Liputan6.com, Jakarta - Thailand mendesak perusahaan untuk memangkas ekspor telur ayam 30-50% hingga Desember akibat banyak ayam yang mati setelah banjir besar. Wakil Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Jirawuth Suwanna-arj mengatakan Selasa, 6 Oktober 2026, banjir tersebut menerjang peternakan ayam di area Provinsi Chachoengsao.
Melansir VnExpress, Kamis (8/10/2026), lokasi ini terletak sekitar dua jam perjalanan ke arah timur dari ibu kota Bangkok, dan banjir tersebut telah memusnahkan sekitar 3 juta ekor ayam betina.
Sehingga, departemen itu segera mencari area yang tidak terdampak agar bisa menyuplai telur ke penjual ritel. Mereka juga bekerja dengan agensi lain untuk memperpanjang masa hidup ayam petelur dari 80 minggu ke 85 minggu demi menjaga pasokan telur, ujar Jirawuth.
Advertisement
Lalu, mereka meminta Asosiasi Produsen Telur dan peternakan besar untuk mematok harga sekitar US$ 0,12, atau Rp 2.147 (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.890), tambah Jirawuth.
Tahun lalu, Thailand mengekspor telur senilai US$ 50,46 juta atau Rp 902,6 miliar, terutama ke Singapura yang mencakup 79% dari totalnya. Sementara, Hong Kong menerima 9%, menurut data menteri pertanian Thailand.
Pasalnya, sejak 16 September, telah terjadi kebanjiran di 51 provinsi, termasuk Bangkok, yang menghilangkan 31 jiwa, menurut Kementerian Dalam Negeri Thailand.
Bangkok dinyatakan sebagai zona rawan bencana akhir bulan lalu setelah mendapat 320 mm hujan lebih dari tiga hari, yakni total dari yang biasanya diterima selama September.
Selain itu, dari 9-13 Oktober, wilayah timur dan tengah Thailand, termasuk Bangkok dan pinggir kota, juga beberapa bagian di selatan diperkirakan akan mengalami kenaikan curah hujan, menurut agensi cuaca di sana.
Â
Banjir Bangkok Diprediksi Rugikan Ekonomi Thailand hingga Rp 5,8 Triliun
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359316/original/062875500_1790496810-Untitled.jpg)
Sebelumnya, ribuan warga mengungsi di pusat-pusat evakuasi ibu kota Thailand, Bangkok, karena sebagian wilayahnya masih terendam banjir usai hujan lebat akhir pekan lalu. Akibat banjir juga berdampak terhadap ekonomi Thailand.
Seluruh permukiman terendam dan jaringan drainase kewalahan. Curah hujan mencapai 320 mm dalam dua hingga tiga hari, hampir setara dengan curah hujan yang biasa diterima sepanjang September.
"Banjir ini diperkirakan memangkas 0,3 poin persentase dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun ini, menurunkan pertumbuhan menjadi 2,1 persen, dan memangkas pertumbuhan kuartal ketiga sekitar 0,5 poin persentase menjadi 1,7%," kata seseorang dari Departemen Ekonomi Universitas Rangsit, Aat Pisanwanich, dikutip dari VnExpress International, Selasa (29/9/2026).
Sekretaris Tetap Kementerian Dalam Negeri Thailand Unsit Sampuntharat menuturkan, lebih dari 80.000 warga yang tinggal di area banjir tidak bisa meninggalkan rumah mereka. Ia menambahkan, dapur umum keliling dan perahu tengah dikerahkan untuk membantu.
Bangkok menjadi salah satu dari 41 provinsi di Thailand yang dilanda banjir sejak 16 September, menewaskan sedikitnya delapan orang dan berdampak pada lebih dari 580.000 rumah.
Banjir ini diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi setidaknya 11 miliar baht atau Rp 5,8 triliun (asumsi kurs baht terhadap rupiah 535.5) secara nasional, dan berpotensi terus bertambah jika situasi tidak kunjung membaik.
Ekonomi terbesar ketiga Asia Tenggara ini sebelumnya sudah tertinggal dari negara-negara sekawasan sejak pandemi Covid-19. Thailand tumbuh 1,9% secara tahunan pada kuartal kedua 2026, masih turun tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 2,8%.
Advertisement
Ribuan Warga Mengungsi, Waduk di Rayong Meluap
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359038/original/057950200_1790476868-Untitled.jpg)
Bangkok dan wilayah timur diperkirakan menanggung dampak paling berat, terutama bisnis grosir dan ritel. Sementara itu, sektor industri dan pertanian diperkirakan terdampak di wilayah lain. Aat menyebut kondisi ini bisa memperlambat pemulihan ekonomi Thailand secara keseluruhan.
Warga terpaksa mengarungi air setinggi pinggang di kawasan Bang Kapi, salah satu lingkungan terparah di Bangkok, untuk membeli kebutuhan pokok. Sejumlah pedagang bahkan mendirikan lapak dengan kotak plastik dan drum yang mengapung.
Sedikitnya 5.901 orang di Bangkok telah dipindahkan ke 234 pusat evakuasi. Kota ini berdiri di atas delta sungai berlumpur lunak hanya 1,5 meter di atas permukaan laut dan tenggelam beberapa milimeter setiap tahun.
Lebih jauh ke timur, di provinsi pesisir Rayong yang berbatasan dengan kawasan industri besar, otoritas memerintahkan evakuasi pada 28 September. Langkah ini diambil setelah air banjir membuat dua waduk melampaui kapasitasnya.
Pada 2025, banjir dahsyat di wilayah selatan Thailand menewaskan sedikitnya 145 orang dan merendam lebih dari 33.000 rumah. Bencana itu turut merusak fasilitas penting seperti sekolah, rumah sakit, dan jalan raya.
Â
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368500/original/084408500_1791437213-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-08T122327.942.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367891/original/050720300_1791366349-Your_paragraph_text__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3102139/original/023566000_1586872671-buayo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5360581/original/027882600_1758710334-prabowo_anies.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2523097/original/072242400_1544599817-thailand.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412040/original/046833700_1479720100-thailand.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3422244/original/091053300_1617783755-079120000_1577866352-20200101-Ciliwung-Meluap_-Banjir-Rendam-Kawasan-Rawajati-6.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3086360/original/092379200_1585227859-uang_dollar.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4883223/original/030233500_1720093649-20240704-IHSG-ANG_5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1592251/original/098062600_1494590046--mayat.jpg)