[KOLOM] Ketika La Beneamata Memesona Pada 4 Laga Pertama Serie A

Sampai dengan giornata ke-4, La Beneamata bertengger di peringkat pertama klasemen sementara Serie-A musim 2015-2016.

Diterbitkan 22 September 2015, 19:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ekstra Waspada

Ketika mengamati fakta di atas, menjadi hal yang lumrah jika banyak yang menyebut Inter bisa merebut scudetto musim ini. Alasannya, Mauro Icardi dkk telah berada dalam trek yang benar. Lain itu, penampilannya jauh menjanjikan.

Asumsi itu tak salah. Tapi tunggu dulu, sob. Kompetisi Serie-A masih bergulir panjang, menyisakan 34 pekan. Itu artinya semua kemungkinan bisa terjadi.

Banyak sebab yang membuat La Beneamata gagal juara. Misalnya, dalam perjalanannya nanti, banyak pemain inti yang bergantian berada di meja perawatan atau performa kompetitor yang tiba-tiba meroket. Ingat, Juventus sudah mendulang kemenangan setelah tiga laga sebelumnya mengecewakan. Lalu, AS Roma mulai menunjukkan tren positif dengan semakin padunya beberapa muka anyar yang didatangkan musim ini.

Dalam hal ini, allenatore Roberto Mancini rasanya wajib waspada dan belajar banyak dari musim kompetisi 2010-2011. Kala itu, pada empat pekan awal, tim yang berdiri sejak 9 Maret 1908 itu tak terkalahkan dan bertengger di puncak klasemen sementara. Inter yang ketika itu diracik oleh Rafael Benitez, meraih hasil imbang 0-0 versus Bologna pada giornata 1 dan menang atas Udinese, Palermo dan Bari pada tiga pekan berikutnya.

Akan tetapi, perjalanan Inter justru kurang mulus pada periode berikutnya. Pada pekan ke-6 musim 2010-2011 itu, La Beneamata merosot ke peringkat kedua gara-gara keok 0-1 dari AS Roma pada giornata ke-5 dan imbang 0-0 kontra Juventus pada enam hari kemudian.

Apesnya, posisi runner-up tersebut bertahan hingga akhir musim. Dengan kata lain, gelar juara La Beneamata yang digenggam selama empat musim berurutan, harus rela diberikan kepada saudara sekota; AC Milan.

Jika dicermati, sejatinya tak ada yang kurang dengan materi pemain Inter musim 2010-2011 tersebut. Mereka masih mempertahankan pilar-pilar utama peraih treble winner musim 2009-2010. Nama-nama seperti Esteban Cambiasso, Dejan Stankovic, Wesley Sneijder, Samuel Eto’o, Diego Milito, Lucio, Maicon, Javier Zanetti, dan Walter Samuel, masih dipertahankan.

Lalu apa yang membuat I Nerazzurri gagal juara pada musim 2010-2011? Persoalannya sederhana. Faktor motivasi dan konsentrasi tim yang tak konsisten. Itu saja.

Belajar dari pengalaman pahit Inter musim 2010-2011 tersebut, tuntutan ekstra waspada pada musim ini, bukanlah hal yang berlebihan. Patut diketahui, raihan empat kemenangan beruntun dan status capolista awal musim 2015-2016, tak disertai dengan catatan yang mengagumkan.

Maksudnya begini. Meski selalu menang, hasil akhirnya tak ‘bombastis.’ Tiga kemenangan hanya berakhir dengan skor tipis 1-0. Tepatnya kala melumat Atalanta, AC Milan, dan Chievo. Kemudian unggul 2-1 ketika melawat ke kandang tim promosi, Carpi.

Itu artinya lini depan Inter belum meyakinkan. Sampai dengan pekan ke-4, produktivitas  I Nerazzurri baru bisa melesakkan lima gol. Statistik itu masih kalah dibandingkan torehan gol Torino, Sassuolo, AS Roma, Sampdoria, Palermo, Napoli, Atalanta, AC Milan, dan Empoli.

Khusus soal ketajaman tim, allenatore Roberto Mancini memang telah membuat putusan hebat dengan mendatangkan pemain-pemain baru yang pas dengan kebutuhan tim. Stevan Jovetic, Adem Ljajic, dan Ivan Perisic, telah memberikan warna yang berbeda saat tim harus tampil menyerang.

Jovetic yang sudah lama mengenal kultur Serie-A bersama Fiorentina, seolah-olah memberikan jaminan yang berbeda di lini depan. Dia sudah mengoleksi tiga gol. Tapi mengandalkan bomber berumur 25 tahun itu saja belum cukup. Cepat atau lambat, karakter permainan Jovetic akan mudah dipahami bek-bek kontestan Serie-A yang rata-rata berteknik tinggi dan tanpa kompromi.

Terlepas dari belum maksimalnya ketajaman tim, fakta berbeda justru ditunjukkan pada solidnya pertahanan. Sejauh ini, Inter tercatat sebagai tim yang paling solid lini pertahanannya. Hingga giornata ke-4, mereka baru kebobolan satu gol. Berbeda dengan Torino yang sudah kemasukan empat gol, atau Lazio yang sudah kebobolan 10 gol!

Khusus catatan paling sedikit kebobolan inilah yang sepertinya harus dipertahankan Mancini. Itu dikarenakan dalam sejarah gelar juara Serie-A, tim yang paling sedikit kebobolan kerap menjadi juara pada akhir musim. Bukti sahih telah ditunjukkan Juventus dalam dua musim terakhir. I Bianconeri hanya kebobolan 24 gol pada musim 2014-2015 dan cuma kemasukan 23 gol pada musim sebelumnya.

Hanif Marjuni
Pemerhati Sepak Bola

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Arry AnggadhaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan