Menyanjung Tinggi Fidel Castro

Bagi sebagian orang, Diego Maradona adalah pemain terbaik sepanjang zaman. Kini, si pencetak gol “Tangan Tuhan” itu menjadi arsitek Timnas Argentina. Lalu, mengapa Maradona begitu tinggi menyanjung mantan Presiden Kuba, Fidel Castro.

Diterbitkan 11 Agustus 2009, 13:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Bagi sebagian pecinta sepakbola, Diego Armando Maradona adalah pesepakbola terbaik yang pernah lahir di muka bumi ini. Bahkan, konon, di negerinya sendiri, Argentina, popularitasnya melebihi presiden. Didaulat menangani Tim Tango sejak November 2008, Maradona mendapat tugas mengantarkan Javier Mascherano dkk melaju dan tampil jadi kampiun di Afrika Selatan.

Kepada FIFA.com, Maradona yang terkenal dengan gol “Tangan Tuhan”-nya itu menceritakan tentang perkembangan sepakbola terkini, harapannya bertemu Nelson Mandela, dan pujiannya yang setinggi langit kepada mantan Presiden Kuba, Fidel Castro.

Sembilan bulan Anda menangani Timnas Argentina. Rasanya seperti menjadi bapak?
Sedikitnya, ya. Saya hanya punya waktu satu setengah bulan untuk mengumpulkan anak-anak. Jadi, tak banyak kesempatan yang saya miliki.

Anda menikmatinya?
Sulit. Lebih nikmat rasanya saat bermain. Tapi, saya jamin saya akan memenuhi semua tanggung jawab yang ada di pundak saya. Bagi saya, melatih timnas merupakan mimpi yang jadi kenyataan.

Lebih sulit dari yang Anda kira sebelumnya?
Begitulah. Setiap hari saya bertemu dengan staf tim untuk mengecek kondisi (Lionel) Messi, (Sergio) Aguero, Maxi Rodriguez dan para pemain lainnya di saat sesi latihan. Saya tahu jika kunci keberhasilan kami meloloskan diri dari babak kualifikasi PD 2010 adalah laga lawan Brasil. Setelah itu, kami berangkat ke Paraguay. Saya yakin, dengan berbuat yang terbaik, kami punya peluang untuk (kembali) menjadi juara dunia.

Selama ini Anda menonton sepakbola?
Selalu.

Adakah tim yang penampilannya mengejutkan Anda?
Tidak ada. Tim-tim akan bermain dengan pola yang biasa mereka tampilkan. Kecuali Madrid yang bakal berubah seiring dengan kedatangan Kaka. Yang lainnya? Saya kagum dengan klub yang kini ditangani mantan rekan saya, Ciro Ferrara. Juventus benar-benar memainkan gaya permainan ala Italia.

Messi?
Akhir-akhir ini, saya belum sempat menontonnya. Saya berusaha untuk meneleponnya. Namun, rupanya lebih mudah bagi saya untuk

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

berbicara dengan Obama (Barrack Obama, Presiden AS) dibanding Lio (Messi). (Maradona tertawa).Adakah pemain yang cukup membuat Anda terkejut akhir-akhir ini? Felipe Melo (Brasil) dan Hulk (FC Porto). Mereka berdua akan memberikan dampak besar terhadap tim yang mereka bela. Saya pun tertarik melihat Ronaldinho. Tampaknya kondisinya kembali fit. Sayang, powernya berkurang.Tentunya, Anda punya cerita luar biasa untuk diceritakan… Well, hal “tergila” adalah menunjukkan kepada Fidel Castro (mantan Presiden Kuba) apa yang saya lakukan saat mengeksekusi tendangan penalti. Pendek kata, ketika kami bertemu, ia menantang saya untuk melakukan adu penalti. Saya jadi algojo, ia jadi kiper. Bayangkan, luar biasa gilanya, kan? Setelah itu, kira-kira selama enam atau tujuh jam kami bercakap-cakap soal politik. Saya benar-benar menikmati dan tertawa lepas bersamanya. Ialah legenda hidup. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang punya kharisma sepertinya. Tidak ada! Tidak juga (dengan) Paus!Piala Dunia pastinya jadi mimpi bagi Anda… Tentu saja iya. Begitu pula dengan bertemu (Nelson) Mandela. Saya ingin sekali bertemu dengannya. Tapi, keinginan itu selalu saja gagal. Saya harap satu waktu saya bisa mewujudkannya.Mungkin, Desember nanti saat acara undian digelar? Mungkin. Bagi Anda, Piala Dunia jadi obsesi? Piala Dunia tidak akan sama jika tanpa kehadiran Argentina. Jika itu terjadi, Piala Dunia jadi tidak bewarna.Sepertinya, Anda begitu yakin lolos kualifikasi. Ya, iya dong.

Halaman
Show All
Tim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan