Insiden WO Bonek FC Kuak Memori Kelam Liga Indonesia 2005

Bonek FC memutuskan mundur dari tengah pertandingan gara-gara keputusan wasit yang keliru.

Diterbitkan 28 September 2015, 06:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tim Kota Pahlawan, Persebaya Surabaya menjadi pusat perhatian selama perhelatan babak 8 besar Piala Presiden. Tim yang identik dengan warna hijau ini berkawan akrab dengan masalah. Mulai dari pergantian nama menjadi Persebaya United hingga belakangan 'dipaksa' mengubah logo saat tampil di leg kedua babak perempat final Piala Presiden 2015.

Namun yang paling menyita perhatian publik adalah saat Bajul Ijo menyerahkan kemenangan kepada Sriwijaya FC di leg kedua yang digelar di Stadion Jakabaring, Palembang, Minggu (27/8/2015). Pasukan Ibnu Grahan memilih mundur dari pertandingan pada menit ke-11. Pemicunya adalah kekeliruan keputusan wasit Jerry Elly saat menunjuk titik putih.

Insiden berlangsung saat Persebaya tengah memimpin 1-0 atas tuan rumah lewat gol Ilham Udin Armayin. Di leg pertama Bajul Ijo juga menang 1-0. Dengan demikian, posisi agregat masih menjadi milik tim tamu dengan 2-0.

Aksi WO bermula saat Jerry menganggap pemain Bonek FC, Faturohman handsball saat terjadi kemelut kotak terlarang. Jerry lalu menunjuk titik putih. Namun mata kamera berkata lain. Bola ternyata hanya mengenai dada Faturohman.

Persebaya meradang. Para pemain dikomandoi Jandri Pitoy langsung mengerubungi Jerry dan mengajaknya melihat tayangan ulang pada layar kamera di pinggir lapangan. Manajemen juga ikut berkerubung. Manajer tim Persebaya, Harry 'Gendhar' Ruswanto bahkan tampak menangis di depan kamera. Mereka protes keras terhadap keputusan wasit.

Jandri dan sejumlah pemain sebenarnya sempat kembali ke lapangan. Jandri bahkan sudah berada di bawah mistar gawang saat ada instruksi untuk meninggalkan lapangan. Manajemen meminta para pemain masuk ke ruang ganti.

Menit ke-18 pemain Persebaya pun masuk ke ruang ganti. Setelah dinanti selama 5 menit, Bonek FC dinyatakan WO.

CEO Bonek FC Gede Widiade, mengatakan pihaknya sebenarnya menerima keputusan wasit. Namun dengan syarat wasit diganti. Namun permintaan ditolak oleh inspektur pertandingan yang berpegang pada aturan pergantian wasit.

"Ini bukan perkara menang atau kalah, ini perkara kepemimpinan wasit. Kalau begini, kami kalah WO (Walk Out) saja, tidak apa-apa," katanya.

Sikap Bonek FC pun menulai pro dan kontra. Sebagian menuding aksi tersebut sebagai tindakan pengecut yang tak perlu dilakukan. Toh banyak tim-tim yang tampil di turnamen yang jauh lebih bergengsi pernah menjadi korban kekeliruan wasit namun tetap memutuskan untuk melanjutkan pertandingan hingga peluit panjang dibunyikan. Bahkan untuk sekelas Piala Dunia-pun, kekeliruan wasit dalam mengambil keputusan tidak disikapi dengan aksi WO.

Pengamat sepak bola Indonesia Anton Sanjoyo, menganggap sikap Bonek FC bisa merusak mental pemain. Anton juga menyoroti nama baik wasit di Indonesia yang sudah kadung tercemar. "Saya yakin mereka (para pemain Bonek FC) masih mau main. Tetapi semangat mereka kemudian dirusak oleh pengurus dan wasit," kata Anton.

Selain menimbulkan pergunjingan, keputusan Bonek FC mundur dari laga juga mengingatkan publik akan insiden yang sama pada Liga Indonesia 2005 lalu. Saat itu, Persebaya yang menyandang status sebagai juara bertahan juga memutuskan mundur saat memasuki fase krusial dengan alasan yang juga sulit untuk diterima pecinta sepak bola.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Saat itu, Persebaya memutuskan mengundurkan diri dari babak perempat final grup Barat jelang laga kontra Persija Jakarta pada 21 September 2005. Saat itu, Persebaya menempati urutan buncit dengan hasil sekali imbang sekali kalah di Grup Barat yang dihuni PSM Makassar dan PSIS Semarang plus Persija Jakarta. Jelang pertandingan, para pendukung Persebaya yang akrab disapa Bonek sudah berdatangan ke ibukota. Gesekan dengan suporter lawan dan masyarakat DKI Jakarta pun beberapa kali terjadi. Sehari sebelum laga, di Surabaya, Ketua Umum Persebaya sekaligus Wali Kota Surabaya, Bambang DH mengumumkan pengunduran diri Bajul Ijo. Tidak adanya jaminan keamanan terhadap para pendukung Persebaya di Jakarta menjadi alasan manajemen menempuh jalur WO. Manajer Persebaya saat itu, (Alm) Haji Santo juga membuat gempar lantaran menitipkan piala Liga Indonesia kepada Koordinatoriat PSSI Pers agar diserahkan pada PSSI. Kemudian, Haji Santo membawa pulang skuat ke Surabaya. Piala tersebut merupakan piala bergilir setelah di tahun 2004, Persebaya tampil sebagai juara Divisi Utama.Kasus ini pun masih menyimpan misteri hingga kini. Menjadi tanda tanya besar, apakah Persebaya tetap mundur demi membela Bonek dan mencegah kerusuhan ibu kota bila peluangnya sangat besar masuk ke final?Keputusan Persebaya mundur dari medan laga sekaligus menutup peluang PSM dan PSIS melaju ke babak grand final. Sebab, apapun hasil pertandingan PSM dan PSIS, tidak mempengaruhi posisi Persija sebagai pemuncak klasemen babak perempat final wilayah barat. Macan Kemayoran melaju tanpa hambatan ke partai final.Komite Displin PSSI langsung bereaksi atas ulah tidak sportif Bajul Ijo. PSSI langsung menjatuhkan sanksi berupa larangan mengikuti kompetisi liga nonamatir di lingkungan PSSI selama dua tahun berturut-turut serta denda sebesar Rp. 25 juta. Setelah melalui banding, hukuman ini lalu dikurangi menjadi 16 bulan dan degradasi ke Divisi Satu. (Rjp/Rco)

Halaman
Show All
Rejdo Prahananda, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan