Imbas Perang Timur Tengah, Indonesia Terpaksa Berburu Pasokan BBM

Kehilangan 25 persen sumber impor akibat perang, pemerintah terpaksa berburu stok BBM ke luar negeri demi jaga cadangan nasional.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 13:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menempuh strategi khusus dengan melakukan metode hunting atau berburu pasokan bahan bakar minyak (BBM) ke negara-negara yang memiliki stok berlebih. Langkah darurat ini diambil demi memastikan ketersediaan BBM nasional tetap aman di tengah memanasnya geopolitik global.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa perubahan strategi ini terpaksa dilakukan karena pola pengadaan lama melalui sistem lelang tak lagi efektif.

"Yang kami lakukan sekarang adalah hunting untuk menjaga agar stok nasional itu ada," ucap Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, yang dipantau dari kanal resmi Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (5/10/2026). 

Ia menjelaskan bahwa peserta lelang mendadak sepi sejak konflik di Timur Tengah meletus. Bahkan, Indonesia harus kehilangan sekitar 25% sumber impor sejak perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran pecah pada awal 2026.

"Sebelumnya Pertamina itu melakukan lelang, sekarang lelang itu relatif pesertanya tidak ada. Jadi, kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok," kata Laode.

Konsekuensinya, harga beli BBM dari metode hunting ini berpotensi merangkak naik dibandingkan pengadaan dalam kondisi normal.

"Kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok. Kita beli dengan harga yang akan bisa berpotensi lebih tinggi daripada harga kalau kita lakukan dengan pengadaan biasa," tambah Laode.

Jaga Stok BBM

Kendati demikian, strategi ini berhasil menjaga ketahanan stok BBM nasional berada di kisaran aman untuk 18–20 hari ke depan.

Hal senada ditegaskan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia memastikan cadangan BBM nasional tetap terjaga di atas standar minimal 18–21 hari. Sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto, pemerintah juga menjamin harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir tahun. 

Namun, untuk BBM nonsubsidi, Bahlil menegaskan bahwa harganya akan tetap fluktuatif menyesuaikan dinamika pasar internasional. 

"Harga BBM nonsubsidi itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu naik, ICP (Indonesian Crude Price)-nya otomatis dia akan naik. Tetapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia akan melakukan koreksi," jelas Bahlil.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6