Panel Surya RI Kena Tarif 114%, Tak Bisa Lagi Ekspor ke AS

Ekspor panel surya RI ke AS terhenti imbas tarif 104%. Menko Airlangga siapkan megaproyek PLTS 100 GW untuk pasar domestik

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 15:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa ekspor panel surya buatan Indonesia ke Amerika Serikat (AS) kini terancam terhenti. Penyebabnya, AS mengenakan tarif bea masuk yang sangat tinggi, mencapai 114%.

Padahal, kapasitas produksi panel surya di dalam negeri sudah menembus 11 gigawatt (GW) dan sempat mencatatkan lonjakan ekspor lebih dari 100% ke Negeri Paman Sam dalam kurun waktu satu tahun.

"Ekspor Indonesia ke Amerika naik lebih dari 100% dalam satu tahun. Tapi dampaknya, Indonesia langsung dikenakan bea masuk solar panel sebesar 114%. Dengan begitu, dipastikan kita tidak bisa lagi ekspor solar panel ke Amerika," ujar Airlangga di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Meski akses pasar AS menyempit, pemerintah tak kehabisan akal. Pemerintah kini mengalihkan fokus untuk memperkuat penyerapan pasar dalam negeri, salah satunya lewat megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW.

"Bapak Presiden mendorong peningkatan domestic demand melalui agenda pendorongan 100 gigawatt peak solar panel," kata Airlangga.

Proyek ini nantinya bakal dikolaborasikan dengan hasil hilirisasi nikel melalui Battery Energy Storage System (BESS). Langkah ini sekaligus memperkuat ekosistem baterai berbasis nikel yang sedang digenjot Indonesia di tengah persaingan global dengan baterai berbasis litium.

Momentum Emas Industri Lokal

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian, Elen Setiadi, juga menilai tekanan tarif bea masuk AS yang dilaporkan mencapai 114% pada kebijakan pabean tertentu sebagai momentum emas untuk menyerap pasokan modul surya di dalam negeri. 

"Industri solar panel kita sebelumnya diekspor ke Amerika. Namun karena ada pengenaan tambahan bea masuk hingga 114%, potensi ini sebenarnya bisa kita serap di dalam negeri," jelas Elen.

Kesiapan manufaktur nasional pun dinilai sangat memadai untuk menopang target tersebut. Dengan kapasitas produksi 11 GW per tahun, industri lokal siap mengejar proyek PLTS 100 GW.

Megaproyek PLTS 100 GW ini diproyeksikan tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi juga berpotensi menciptakan 5,5 juta lapangan kerja hijau, menekan emisi hingga 140 juta ton CO2, serta menghemat anggaran negara sekitar Rp74 triliun per tahun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6