0 di penyisihan grup Copa America 2016, Senin (13/6/2016). (Winslow Townson-USA TODAY Sports)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Dunga terpaksa berpaling kepada pemain-pemain semenjana karena memang hanya itulah yang tersedia. Brasil sekarang bukanlah Brasil yang penuh bintang seperti beberapa tahun silam. Jika dulu ada Cafu, Roberto Carlos, Ronaldinho, Kaka, Rivaldo, dan Ronaldo, kini Canarinho hanya punya Neymar.Saat ini, hanya Neymar yang langsung terlintas di kepala ketika ada yang bertanya tentang sosok bintang asal Brasil. Neymar sendirian, persis Cristiano Ronaldo di Portugal. Beda halnya jika pertanyaan itu soal bintang asal Argentina. Segera saja nama Lionel Messi, Gonzalo Higuain, Sergio Aguero, dan Angel Di Maria berkelebatan. Bahkan, sangat mungkin nama Paulo Dybala pun ikut terlintas.Kekurangan BintangJairzinho, bintang Brasil era 1970-an sudah merasakan hal tersebut jelang Piala Dunia 2014. "Saya bisa katakan, sekarang ini sepak bola Brasil kekurangan bintang," ujar dia. "Pada 1970, praktis kami memiliki 11 bintang di lapangan. Kamilah satu-satunya tim di dunia yang bermain dengan lima no. 10 secara bersamaan."Kondisi ini, apalagi setelah dihajar 1-7 oleh Jerman di semifinal Piala Dunia 2014, membuat Brasil tak lagi ditakuti tim-tim lain. Jika dulu lawan sudah dihantui kekalahan bahkan sebelum wasit meniup peluit kick off, kini mereka tak lagi minder. Mereka yakin bisa menaklukkan Canarinho.Secara spesifik, Roberto Rivellino, rekan seangkatan Jairzinho, mengeluhkan ketiadaan striker istimewa. "Demi Tuhan... Kenapa Brasil tak mampu menghasilkan pencetak gol ulung?" keluh dia. Faktanya, sejak Grafite 2008-09, tak ada lagi striker Brasil yang menjadi pencetak gol terbanyak di Premier League, Divisi Primera, Serie-A, dan Bundesliga 1. Sementara itu, Rivaldo, salah satu bintang Brasil di Piala Dunia 2002, mengeluhkan ketiadaan playmaker mumpuni. Dia mengaku terganggu melihat pemilik kostum no. 10, Lucas Lima, hanya menjadi cadangan. Itu bukan sebuah kebiasaan di Canarinho. Mano Menezes, pelatih yang sempat menangani Brasil pada 2010 hingga 2012, menuntut revitalisasi akademi sepak bola. Dia mengakui adanya penurunan kualitas pemain di Brasil. "Teknik para pemain kami saat ini lebih buruk. Kontrol bola mereka buruk, demikian pula umpan-umpan mereka. Lalu, orang-orang kerap menganggap kemampuan juggling sama dengan kemampuan sepak bola. Padahal, itu dua hal berbeda," urai pelatih yang mengemuka saat menangani Corinthians tersebut.Menezes mengakui, Brasil tidak kekurangan bakat alam. Hal yang menjadi masalah adalah ketidakmampuan mengembangkan bakat-bakat itu dengan baik. Dia mengimbau Brasil berpaling ke negara-negara Eropa yang sudah jauh lebih berkembang dalam penanganan sepak bola.Secara tak langsung, Menezes menilai Brasil masih terlena oleh berkat Tuhan yang selalu menurunkan para pemain hebat di tanah mereka. Dari Artur Friedenreich, Leonidas, Garrincha, Pele, Vava, Socrates, Zico, Romario, hingga Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, Kaka, dan Neymar, bintang hebat selalu lahir disana.Sepertinya Brasil masih terjebak pada pemikiran bahwa pemain hebat lahir dengan sendirinya. Padahal, hujan saja pasti ada redanya. Pemain-pemain spesial tidak lahir setiap tahun. Brasil harus mulai berpikir untuk mencetak bintang, bukan hanya menunggu kelahirannya. Kegagalan sejumlah wonderkid macam Keirisson, Kerlon, hingga Alexandre Pato mengemuka di Eropa seharusnya membangunkan mereka.

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan