[KOLOM] Guardiola dan Misi yang Tak Tuntas

Mengapa kepergian Guardiola dari Muenchen sangat disesalkan? Simak ulasannya di kolom bola Asep Ginanjar

Diterbitkan 25 Desember 2015, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta: Kecewa. Kata ini bernuansa negatif dan salah satu yang paling dibenci. Siapa pun tak akan mau kecewa, dikecewakan atau dinilai mengecewakan. Namun, siapa pun tak bisa menghindari kondisi ini. Rasanya tak ada orang yang tak pernah kecewa. Sebab, kecewa sejatinya adalah tanda kehidupan.

No hope = no life. Fondasi kehidupan adalah harapan. Orang yang tak lagi punya harapan sesungguhnya sudah mati walaupun jasadnya masih bernyawa. Dan karena tak semua harapan selalu menjadi kenyataan, muncul kekecewaan.

Minggu, 6 Desember 2015, di tengah acara makan bersama yang digelar Bayern München dalam rangka menyambut Natal, kekecewaan itu menyelinap di kalbu Chief Executive Karl-Heinz Rummenigge.

Kalle, sapaan akrabnya, harus kecewa karena pelatih Josep Guardiola mengungkapkan putusan untuk tak memperpanjang kontraknya yang habis pada akhir musim nanti.
Infografis statistik Josep Guardiola (Abdilla/Liputan6.com)
Putusan Pep itu tentu membuat Kalle kecewa. Sejak tahun lalu, Kalle tak lelah membujuk pelatih asal Katalonia itu agar bertahan lebih lama di Sabener Strasse, markas Bayern.

Draft kontrak baru dengan kenaikan gaji pun disiapkan. Upaya keras itu membuat dia yakin Pep akan bertahan. Fakta berkata lain karena Pep tetap meninggalkan Bayern.

Dua pekan kemudian, ketika putusan itu disiarkan kepada publik, lebih banyak orang yang kecewa. Bukan hanya bagi Bayern, bagi Bundesliga pun keberadaan Pep adalah berkah tersendiri.

Reputasi besarnya membuat Bundesliga mendapat sorotan lebih besar dari publik sepak bola dunia. Dia pun memberikan warna tersendiri terhadap permainan Die Roten. Kepergian Pep tentulah kerugian besar bagi Bundesliga dan Bayern.

TAK ISTIMEWA

Di samping karena merasa akan kehilangan, kekecewaan juga muncul karena Pep sejauh ini belum menunjukkan hal yang luar biasa. Pep belum sepenuhnya mewujudkan ekspektasi banyak orang sejak kedatangannya di Muenchen 2013 silam.

Kala itu, Pep dan Bayern dianggap perjodohan sempurna. Meski baru kembali dari masa sabbatical, Pep masih dianggap pelatih terbaik dunia.

Dua gelar juara Liga Champions, tiga kali juara Divisi Primera, dan dua trofi juara Copa del Rey dalam kurun lima tahun adalah buktinya. Sementara itu, Bayern pada 2013 adalah tim terbaik Eropa. Mereka merajai Liga Champions, Bundesliga, dan DFB Pokal.

Sebuah perjodohan yang sempurna tentunya diharapkan melahirkan kesempurnaan. Tak sedikit orang, terutama fans Bayern, yang di sudut hatinya berharap Die Roten jadi monster yang invincible ‘tak tertundukkan’. Mereka membayangkan treble winners sebagai tradisi baru bagi Bayern.
Penyerang Muenchen, Thomas Muller melakukan selebrasi usai mencetak gol kegawang Arsenal pada lanjutan Grup F liga champions di stadion Allianz Arena, Munich, Jerman (4/11). Muenchen menang atas Arsenal dengan skor 5-1. (Reuters/John Sibley)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Faktanya jauh panggang dari api. Bahkan Jamie Redknapp, eks gelandang Liverpool dan timnas Inggris, menilai Muenchen malah alami kemunduran ketimbang era Jupp Heynckess.Bersama Guardiola, Bayern memang tetap berprestasi. Namun, dua kali juara Bundesliga dan sekali juara DFB Pokal dalam dua musim awal tidaklah cukup untuk memuaskan fans Muenchen. Demikian pula rekor terlama tak terkalahkan, rentetan kemenangan terpanjang, sepuluh kemenangan beruntun awal musim, lima kali beruntun jadi herbstmeister “juara paruh musim”, hingga tim paling sedikit kebobolan dalam semusim.Sebaliknya, kekalahan dari Real Madrid dan Barcelona di dua semifinal Liga Champions serta takluk dari Borussia Dortmund di semifinal DFB Pokal mengguratkan kekecewaan yang amat dalam. Bila sebelumnya Bayern adalah duri bagi Madrid dan Barcelona, kini mereka inferior bahkan sebelum peluit kick off dibunyikan wasit.Dari segi permainan, Pep berhasil menerapkan gaya baru yang menekankan pada penguasaan bola. Namun, karena terlalu fanatik terhadap falsafahnya sendiri, Pep justru membuat Bayern begitu mudah diterka. Padahal, pada musim terakhir Heynckes, Bayern adalah tim yang sangat fleksibel dan adaptif. Lawan seperti apa pun selalu mampu diatasi. Di Liga Champions, Kedisiplinan ala Juventus, tiki taka ala Barcelona, dan gegenpressing ala Dortmund sanggup diredam.Ini mengecewakan karena Pep dikenal sebagai maniak dalam hal taktik. Bila menemukan sebuah ide, dia tak segan menelepon pemain meski pada dinihari sekalipun. “Meski pukul 3 pagi sekalipun, Pep akan senang hati berbincang soal sepak bola dengan Anda,” kata winger Arjen Robben. Saat di Barcelona, Pep pernah memanggil Lionel Messi ke kantornya jelang tengah malam untuk membicarakan taktik tertentu. Meski demikian, di mata para jurnalis sepak bola Jerman, Pep bukan sosok istimewa. Buktinya, dalam dua musim, Pep tak terpilih sebagai pelatih terbaik Bundesliga meski membawa Muenchen jadi juara. Dalam pemilihan yang dilakukan Kicker dengan melibatkan para jurnalis sepak bola itu, dia bahkan selalu berada di bawah pelatih semenjana, Markus Weinzierl.Pada 2014, Pep yang membawa Bayern memecahkan juara tercepat di Bundesliga hanya meraih 89 poin dan berada di posisi ketiga. Dia kalah dari Joachim Löw (timnas Jerman) dengan 248 suara dan Weinzierl (FC Augsburg) yang mendapat 152 suara. Tahun berikutnya, Pep malah terpuruk jauh di posisi ke-8 dengan 15 poin. Dia terpaut sangat jauh dari Dieter Hecking (VfL Wolfsburg) yang terpilih sebagai pelatih terbaik dengan 203 suara. Adapun Weinzierl kembali jadi runner-up. Kali ini dengan 191 suara.

Halaman
Show All
Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan